TintaSiyasi.id -- Pengkhianatan besar telah terjadi di dalam tubuh kaum Muslim dunia. Indonesia dan delapan negeri Muslim lainnya seperti Arab Saudi, Qatar, Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, telah bergabung dalam Board Of Peace (Dewan Perdamaian) buatan Donald Trump, presiden Amerika Serikat dengan alasan untuk mengakhiri konflik Gaza, Palestina.
Melalui Kementrian Luar Negeri RI Sugiono, ia menyatakan keikutsertaan Indonesia adalah merupakan bentuk dukungan terhadap rencana komprehensif perdamaian Gaza, sejalan dengan Resolusi DK PBB 2803 yang menargetkan gencatan senjata permanen, rekonstruksi Gaza, pemajuan hak Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri. (nowdots, 22/01/2026)
Presiden AS Donald Trump akan memimpin langsung Dewan Perdamaian ini dan didukung melalui konstribusi dana dari negara-negara anggota. Setiap negara yang bergabung memberikan konstribusi US$1 miliar atau senilai 16,9 Trilliun di tahun pertama. Trump telah mengundang sekitar 60 negara untuk bergabung dalam aliansi ini, yang dipandang sebagai bagian dari rencananya untuk mengatasi konflik seperti di gaza dan potensi krisis lain secara langgsung. Israel juga merupakan salah satu negara yang juga ikut bergabung dalam aliansi ini.
Perlu kita ingat kembali bahwa konflik di Gaza bukanlah perang antar negara. Namun penyerangan brutal sebuah negara yang bernama Israel terhadap wilayah Gaza, Palestina. Pada tahun 1947 PBB mengusulkan Rencana Pembagian Palestina menjadi dua negara yaitu Yahudi dan Arab. Namun Palestina menolak karena tanah mereka adalah hak mereka sejak lama hidup dibawah sistem Islam. Tahun 1948 Israel memproklamirkan kemerdekaan dan menguasai 78% wilayah Palestina. Pada tahun 1967 Israel menduduki (menjajah) Palestina di Tepi Barat, Yerussalem Timur, Jalur Gaza hingga sekarang dan terus membangun pemukiman Yahudi serta membantai kaum muslimin Palestina.
PBB dan BoP bentukan negara-negara kafir barat (kafir harbi) bukanlah wadah atau aliansi yang murni mengusung perdamaian dunia. Mereka sama rusaknya dengan perbuatan-perbuatan kaum zionis Israel. Mencaplok dan menjajah wilayah-wilayah umat Islam untuk dijadikan target penghancuran peradaban dan penggerusan hasil alamnya yang melimpah. Berbagai cara yang telah ditempuh para negara Imperialisme ini untuk masuk dan meringsek ke dalam negeri-negeri Muslim baik secara formal (investasi) maupun ilegal (invasi).
Duduk bersama dengan para penjajah adalah bentuk pengkhianatan nyata terhadap kaum Muslim. Delapan negeri muslim yang turut bergabung dan duduk bersama negara-negara yang memerangi umat Islam adalah tindakan yang tidak memiliki nilai keimanan kepada Allah SWT. Padahal Allah SWT telah mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa haram hukumnya menjadikan orang-orang kafir sebagai teman. “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali (pemimpin/teman setia)...” (QS. Al-maidah 51). “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin...” (QS. Ali Imran 28). Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang melarang umat Islam berteman dan berkoalisi dengan orang-orang kafir yang memerangi umat Islam. Apalagi ini menjadikannya pemimpin untuk menentukan nasib umat Islam itu sendiri.
Kejahiliahan pemimpin-pemimpin Muslim saat ini sudah di taraf akut. Sudah tidak memiliki cara berpikir yang benar dan tak memiliki kekuatan iman yang kuat. Dikarenakan meninggalkan peran Al-Qur'an dalam kehidupan, membuat para pemimpin negeri Muslim kehilangan prestise dan otoritasnya. Akibat menerapkan sistem kufur kapitalisme sekuler secara masif dan terang-teranganlah, hingga pemimpin Muslim menjadikan diri mereka sebagai antek dan kaki tangan para kapitalis sekuler untuk turut serta mencengkram saudara Muslimnya sendiri.
Kerusakan sistem kapitalisme sekuler ini bukan hanya terlihat dari kondisi carut marut negara yang mengembannya, namun sampai ke orang-orang yang menerapkannya. Kerusakan cara berpikir dan bertingkah laku meraka adalah cerminan bahwa sistem ini merusak manusia luar dan dalamnya.
Maka, sudah selayaknya kita meninggalkan dan menggantikan sistem ini dengan sistem yang bisa mencerdaskan manusia. Menjadikan manusia mampu berpikir benar dan sesuai fitrah. Sistem yang berasal dari Sang Pencipta, yang paham akan segala sesuatu tentang ciptaan-Nya. Itu adalah Sistem Islam kaffah, jika diterapkan dalam kehidupan bernegara pastilah memiliki solusi berbagai masalah dalam aspek kehidupan manusia.
Negara yang menjadikan Islam sebagai aturan adalah negara yang independen serta percaya diri di kancah dunia. Rasulullah Muhammad SAW dan para khalifah sesudahnya telah membuktikan dan tercatat dalam sejarah sebagai peradaban yang cemerlang dan mulia. Sistem Islam yang diterapkan dalam kehidupan bernegara tersebut telah menjadikan kaum Muslim dari Madinah hingga Andalusia (Spanyol) layaknya satu tubuh. Jika ada satu saja umat Muslim yang terzalimi, maka seluruh Muslim di dunia akan merasakan hal yang sama. Umat Muslim bersatu tanpa tersekat oleh paham nasionalisme seperti saat ini.
Sehingga solusi untuk menolong dan membantu saudara kita di Palestina bukanlah duduk bersama dengan penjajahnya Palestina. Bukan mendiskusikan nasib Palestina dengan negara yang mau menggenosidanya. Ini justru perbuatan yang zalim dan keji. Solusi yang tepat adalah sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah beserta para sahabatnya. Keras terhadap orang-orang kafir, namun lembut terhadap sesama umat Islam. Sesuai dengan firman Allah SWT, “...Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka...” (QS. Al-fath: 29).
Sistem pemerintahan Islam harus segera ditegakkan, agar umat Islam tidak lagi dipimpin oleh pemimpin-pemimpin jahil yang hanya mementingkan kehidupan pribadinya saja. Menjadikan rakyat sebagai tumbal untuk mencapai target yang diinginkannya. Sistem pemerintahan Islam akan mengangkat dan menjadikan seorang pemimpin yang amanah, kuat secara pemikiran, mampu menghadapi segala persoalan, dan menjadikan Islam sebagai kedaulatan hukum di tengah-tengah masyarakat. Pemimpin di dalam pemerintahan Islam akan menjadikan negaranya menjadi negara adidaya yang akan menjadi corong bagi seluruh negara di dunia. Dan mampu melindungi serta mengayomi umat Muslim diseluruh belahan dunia yang bergabung di dalam naungannya (Khilafah Islamiah). Wallahu a'lam bishshawab.[]
Oleh: Ummu Ruhul Jadiid
Aktivis Muslimah