Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kebahagiaan yang Hilang Arah: Menemukan Kembali Ridha Allah sebagai Tujuan Hidup

Selasa, 03 Februari 2026 | 14:48 WIB Last Updated 2026-02-03T07:48:50Z
Pendahuluan: Ketika Manusia Mengejar yang Salah

Di tengah gemerlap dunia modern, manusia tampak semakin sibuk mengejar kebahagiaan. Ironisnya, semakin keras ia mengejar, semakin jauh kebahagiaan itu terasa. Harta bertambah, teknologi canggih, hiburan melimpah—namun kegelisahan justru merajalela. Banyak orang tersenyum di luar, tetapi rapuh di dalam.

Di sinilah Islam hadir bukan sekadar sebagai agama ritual, tetapi sebagai penunjuk arah kebahagiaan hidup yang hakiki. Islam tidak menolak kesenangan jasmani, namun dengan tegas menolak menjadikannya sebagai tujuan utama hidup. Sebab, kebahagiaan sejati dalam Islam adalah mendapatkan ridho Allah SWT.

Kebahagiaan dalam Perspektif Islam: Sa‘ādah yang Melampaui Dunia

Islam memandang kebahagiaan (sa‘ādah) sebagai kondisi ruhani yang lahir dari hubungan harmonis antara hamba dan Rabb-nya. Allah SWT berfirman:
“Dan keridhaan Allah itu lebih besar.”
(QS. At-Taubah: 72)

Ayat ini adalah deklarasi ilahiyah bahwa puncak kebahagiaan bukanlah surga dengan segala kenikmatannya, melainkan ridho Allah yang menaungi seluruh kehidupan manusia. Ridho Allah melahirkan ketenteraman batin yang tidak terguncang oleh perubahan dunia.

Kesalahan Fatal Manusia Modern: Mengganti Tujuan dengan Sarana

Salah satu krisis terbesar umat hari ini adalah tertukarnya tujuan hidup dengan sarana hidup. Harta, jabatan, popularitas, dan kenikmatan jasmani—yang sejatinya hanyalah alat—diangkat menjadi tujuan akhir.

Al-Qur’an menggambarkan kondisi ini dengan sangat tajam: “Mereka hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, dan terhadap akhirat mereka lalai.”
(QS. Ar-Rum: 7)

Ketika dunia dijadikan tujuan, manusia akan:
• Selalu merasa kurang
• Mudah iri dan dengki
• Takut kehilangan
• Gelisah menghadapi masa depan
Inilah kebahagiaan semu—ia ada saat digenggam, namun lenyap saat diuji.

Islam Menata Jasmani, Bukan Memujanya
Islam adalah agama fitrah. Ia tidak mematikan naluri jasmani, tetapi menundukkannya di bawah kepemimpinan iman. Makan, minum, bekerja, menikah, dan beristirahat adalah bagian dari ibadah bila diniatkan karena Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, jasmani bukan dimusuhi, tetapi diarahkan. Dunia bukan ditinggalkan, tetapi diletakkan di tangan, bukan di hati.

Kaya Jiwa: Ukuran Bahagia Seorang Mukmin

Islam tidak menilai kebahagiaan dari seberapa banyak yang dimiliki, tetapi dari seberapa lapang hati dalam menerima ketentuan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kaya jiwa melahirkan:
• Syukur saat diberi
• Sabar saat diuji
• Ridho saat ditakdirkan
• Tenang saat kehilangan
Inilah kebahagiaan yang tidak bergantung pada keadaan, melainkan bertumpu pada iman.

Ridha Allah: Sumber Ketenangan yang Tak Pernah Kering

Orang yang menjadikan ridho Allah sebagai tujuan hidup akan merasakan ketenangan yang unik. Ia bekerja keras, namun tidak diperbudak hasil. Ia berjuang sungguh-sungguh, namun tetap pasrah pada ketentuan Allah.

Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)
Ketika hati terikat kepada Allah:
• Dunia tidak lagi menakutkan
• Ujian tidak mematikan harapan
• Kehilangan tidak menghancurkan jiwa
Karena yang dicari bukan dunia, tetapi Allah pemilik dunia.

Refleksi Penutup: Mengubah Arah Hidup

Kebahagiaan tidak ditemukan dengan menambah yang dimiliki, tetapi dengan meluruskan arah hidup. Bukan tentang seberapa jauh kita berjalan, tetapi ke mana kita melangkah.

Jika hidup diarahkan untuk mencari ridho Allah:
• Dunia menjadi ladang amal
• Ujian menjadi jalan naik derajat
• Nikmat menjadi sarana mendekat
• Kematian menjadi pintu perjumpaan

Maka benarlah sebuah hikmah:
Barang siapa menjadikan Allah sebagai tujuan, dunia akan mengikutinya.
Namun barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan, ia akan kehilangan keduanya.

Semoga Allah membimbing kita untuk tidak salah arah dalam mencari kebahagiaan, dan mengaruniakan kepada kita kebahagiaan sejati berupa ridho-Nya, di dunia hingga akhirat. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update