Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

HILMI Dorong Fardu Ain Prabalig Jadi Fondasi Pendidikan Nasional

Kamis, 26 Februari 2026 | 03:02 WIB Last Updated 2026-02-25T20:02:44Z

TintaSiyasi.id -- HILMI mendorong konsep fardu ain prabalig sebagai fondasi pendidikan nasional, dengan menilai bahwa akar persoalan pendidikan terletak pada kesalahan negara dalam menentukan apa yang wajib dikuasai manusia sebelum dilepas ke masyarakat.

 

“Konsep fardu ain prabalig bisa sebagai fondasi pendidikan nasional, dengan menilai bahwa akar persoalan pendidikan terletak pada kesalahan negara dalam menentukan apa yang wajib dikuasai manusia sebelum dilepas ke masyarakat,” tutur HILMI.

 

“Kesalahan terbesar pendidikan adalah memaksa spesialisasi sebelum fondasi hidup manusia selesai,” tegas HILMI dalam Intellectual Opinion No. 042 kepada TintaSiyasi.ID, Senin (23/02/2026).

 

Ia mengajukan fardu ain prabalig sebagai wilayah kewajiban individual yang harus dituntaskan sebelum anak memasuki fase diferensiasi dan spesialisasi akademik.

 

“Prabalig adalah fase wajib tuntas, setelah itu barulah ruang bakat dan pilihan dibuka,” ulasnya.

 

Ia menjelaskan bahwa fardu ain prabalig tidak cukup dimaknai sebagai calistung, melainkan mencakup sedikitnya tujuh domain besar, yakni spiritual dan akhlak, literasi dan numerasi, muamalah dan literasi ekonomi dasar, sosial dan komunikasi, hukum dan ketertiban publik, keselamatan dan kebencanaan, serta kesehatan dan literasi informasi.

 

“Tanpa fondasi ini, kecerdasan apa pun mudah berubah menjadi alat perusakan,” sebut HILMI.

 

Menurutnya, fase prabalig merupakan periode biologis dan psikologis paling efektif untuk membentuk kebiasaan, disiplin, dan orientasi nilai hidup.

 

“Pada fase ini, pendidikan membentuk manusia setelah balig berubah menjadi negosiasi dengan ego,” jelasnya.

 

Ia menilai upaya menanamkan pendidikan karakter, kesehatan, dan literasi hidup setelah balig pada hakikatnya bersifat remedial, mahal, dan sering gagal.

 

“Negara yang baru mengajarkan dasar hidup di SMA atau perguruan tinggi sesungguhnya sudah terlambat,” tandas HILMI.

 

HILMI menegaskan bahwa setelah fondasi fardu ain prabalig tuntas, diferensiasi akademik, vokasi, seni, dan profesi justru akan berjalan sehat karena berdiri di atas manusia yang utuh.

 

“Kesalahan fatal negara adalah membalik urutan: memaksa spesialisasi lebih dulu, lalu berharap karakter dan kebiasaan baik muncul dengan sendirinya,” tegasnya.

 

Ia mengingatkan bahwa pendidikan bukan proyek jangka pendek, melainkan amanah peradaban yang menentukan arah masyarakat di masa depan.

 

“Ketika negara salah mendefinisikan yang wajib, maka seluruh bangunan pendidikan berdiri di atas fondasi yang rapuh,” ujarnya.

 

HILMI menyimpulkan bahwa ijazah tanpa kelayakan hidup moral, sosial, dan kesehatan bukan tanda kemajuan, melainkan kepalsuan yang dilembagakan.

 

“Pendidikan yang benar adalah yang menyiapkan manusia sebelum menyiapkan profesi,” simpulnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update