(Renungan Sufistik Ramadhan)
TintaSiyasi.id -- Ramadhan bukan sekadar bulan dalam kalender Hijriyah. Ia adalah peristiwa kosmik, momentum spiritual agung yang mengguncang langit dan bumi sekaligus. Ketika hilal Ramadhan menampakkan diri, yang bergetar bukan hanya hati orang-orang beriman, tetapi seluruh jagat raya ikut berseru dalam sukacita ruhani.
Kitab Durratun Nāsihīn menggambarkan sebuah pemandangan yang tidak tertangkap oleh mata kasar, namun dapat disaksikan oleh hati yang hidup. Saat hilal Ramadhan muncul, Arsy, Kursi, para malaikat, dan seluruh makhluk langit berseru: “Beruntunglah umat Muhammad ﷺ atas kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada mereka.”
Ini bukan pujian biasa. Ini adalah pengakuan kosmik bahwa umat Muhammad ﷺ diberikan kehormatan besar melalui bulan Ramadhan.
جاء في كتاب دُرَّةُ النَّاصِحِينَ:
إذا ظهر هلال شهر رمضان نادى العرش والكرسي والملائكة وسائر الخلائق: طوبى لأمة محمد ﷺ بما أكرمهم الله تعالى به في هذا الشهر. وتستغفر لهم الشمس والقمر والنجوم والطير في الهواء والحيتان في الماء وكل ذي روح في البر والبحر، ليلاً ونهاراً، إلا الشياطين المردة. فإذا أصبح أول يوم من رمضان، لم يترك الله عز وجل عبداً من أمة محمد ﷺ إلا غفر له. ثم يقول الله تعالى للملائكة: اجعلوا صلاتكم وتسبيحكم في شهر رمضان لأمة محمد ﷺ.
Ketika Alam Semesta Menjadi Doa
Dalam perspektif sufistik, Ramadhan adalah saat seluruh alam semesta berubah menjadi dzikir dan istighfar. Matahari, bulan, bintang-bintang, burung-burung di udara, ikan-ikan di lautan, bahkan seluruh makhluk bernyawa di darat dan laut — siang dan malam memohonkan ampunan bagi umat Muhammad ﷺ.
Betapa agungnya kedudukan seorang mukmin di bulan ini. Bahkan makhluk yang tidak dibebani syariat pun ikut menjadi perantara rahmat. Alam semesta seolah berkata: “Wahai manusia, bangkitlah. Kami saja beristighfar untukmu, mengapa engkau masih lalai?”
Namun satu golongan dikecualikan: setan-setan yang terkutuk. Mereka dibelenggu, dibungkam, dan dilemahkan. Maka siapa pun yang masih enggan mendekat kepada Allah di bulan Ramadhan, sesungguhnya ia sedang berhadapan bukan dengan setan, tetapi dengan hawa nafsunya sendiri.
Ampunan Massal di Pagi Ramadhan
Puncak keindahan rahmat Ramadhan tergambar pada pagi hari pertama. Dalam riwayat tersebut disebutkan: “Allah SWT tidak membiarkan seorang pun dari umat Muhammad ﷺ kecuali Dia mengampuninya.”
Ini adalah ampunan massal, rahmat yang turun tanpa seleksi amal, tanpa syarat prestasi. Bahkan mereka yang penuh dosa, selama masih menyandang identitas sebagai umat Muhammad ﷺ dan tidak menolak rahmat Allah, disapu bersih oleh ampunan-Nya.
Inilah wajah Allah yang diperkenalkan Ramadhan:
Maha Pengampun sebelum diminta
Maha Pemurah sebelum disembah
Maha Penyayang bahkan sebelum hamba bertobat
Malaikat “Dipindahkan” untuk Umat Muhammad ﷺ
Keistimewaan Ramadhan mencapai puncaknya ketika Allah berfirman kepada para malaikat: “Berikanlah shalat dan tasbih kalian di bulan Ramadhan untuk umat Muhammad ﷺ.”
Bayangkan, tasbih makhluk suci yang tidak pernah bermaksiat, shalat makhluk langit yang tidak pernah lalai, dihadiahkan untuk manusia yang penuh dosa.
Inilah logika cinta Ilahi, bukan logika hitung-hitungan amal. Dalam kacamata tasawuf, Ramadhan adalah bulan kasih sayang Allah yang meluap, bukan bulan ketakutan.
Pesan Ruhani untuk Kita
Ramadhan bukan hanya soal:
Lapar dan haus
Tarawih dan tilawah
Sahur dan berbuka
Tetapi tentang menghidupkan kesadaran bahwa kita sedang dimuliakan oleh langit dan bumi sekaligus.
Jika seluruh alam memohonkan ampunan untuk kita, maka sungguh celaka orang yang menyia-nyiakan Ramadhan. Bukan karena ia banyak dosa, tetapi karena ia tidak mau membuka pintu rahmat yang sudah terbuka lebar.
Penutup: Jadilah Hamba yang Layak Dimuliakan
Wahai jiwa yang lelah oleh dunia,
Ramadhan datang bukan untuk membebanimu,
tetapi untuk mengangkatmu kembali kepada Allah.
Mari kita sambut Ramadhan dengan:
Hati yang tunduk
Dosa yang diakui
Harapan yang besar
Cinta yang jujur kepada Allah
Karena ketika hilal Ramadhan terbit,
seluruh langit berseru untuk kita —
maka jangan biarkan hati kita justru berpaling.
“Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang pantas menerima shalat dan tasbih para malaikat, dan ampunan-Mu yang tak berbatas.”
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.
Dr. Nasrul Syarif M.Si.
Penulis dan Akademisi, Konsultan Pendidikan dan SDM.