Pendahuluan: Akar Krisis Umat dan Dunia
Dunia hari ini tidak sedang mengalami krisis biasa. Ia bukan sekadar krisis ekonomi, politik, atau lingkungan. Lebih dalam dari itu, dunia sedang dilanda krisis ideologis—krisis qiyādah fikriyah (kepemimpinan pemikiran).
Manusia kehilangan arah hidup. Peradaban tampak maju, tetapi jiwa manusia kosong. Teknologi berkembang pesat, namun moral runtuh. Kekayaan melimpah, tetapi ketidakadilan menganga. Semua ini bukan kebetulan. Ia adalah buah dari ideologi yang memimpin kehidupan, namun bertentangan dengan fitrah manusia.
Dua ideologi besar yang mendominasi dunia modern—Komunisme dan Kapitalisme—ternyata sama-sama gagal memanusiakan manusia.
Qiyādah Fikriyah: Penentu Arah Kehidupan
Qiyādah fikriyah adalah ide sentral yang menjadi dasar berpikir manusia tentang:
• Hakikat kehidupan
• Tujuan hidup
• Standar benar dan salah
• Makna kebahagiaan
• Cara mengatur masyarakat dan negara
Ia bukan sekadar teori, tetapi penentu arah peradaban. Jika qiyādah fikriyah rusak, maka seluruh sistem—ekonomi, politik, pendidikan, bahkan budaya—akan rusak pula.
Karena itu, dakwah Islam sejatinya bukan hanya dakwah moral, tetapi dakwah ideologis: dakwah untuk mengganti kepemimpinan pemikiran yang menyimpang dengan kepemimpinan pemikiran yang lurus.
Komunisme: Ideologi yang Membunuh Ruh Manusia
1. Atheisme: Penolakan terhadap Fitrah Bertuhan
Komunisme berdiri di atas asas materialisme dialektis yang menolak keberadaan Tuhan dan wahyu. Dalam pandangan ini, agama dianggap “candu masyarakat”.
Padahal, fitrah paling dasar manusia adalah kebutuhan untuk bertuhan. Ketika Tuhan disingkirkan, manusia kehilangan:
• Makna hidup
• Tujuan eksistensi
• Orientasi moral
Allah ﷻ berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”
(QS. Ar-Rūm: 30)
Komunisme memaksa manusia hidup bertentangan dengan fitrahnya sendiri. Akibatnya bukan pembebasan, tetapi penindasan sistemik.
2. Manusia Direduksi Menjadi Alat Produksi
Dalam komunisme, individu hanyalah bagian dari kolektivitas ekonomi. Manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk bermartabat, tetapi sekadar:
• Tenaga kerja
• Angka statistik
• Mesin produksi negara
Inilah sebabnya sejarah komunisme selalu diwarnai:
• Represi politik
• Pembungkaman kebebasan berpikir
• Kekerasan atas nama “kepentingan rakyat”
Komunisme mengklaim menciptakan keadilan, tetapi meniadakan hakikat kemanusiaan.
Kapitalisme: Ideologi yang Memuja Nafsu dan Materi
Jika komunisme membunuh ruh, maka kapitalisme menyuburkan nafsu.
1. Kebahagiaan Direduksi Menjadi Kepemilikan
Kapitalisme menjadikan materi sebagai pusat kehidupan. Nilai manusia diukur dari:
• Kekayaan
• Produktivitas
• Konsumsi
Manusia dinilai bukan dari ketakwaannya, akhlaknya, atau kontribusinya bagi umat, tetapi dari apa yang ia miliki.
Padahal fitrah manusia tidak pernah puas dengan materi. Semakin banyak harta, semakin besar kehampaan jika tidak disertai makna.
2. Ketimpangan Dinormalisasi sebagai Takdir Pasar
Kapitalisme membiarkan yang kuat menguasai dan yang lemah tersingkir. Ketimpangan dianggap wajar, bahkan perlu, demi “pertumbuhan ekonomi”.
Padahal fitrah manusia mencintai keadilan dan membenci kezaliman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.”
Kapitalisme justru menciptakan dunia di mana:
• Segelintir orang hidup berlebihan
• Mayoritas manusia berjuang untuk bertahan
Ini bukan peradaban beradab, tetapi peradaban predator.
Dampak Qiyādah Fikriyah yang Menyimpang
Ketika manusia dipimpin oleh ideologi yang bertentangan dengan fitrah, lahirlah:
• Krisis spiritual global
• Depresi dan bunuh diri meningkat
• Kerusakan lingkungan masif
• Konflik sosial dan perang kepentingan
• Manusia terasing dari dirinya sendiri
Inilah paradoks zaman modern: segala sesuatu maju, kecuali kemanusiaan.
Islam: Qiyādah Fikriyah yang Selaras dengan Fitrah
Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi ideologi ilahiyah yang memimpin seluruh aspek kehidupan.
Islam:
• Mengakui kebutuhan ruh dan jasad
• Mengatur kepemilikan tanpa menindas
• Menjadikan harta sebagai amanah
• Menjadikan ibadah sebagai tujuan hidup
Allah ﷻ berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)
Islam tidak ekstrem seperti komunisme, tidak liar seperti kapitalisme. Ia wasathiyah, seimbang, realistis, dan sesuai fitrah manusia.
Penutup: Dakwah Ideologis sebagai Keniscayaan
Krisis umat hari ini tidak akan selesai hanya dengan:
• Ceramah moral
• Motivasi sesaat
• Perbaikan individu semata
Selama umat Islam masih dipimpin oleh qiyādah fikriyah asing yang bertentangan dengan fitrah, maka kerusakan akan terus berulang.
Dakwah Islam harus kembali menjadi dakwah ideologis—mengajak manusia:
• Berpikir dengan Islam
• Menilai realitas dengan Islam
• Mengatur kehidupan dengan Islam
Sebab hanya Islam yang datang dari Pencipta fitrah, dan hanya Dia yang paling tahu apa yang terbaik bagi manusia.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)