Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ramadhan Tiba, Gaza Masih Terluka

Selasa, 24 Februari 2026 | 07:14 WIB Last Updated 2026-02-24T00:14:13Z

TintaSiyasi.id -- Ramadhan tahun ini kembali datang. Di banyak tempat, umat Islam menyambutnya dengan suka cita. Masjid mulai ramai, lantunan Al-Qur’an terdengar, meja sahur dan berbuka disiapkan dengan penuh syukur. Namun di saat yang sama, ada saudara-saudara kita di Palestina yang masih menyambut Ramadhan di tengah reruntuhan dan suara ledakan. 

Belakangan, muncul laporan yang semakin mengguncang nurani. Israel diduga menggunakan senjata termal dan termobarik dalam agresinya di Jalur Gaza. Senjata jenis ini mampu menghasilkan panas dan gelombang ledakan ekstrem hingga membuat jasad korban seakan menguap atau hilang tanpa jejak. CNN Indonesia (14/02/26) mengungkap dugaan penggunaan senjata pemusnah tersebut terhadap warga Gaza. Investigasi Al Jazeera dalam laporan The Rest of the Story bahkan menyebut sedikitnya 2.842 warga Palestina dinyatakan hilang sejak agresi dimulai pada Oktober 2023. Angka itu bukan sekadar statistik, itu adalah manusia, ayah, ibu, dan anak-anak yang lenyap tanpa kabar.

Ironisnya, serangan terus berlangsung meski gencatan senjata diumumkan. Perempuan dan anak-anak kembali menjadi korban, baik luka-luka maupun kehilangan nyawa. Dunia internasional mengecam, menyebut pelanggaran HAM, mengutuk dalam forum-forum resmi. Namun kecaman itu tak pernah benar-benar menghentikan bom yang terus berjatuhan.

Penggunaan senjata termobarik menunjukkan wajah kebiadaban modern. Ini bukan lagi sekadar konflik bersenjata, melainkan pembantaian sistematis. Ketika warga sipil menjadi sasaran, ketika tubuh manusia dihancurkan hingga tak berjejak, maka istilah yang tepat bukan lagi “perang”, melainkan genosida. Kejahatan seperti ini tidak lahir dari kesalahan teknis, tetapi dari ideologi penjajahan yang memang ingin melenyapkan.

Lebih menyakitkan lagi, dunia yang mengaku menjunjung kemanusiaan ternyata tak berdaya. Negara-negara besar yang selama ini berbicara soal demokrasi dan HAM justru bungkam atau bahkan mendukung. Mekanisme hukum internasional tak mampu memberi perlindungan nyata. Gaza kembali dibiarkan sendirian.

Kejahatan sebesar ini tidak bisa diselesaikan dengan sekadar seruan damai. Luka yang ditorehkan terlalu dalam. Dalam pandangan Islam, membela kaum muslimin yang diserang adalah kewajiban. Allah SWT berfirman, “Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak…” (QS. An-Nisa: 75). Ayat ini menegaskan bahwa pembelaan terhadap kaum tertindas bukan pilihan emosional, melainkan perintah syariat.

Karena itu, memerangi penjajah yang telah membantai kaum muslimin adalah kewajiban. Tidak boleh ada sikap mengalah atau memberikan ruang bagi penjajahan terus berlangsung. Hukum jihad harus dipahami secara benar sebagai upaya pembelaan dan penghentian kezaliman. Namun jihad bukan tindakan sporadis tanpa arah. Ia membutuhkan kekuatan yang terorganisir dan kepemimpinan yang menyatukan.

Umat Islam memiliki jumlah besar dan potensi yang luar biasa. Tetapi tanpa kesatuan kepemimpinan, kekuatan itu tidak terarah. Di sinilah pentingnya kepemimpinan Islam yang mampu menyatukan dan melindungi kaum muslimin dimanapun mereka berada.

Ramadhan seharusnya menjadi bulan yang menguatkan kepedulian dan keberanian kita. Palestina bukan hanya kabar dari jauh. Ia adalah luka umat yang terus menganga. Dan selama kezaliman masih berlangsung, perjuangan untuk menghadirkan keadilan tidak boleh berhenti. Wallahu a'lam.

Oleh: Azhar Nasywa 
(Aktivis Mahasiswa)

Opini

×
Berita Terbaru Update