Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Perintah Bertakwa, Mencari Wasilah, dan Berjihad

Selasa, 24 Februari 2026 | 09:34 WIB Last Updated 2026-02-24T02:35:05Z
TintaSiyasi.id -- Hikmah dan Penjelasan Tafsir QS. Al-Māidah: 35
Allah Ta‘ala berfirman:
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan pendekatan) kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Māidah: 35).

Ayat ini adalah manhaj kehidupan. Ia bukan sekadar perintah ritual, tetapi peta jalan menuju al-falāḥ, yaitu keberuntungan dunia dan akhirat. Tiga kata kunci menjadi poros ayat ini, yaitu takwa, wasilah, dan jihad. Ketiganya membentuk bangunan spiritual, intelektual, dan sosial seorang mukmin.

1. Takwa: Pondasi Kesadaran Ilahiah

Para mufassir seperti Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan bahwa takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh keikhlasan dan rasa takut kepada-Nya.

Sementara Al-Qurthubi dalam Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’an menegaskan bahwa takwa adalah inti segala amal. Tanpa takwa, amal menjadi kering dari ruh.

Takwa bukan hanya ketakutan, tetapi kesadaran permanen bahwa Allah melihat, mendengar, dan mengetahui segala yang tersembunyi. Takwa adalah pakaian batin. Jika iman adalah tubuh, maka takwa adalah pakaiannya. Tanpa takwa, iman menjadi telanjang.

Dalam perspektif sufistik, takwa adalah penjagaan hati dari selain Allah. Ia adalah filter ruhani yang membuat seorang hamba selalu menimbang:

Apakah ini diridhai Allah?

Apakah ini mendekatkan atau menjauhkan?

Takwa melahirkan ketenangan, karena orang yang bertaqwa tidak lagi dikendalikan oleh dunia, tetapi dikendalikan oleh nilai ilahiah.

2. Wasilah: Jalan Menuju Kedekatan Ilahi

Frasa “wabtaghū ilaihi al-wasīlah” memuat makna yang sangat dalam.

Menurut Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīh al-Ghaib, wasilah adalah segala sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, baik berupa amal saleh, ibadah, ilmu, maupun kecintaan kepada orang-orang saleh.

Wasilah bukan sekadar perantara fisik, tetapi jalan ruhani. Ia adalah tangga menuju Allah. Tangga itu bisa berupa:

Shalat yang khusyuk

Sedekah yang ikhlas

Ilmu yang diamalkan

Doa yang tulus

Cinta kepada Nabi Saw.,. 

Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa wasilah adalah maqam tertinggi di surga yang diperuntukkan bagi Nabi Muhammad Saw., sebagaimana disebut dalam hadis sahih. Namun, dalam konteks ayat ini, mayoritas mufassir memahami wasilah sebagai amal yang mendekatkan kepada Allah.

Secara ideologis, ayat ini membantah sikap fatalistik. Allah memerintahkan kita untuk mencari wasilah. Artinya ada usaha, ada ikhtiar, ada perjuangan spiritual.

Seorang mukmin tidak cukup hanya mengaku cinta kepada Allah. Ia harus membuktikannya dengan wasilah amal.

3. Jihad: Totalitas Pengorbanan di Jalan Allah

Perintah ketiga adalah: “wajāhidū fī sabīlih”.

Menurut At-Tabari dalam Jāmi‘ al-Bayān, jihad mencakup segala bentuk kesungguhan dalam menaati Allah dan membela agama-Nya.

Jihad bukan semata perang fisik. Ia memiliki spektrum luas:

Jihad melawan hawa nafsu

Jihad melawan kebodohan dengan ilmu

Jihad melawan kemiskinan dengan kerja keras

Jihad melawan kemaksiatan dengan kesabaran

Dalam kerangka sufistik, jihad terbesar adalah jihad melawan diri sendiri (mujāhadah an-nafs). Hati adalah medan perang terbesar. Di sana terjadi pertempuran antara cahaya dan kegelapan.

Tanpa jihad, takwa menjadi lemah. Tanpa jihad, wasilah tidak akan ditemukan. Jihad adalah energi penggerak iman.

4. Struktur Spiritual Ayat: Dari Hati ke Perjuangan

Menariknya, ayat ini tersusun secara sistematis:

1. Tamwa → membersihkan hati.

2. Wasilah → mengisi hati dengan amal pendekatan.

3. Jihad → memanifestasikan iman dalam perjuangan nyata.

Inilah trilogi kebangkitan umat.

Jika umat hanya berbicara jihad tanpa takwa, lahirlah kekerasan tanpa ruh.
Jika hanya takwa tanpa jihad, lahirlah kesalehan individual tanpa dampak sosial.
Jika mencari wasilah tanpa takwa, lahirlah ritualisme kosong.

Ayat ini menyeimbangkan semuanya.

5. “La‘allakum tufliḥūn”: Janji Keberuntungan

Tujuan akhirnya adalah al-falāḥ—keberuntungan sejati.

Keberuntungan dalam Al-Qur’an bukan sekadar materi. Ia adalah:

Kemenangan iman

Ketenangan jiwa

Keberkahan hidup

Keselamatan akhirat

Orang yang bertakwa, mencari wasilah, dan berjihad, hidupnya terarah. Ia tidak mudah goyah oleh badai zaman. Ia kokoh karena sandarannya adalah Allah.

Refleksi Ideologis-Sufistik

Wahai umat Islam,

Ayat ini adalah seruan kebangkitan. Di tengah krisis moral, krisis identitas, dan krisis spiritual, Allah memanggil kita:

Perbaiki hatimu dengan takwa.

Bangun kedekatanmu dengan wasilah amal.

Bergeraklah dengan jihad yang benar dan bermartabat.

Kemenangan umat bukan lahir dari retorika, tetapi dari ketundukan kepada Allah.

Jika takwa menjadi budaya, wasilah menjadi kebiasaan, dan jihad menjadi karakter, maka umat ini akan kembali pada kemuliaannya.

Karena sesungguhnya, keberuntungan bukan milik yang paling kuat, tetapi milik yang paling dekat dengan Allah.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update