Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pendidikan Gagal Memastikan Anak Benar-Benar Belajar dan Siap Hidup

Kamis, 26 Februari 2026 | 03:01 WIB Last Updated 2026-02-25T20:01:50Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menyebut bahwa sistem pendidikan saat ini membangun persepsi kemajuan lewat angka partisipasi dan persentase kelulusan, tetapi gagal memastikan anak benar-benar belajar dan siap hidup.

 

“Sistem pendidikan saat ini membangun persepsi kemajuan lewat angka partisipasi dan persentase kelulusan, tetapi gagal memastikan anak benar-benar belajar dan siap hidup,” lugas HILMI dalam Intellectual Opinion No. 042 kepada TintaSiyasi.ID, Senin (23/02/2026).

 

Pendidikan dinilai HILMI menipu anak melalui ilusi kenaikan kelas dan kelulusan administratif, sementara manusia yang dihasilkan justru rapuh secara moral, sosial, kesehatan, dan kemampuan kognitif dasar.

 

“Yang dirayakan negara adalah naik kelas dan ijazah, bukan perubahan manusia,” tegasnya.

 

Ia menjelaskan, kebijakan tidak ada anak tinggal kelas yang menguat sejak Kurikulum 2013 dilandasi niat melindungi psikologis anak dan menekan putus sekolah, namun tidak disertai sistem remedial yang sungguh-sungguh dan terukur.

 

“Negara menghapus seleksi keras, tetapi tidak membangun jembatan perbaikan bagi anak yang tertinggal,” ulasnya.

 

Akibatnya, HILMI menyebut banyak anak terus naik kelas tanpa menguasai baca, tulis, dan hitung. “Bahkan sampai jenjang perguruan tinggi tanpa pernah benar-benar siap menghadapi tuntutan hidup dasar,” sesal HILMI.

 

“Ini bukan kisah satu-dua sekolah, melainkan pola nasional yang berlangsung lama,” sebut HILMI.

 

Ia menilai kesalahan mendasar pendidikan modern terletak pada penyempitan makna belajar menjadi nilai rapor, ujian, dan ijazah, sehingga keberhasilan diukur dari progres administratif, bukan dari transformasi kemampuan manusia.

 

“Naik kelas adalah keputusan birokrasi, sedangkan belajar adalah proses biologis dan kognitif yang tidak bisa dipaksa oleh kalender akademik,” jelasnya.

 

Menurut HILMI, sistem pendidikan modern menghindari ketidaknyamanan jangka pendek seperti rasa gagal dan proses pengulangan materi, dengan harga mahal berupa kerusakan jangka panjang pada karakter dan kepercayaan diri anak.

 

“Yang lahir adalah kepalsuan kompetensi yang dilembagakan oleh sistem,” tegasnya.

 

Ia mencontohkan, banyak lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang secara administratif sah, tetapi kesulitan membaca teks panjang, memahami hitungan sederhana, atau menafsirkan informasi praktis dalam kehidupan sehari-hari.

 

“Lebih kejam meluluskan anak yang belum siap hidup daripada menahannya sebentar agar benar-benar belajar,” katanya.

 

HILMI menilai pendidikan yang menipu anak melalui ilusi kelulusan justru memindahkan beban kegagalan dari negara ke individu, karena ketika gagal di dunia kerja dan sosial, anak dianggap tidak kompeten, padahal sistem sejak awal tidak jujur dalam mendidiknya.

 

“Negara seolah berkata, ‘Kamu lulus, berarti kamu siap.’ Padahal kenyataannya tidak,” tandasnya.

 

Ia menegaskan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar mencetak manusia pintar, melainkan membentuk manusia yang layak hidup secara moral, sosial, dan intelektual.

 

“Sekolah hari ini terlalu sering menghasilkan lulusan administratif, bukan manusia yang matang,” tandas HILMI lagi.

 

Ia menutup dengan peringatan bahwa pendidikan yang kehilangan kejujuran pada proses hanya akan menghasilkan generasi yang rapuh di hadapan realitas.

 

“Jika kelulusan dijadikan tujuan, maka kebodohan hanya disembunyikan, bukan diatasi,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update