Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Iringilah Perilakumu dengan Cahaya Tauhid, Syariat, dan Takwa

Selasa, 24 Februari 2026 | 09:24 WIB Last Updated 2026-02-24T02:24:29Z
TintaSiyasi.id -- Jalan Keselamatan Ruhani di Tengah Gelombang Zaman

Di tengah zaman yang riuh oleh pencitraan, pujian, dan ambisi, manusia sering kehilangan pusat gravitasinya. Ia bergerak, tetapi tidak tahu menuju siapa. Ia beramal, tetapi tidak tahu untuk siapa. Ia berbicara tentang kebaikan, tetapi tidak selalu berada dalam cahaya kebenaran.

Dalam kondisi seperti inilah, nasihat emas Syeikh Abdul Qadir al-Jailani menggema melintasi abad:
“Iringilah perilakumu dengan cahaya tauhid, syariat, dan takwa. Karena cahaya itu dapat menjagamu agar tidak terjatuh ke dalam jaring hawa nafsu, syetan, dan syirik atas makhluk.”
Nasihat ini bukan sekadar etika spiritual, tetapi fondasi peradaban iman.

I. Tauhid: Cahaya Pembebasan dari Perbudakan Dunia
Tauhid adalah inti agama. Ia bukan hanya kalimat yang diucapkan, tetapi kesadaran eksistensial bahwa tiada yang berhak ditaati, dicintai, ditakuti, dan diharapkan secara mutlak selain Allah.
Allah berfirman:
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162).

Tauhid membebaskan manusia dari:
• Ketergantungan kepada pujian makhluk
• Ketakutan kepada kekuasaan manusia
• Ambisi yang membakar keikhlasan
Ketika tauhid redup, manusia mudah tergelincir kepada syirik halus: mencari validasi manusia lebih dari ridha Allah. Di era media sosial, tauhid sering diuji oleh popularitas. Amal menjadi tontonan. Dakwah menjadi branding. Ibadah menjadi panggung.
Padahal tauhid sejati adalah kesunyian hati yang hanya memandang Allah.
Tauhid adalah kemerdekaan ruhani.

II. Syariat: Pagar Ilahi yang Menjaga Arah

Cinta tanpa aturan akan tersesat. Semangat tanpa syariat akan liar. Spiritualitas tanpa hukum akan menyimpang.
Syariat adalah bentuk kasih sayang Allah agar manusia tidak salah jalan. Ia bukan beban, tetapi bimbingan. Ia bukan pengekang, tetapi penyelamat.

Allah berfirman:
“Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan itu, maka ikutilah ia dan janganlah mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18).

Banyak orang berbicara tentang hakikat, tetapi melupakan syariat. Banyak yang mengaku cinta Allah, tetapi menabrak batas-batas-Nya. Ini adalah tipuan nafsu yang halus.
Syariat menjaga:
• Tauhid agar tidak menyimpang
• Ibadah agar tidak rusak
• Akhlak agar tidak liar
Tanpa syariat, kebaikan hanya persepsi. Dengan syariat, kebaikan memiliki standar ilahi.

III. Takwa: Kesadaran Batin yang Menghidupkan Amal

Takwa adalah ruh dari tauhid dan syariat. Ia adalah kesadaran bahwa Allah selalu melihat, mendengar, dan mengetahui.
Takwa bukan hanya takut kepada neraka, tetapi malu kepada Allah.

Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Takwa menjadikan seseorang:
• Jujur ketika bisa berkhianat
• Sabar ketika bisa membalas
• Tunduk ketika dipuji
• Rendah hati ketika memiliki kekuasaan
Tanpa takwa:
• Ilmu menjadi kesombongan
• Amal menjadi riya’
• Dakwah menjadi ambisi kekuasaan
Takwa adalah cahaya batin yang menjaga amal tetap hidup.

IV. Tiga Jaring Besar: Nafsu, Syetan, dan Syirik Makhluk

Syeikh Abdul Qadir al-Jailani memperingatkan tiga jaring yang selalu mengintai:
1. Hawa Nafsu
Musuh internal yang paling dekat. Ia membungkus keburukan dengan kenikmatan.
2. Syetan
Musuh eksternal yang licik. Ia tidak memaksa, tetapi membisikkan.
3. Syirik Makhluk
Ketergantungan berlebihan kepada manusia, jabatan, dan harta.
Jika tauhid redup, syariat dilalaikan, dan takwa melemah, maka tiga jaring ini akan menjerat perlahan, tanpa terasa.

V. Relevansi di Era Modern
Zaman hari ini bukan sekadar zaman teknologi, tetapi zaman ujian keikhlasan.
• Popularitas bisa menggerus tauhid
• Relativisme bisa melemahkan syariat
• Kenikmatan instan bisa memadamkan takwa
Kita menyaksikan orang yang tampak religius, tetapi rapuh secara ruhani. Banyak yang berilmu, tetapi miskin adab. Banyak yang berdakwah, tetapi kehilangan keikhlasan.
Maka nasihat ini menjadi kompas spiritual:
Jangan bergerak tanpa cahaya tauhid.
Jangan beramal tanpa bimbingan syariat.
Jangan hidup tanpa kesadaran takwa.

VI. Penutup: Menjadi Hamba yang Berjalan dalam Cahaya
Allah berfirman:
“Apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang dengan cahaya itu ia berjalan di tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan?” (QS. Al-An’am: 122).

Cahaya itu adalah tauhid, syariat, dan takwa.
Marilah kita memohon kepada Allah agar:
• Hati kita diterangi tauhid yang murni
• Langkah kita dibimbing syariat yang lurus
• Jiwa kita dihiasi takwa yang hidup
Karena yang menyelamatkan bukanlah tampilan luar, bukan pula pujian manusia, tetapi cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.

Semoga kita termasuk hamba yang berjalan di bawah cahaya-Nya, bukan tersesat dalam bayang-bayang nafsu.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Dr Nasrul Syarif, M.Si.  
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update