Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Palestina Tidak Akan Dibebaskan dengan Dewan Internasional buatan Penjajah

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:06 WIB Last Updated 2026-02-05T00:06:27Z

TintaSiyasi.id -- Media RayahTV mengatakan bahwa sejarah mengajarkan penjajahan tidak akan berakhir di meja perundingan yang timpang, maka Palestina tidak akan dibebaskan dengan dewan internasional buatan penjajah.

"Sejarah mengajarkan satu hal penting penjajahan tidak akan pernah berakhir di meja perundingan yang timpang, Palestina tidak akan dibebaskan oleh dewan-dewan internasional buatan penjajah," cecarnya di akun Instagram RayahTV, Rabu (4/2/2026).

Ia menjelaskan, umat Islam kembali dihadapkan pada manuver licik politik global atas Palestina. Kali ini Amerika Serikat menggulirkan gagasan bernama Board of Peace (dewan perdamaian) yang diklaim sebagai jalan keluar konflik Gaza.

"Nama dan kemasannya terdengar indah namun sejarah panjang penjajahan membuktikan bahwa perdamaian ala penjajah kerap menjadi kedok untuk melanggengkan dominasi," imbuhnya.

Kemudian, dibalik jargon stabilisasi dan rekonstruksi Board of Peace justru mengarah pada pengambil alihan kendali Gaza oleh pihak asing. Lebih ironis lagi Indonesia dikabarkan ikut terlibat di dalamnya. Keterlibatan ini beresiko menjadikan Indonesia stempel legitimasi bagi proyek penjajahan gaya baru atas Palestina. Sebuah diplomasi tanpa prinsip yang justru menambah derita rakyat Gaza.

Ia mengatakan, Amerika penggagas dan pemimpin BoP memiliki rekam jejak kelam di negeri-negeri Muslim Afghanistan, Irak, Libya, Suriah, hingga Sudan, kini tangan berlumuran darahnya tampil sebagai juru damai.

RayahTV melanjutkan, ada bahaya besar yang mengintai. BoP merampas hak rakyat Gaza untuk mengatur negerinya sendiri. Urusan pemerintahan dan keamanan diserahkan kepada struktur asing, rakyat yang dijajah bahkan didorong untuk melucuti senjatanya. Sementara penjajah tetap bersenjata lengkap padahal syariat memberikan legitimasi tertinggi bagi pembelaan diri dari agresi dan penjajahan.

"Lebih parah lagi rakyat Palestina sebagai korban genosida tidak dilibatkan. Sebaliknya Zionis Yahudi justru mendapat tempat, akar masalah pun tidak tersentuh, tidak ada pembongkaran negara penjajah, tidak ada pengembalian tanah Palestina. Inilah perdamaian palsu yang mengamankan penjajahan," ungkapnya. 

Padahal, lanjut RayahTV, Allah menegaskan bahwa kaum kafir tidak boleh menguasai kaum mukmin. Namun BoP sejak awal dirancang dan dikendalikan oleh negara-negara penjajah, sementara negara-negara Muslim hanya dijadikan pelengkap legitimasi.

Oleh karena itu, pembebasan sejati menuntut kekuatan dan persatuan umat sesuatu yang hari ini hilang karena ketiadaan institusi global pemersatu itulah khilāfah.

"Sepanjang sejarah, khilafah terbukti menjadi perisai umat, melindungi darah, kehormatan, dan kemuliaan kaum muslim. Karena itu, di tengah kegagalan para pemimpin Muslim membebaskan Palestina hingga hari ini, tegaknya kembali khilāfah bukan sekadar wacana melainkan kebutuhan mendesak umat sedunia," pungkasnya.[] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update