TintaSiyasi.id -- Era digital bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan perubahan peradaban. Cara manusia berpikir, berinteraksi, belajar, dan membangun makna hidup kini sangat dipengaruhi oleh layar, algoritma, dan arus informasi tanpa henti. Dalam situasi ini, dakwah Islam tidak cukup hanya bertahan—tetapi harus melangsungkan kehidupan Islam secara utuh dan berkelanjutan.
Dakwah hari ini bukan sekadar ceramah di mimbar, melainkan ikhtiar peradaban agar nilai-nilai Islam tetap hidup, membumi, dan menuntun manusia di tengah hiruk-pikuk digital.
Makna “Melangsungkan Kehidupan Islam”
Melangsungkan kehidupan Islam berarti:
Menjaga aqidah tetap lurus
Menghidupkan ibadah dalam realitas modern
Menegakkan akhlak di ruang digital
Mewujudkan keadilan sosial dalam sistem kehidupan
Islam bukan hanya agama ritual, tetapi manhaj al-hayah (sistem hidup). Maka dakwah di era digital harus memastikan Islam tidak tereduksi menjadi simbol, slogan, atau konten viral semata.
Tantangan Dakwah di Era Digital
1. Banjir Informasi, Krisis Makna
Banyak konten, sedikit hikmah. Banyak suara, minim kebenaran.
2. Algoritma vs Hidayah
Apa yang viral belum tentu benar, apa yang benar sering tenggelam.
3. Otoritas Ilmu yang Kabur
Semua bisa bicara agama, meski tanpa sanad keilmuan dan adab.
4. Hedonisme Digital
Like, views, dan popularitas sering menggantikan keikhlasan.
Peluang Besar Dakwah Digital
Namun di balik tantangan, era digital adalah ladang pahala yang luas:
Dakwah menjangkau lintas negara dan generasi
Ilmu bisa diakses kapan saja
Pesan Islam bisa hadir di ruang privat manusia
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sampaikan dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)
Hari ini, “satu ayat” itu bisa berupa tulisan, video pendek, podcast, atau desain visual yang mencerahkan jiwa.
Prinsip Dakwah Islam di Era Digital
1. Ikhlas sebelum Viral
Dakwah bukan konten hiburan, tapi panggilan iman.
2. Ilmu sebelum Opini
Dakwah tanpa ilmu melahirkan kesesatan massal.
3. Hikmah sebelum Sensasi
Allah berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah…”
(QS. An-Nahl: 125)
4. Akhlak sebelum Argumen
Dunia digital haus teladan, bukan debat kusir.
Strategi Melangsungkan Kehidupan Islam secara Digital
Membangun Ekosistem Dakwah: masjid, pesantren, kampus, dan media digital terhubung
Menghidupkan Literasi Ruhani: tafsir, tadabbur, dan refleksi spiritual
Dakwah Kontekstual: Islam hadir menjawab krisis moral, ekologis, dan sosial
Mencetak Dai Digital Beradab: cakap teknologi, kokoh aqidah, lembut akhlak
Penutup: Dakwah sebagai Nafas Peradaban
Dakwah di era digital bukan sekadar mengikuti zaman, tetapi menuntun zaman. Bukan larut dalam arus, tetapi menjadi kompas. Ketika Islam didakwahkan dengan ilmu, hikmah, dan keteladanan, maka ia tidak akan punah oleh zaman—justru menghidupkan zaman.
Islam tidak menolak teknologi, tetapi menuntunnya.
Islam tidak anti modernitas, tetapi memurnikan arah peradaban.
Semoga dakwah kita menjadi sebab hidupnya iman, tegaknya akhlak, dan berlanjutnya kehidupan Islam hingga akhir zaman. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)