Mukadimah: Krisis Dunia, Kekeringan Jiwa
TintaSiyasi.id -- Kita hidup di zaman yang gaduh. Gedung menjulang tinggi, teknologi melesat cepat, informasi berlari tanpa henti. Namun di balik kemajuan itu, jiwa manusia justru terasa letih, kosong, dan kehilangan arah. Banyak yang tersenyum di luar, tetapi rapuh di dalam. Banyak yang tampak berhasil, tetapi gelisah saat sendiri.
Inilah ironi peradaban modern: maju secara material, namun miskin secara spiritual.
Tasawuf sejak awal telah mengingatkan kita: “Jika hati jauh dari Allah, maka sebesar apa pun dunia yang digenggam, ia akan terasa sempit.”
Islam datang bukan sekadar untuk mengatur perilaku lahiriah, tetapi membangun peradaban dari dalam jiwa manusia. Karena sejatinya, peradaban besar selalu berawal dari hati yang hidup.
Islam: Peradaban yang Dimulai dari Penyucian Jiwa
Islam tidak membangun peradaban dengan paksaan kekuasaan, tetapi dengan tazkiyatun nafs—penyucian jiwa. Rasulullah ﷺ memulai perubahan bukan dengan istana, melainkan dengan hati-hati yang bertauhid.
Allah berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9–10)
Inilah fondasi tasawuf:
membersihkan hati dari kesombongan, iri, cinta dunia yang berlebihan, lalu mengisinya dengan ikhlas, sabar, tawakal, dan mahabbah kepada Allah.
Ketika hati bersih, lahirlah:
Ilmu yang rendah hati
Kekuasaan yang adil
Kekayaan yang amanah
Budaya yang beradab
Peradaban Islam lahir dari jiwa-jiwa yang sujudnya panjang dan tanggung jawabnya besar.
Tauhid: Poros Peradaban yang Menghidupkan
Tasawuf sejati tidak pernah lepas dari tauhid murni. Justru tauhidlah yang membebaskan manusia dari perbudakan paling halus: perbudakan terhadap dunia, ego, dan hawa nafsu.
Seorang sufi berkata: “Engkau merdeka sejauh engkau tidak menggantungkan hatimu pada selain Allah.”
Peradaban tanpa tauhid akan melahirkan:
Ilmu tanpa hikmah
Kekuasaan tanpa akhlak
Kebebasan tanpa tanggung jawab
Sedangkan Islam membangun peradaban yang menyatukan langit dan bumi:
akal bekerja, hati bersujud, dan amal berjalan.
Inilah yang membuat peradaban Islam kokoh dan bermakna, bukan sekadar gemerlap sesaat.
Tasawuf dan Peradaban: Dari Mihrab ke Mimbar Kehidupan
Tasawuf bukan pelarian dari dunia, melainkan penjernihan niat dalam mengelola dunia. Para sufi besar justru adalah arsitek peradaban:
Imam Al-Ghazali membersihkan ilmu dari kesombongan intelektual.
Abdul Qadir al-Jailani membangkitkan ruh keikhlasan di tengah kekuasaan.
Ulama-ulama Nusantara berdakwah dengan kelembutan, adab, dan cinta.
Mereka membuktikan bahwa spiritualitas yang benar tidak menjauhkan dari realitas, tetapi membimbing realitas agar tetap berada di jalan Ilahi.
Peradaban Islam tumbuh karena:
Masjid menjadi pusat ruhani dan sosial
Ilmu menjadi jalan mendekat kepada Allah
Kekuasaan dipandang sebagai amanah, bukan kemuliaan
Krisis Umat Hari Ini: Banyak Amal, Sedikit Kehadiran Hati
Hari ini umat Islam rajin beramal, tetapi sering kehilangan rasa kehadiran Allah. Kita sibuk membangun citra, tetapi lupa membangun batin. Kita berdebat soal cabang, tetapi lalai pada akar.
Tasawuf mengingatkan dengan lembut: “Bukan banyaknya amal yang menyelamatkanmu, tetapi apakah amal itu mengantarkanmu kepada Allah.”
Peradaban tidak akan bangkit hanya dengan retorika kebangkitan, tetapi dengan taubat kolektif, kejujuran spiritual, dan kembali menjadikan Allah sebagai pusat hidup.
Islam Kaffah: Peradaban Ruhani yang Membumi
Islam kaffah bukan hanya syariat formal, tetapi keselarasan lahir dan batin:
Syariat menata perilaku
Akidah meneguhkan keyakinan
Tasawuf membersihkan hati
Ketiganya tidak boleh dipisahkan.
Ketika Islam dijalankan secara utuh, lahirlah peradaban yang:
Tegas dalam prinsip
Lembut dalam dakwah
Dalam dalam spiritualitas
Luas dalam rahmat
Inilah Islam yang dirindukan dunia: Islam yang menenangkan jiwa, menegakkan keadilan, dan memuliakan manusia.
Penutup: Jalan Pulang Menuju Peradaban Mulia
Peradaban mulia tidak dimulai dari gedung megah atau sistem canggih, tetapi dari hati yang kembali kepada Allah. Dari sujud yang jujur, dzikir yang hidup, dan amal yang ikhlas.
Tasawuf mengajarkan kita satu pelajaran agung: “Jika Allah telah menetap di hatimu, maka seluruh dunia akan tunduk dalam keteraturan.”
Maka marilah kita bangun kembali peradaban Islam—not hanya dengan tangan dan pikiran, tetapi dengan hati yang bersih dan ruh yang hidup.
Karena sejatinya:
Peradaban mulia hanya lahir dari manusia yang mengenal Tuhannya.
Dan hanya Islam yang mampu menuntun manusia menuju kemuliaan itu—di dunia dan di akhirat.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.