Tintasiyasi.id.com -- Duka saudara kita di Palestina tak kunjung selesai, selalu diberikan berbagai macam intimidasi baik secra fisik maupun psikis. Zionis dan sekutunya belum puas menindas bahkan menghilangkan nyawa umat muslim, sudah datang lagi ujian berupa kesepakatan yang tidak memihak pada Palastina.
Miris dengan keadaan sekarang, sementara kita sudah berusaha untuk memboikot produk zionis karena rasa seiman pada saudara sesama muslim, justru dicoreng dengan pemimpin yang terlibat dalam kesepakatan dunia dengan alih-alih perdamaian untuk warga Gaza.
Pemikiran yang agak lain, ternyata menimbulkan spekulasi bagi masyarakat tentang integritasnya sebagai pemimpin yang penduduknya mayoritas muslim. Berbagai protes bahkan luapan emosi pribadi maupun kelompok tidak menyurutkan kesepakatan yang sudah dibuat.
Indonesia menandatangani Board of Peace (BoP). Alasan pemerintah adalah demi perdamaian Palestina, sebagaimana yang diungkapkan Presiden Prabowo, bahwa keterlibatan Indonesia dalam BoP peluang yang bersejarah untuk perdamaian di Gaza (setkab.go.id, 22/01/2026).
Masyarakat sudah pintar untuk menilai tidak usah dijelaskan untuk kepentingan siapa BoP tersebut. Bergabung dengan BoP sudah pasti bentuk pengkhianatan terhadap Palestina, krisis moral dan nurani sudah mati rasa di negeri ini.
Mirisnya lagi saat ini kita sedang terpuruk dengan kondisi di Sumatera dan daerah lainya yang terdampak bencana, Indonesia harus membayar 1 miliar dolar (Rp17 triliun) untuk memperoleh keanggotaan tetap dewan perdamaian gagasan Presiden Donald Trump Amerika Serikat kompas.tv, 4/02/2026).
Rakyat dibiarkan menderita demi popularitas di mata dunia.
Arah BoP dikendalikan oleh Trump (AS) dengan kuasa hak veto. Tipu daya negeri Paman Sam untuk kepentingan kemerdekaan Palestina hanya bualan belaka.
BoP dibentuk bukan untuk perdamaian Palestina (bahkan Palestina tidak dilibatkan sama sekali), melainkan untuk kepentingan geopolitik dan ekonomi AS. Trump ingin menguasai Gaza, mengusir penduduknya, dan membangun Gaza Baru yang berisi gedung-gedung pencakar langit, wisata pantai, pelabuhan, bandara, dan menara apartemen.
Sesungguhnya penjajahan di mana pun tidak akan berakhir di meja perundingan termasuk BoP. AS adalah penjajah terbesar di dunia yang selalu melakukan invasi serta menghancurkan negeri-negeri Islam.
BoP justru ditujukan ntuk menghancurkan Palestina. Keberadaan negara-negara muslim (termasuk Indonesia) hanya menjadi pelengkap legitimasi. BoP adalah alat untuk merealisasikan 20 poin rencana Trump atas Gaza. Dari rencana tersebut yang sangat diuntungkan adalah AS.
Keikutsertaan negeri-negeri muslim dalam BoP adalah pengkhianatan terhadap muslim Gaza. Palestina dikorbankan untuk kepentingan penguasa dunia. Bahkan penguasa muslim pun mendukung zionis dengan memberikan jalur perdagangan serta menjalin hubungan diplomatik.
Palestina tidak butuh BoP maupun rencana AS. Saat ini yang dibutuhkan Palestina adalah pembebasan dari pendudukan Zionis. Kita memerlukan pemimpin yang mampu mengerahkan tentara muslim untuk menumpas zionis dari bumi Palestina.
Untuk itu perlunya perisai bagi umat muslim agar tidak ada darah dan air mata bagi penindasan kaum kafir. Perdamaian hakiki bagi Palestina hanya akan terwujud jika Zionis hengkang dari wilayah Palestina.
Satu-satunya jalan untuk mewujudkan hal ini adalah jihad. Khilafah adalah satu-satunya institusi yang akan mengomando jihad akbar untuk membebaskan Palestina.
Negeri-negeri muslim tidak boleh bersekutu dengan negara kafir harbi fi'lan yang tengah memerangi muslim Palestina (AS dan Zionis). Negeri-negeri muslim justru harus bersegera menegakkan Khilafah.
Umat Islam harus menjadikan Khilafah sebagai qadhiyah masiriyah (agenda utama) dan segera merealisasikannya. Sesungguhnya kekuasaan dalam Islam adalah amanah yang harus dijalankan sesuai syariah, untuk itu kita memerlukan pemimpin yang mampu memikul amanah dan tunduk pada Allah Swt.
Pemerintahan dalam Islam memiliki penegak hukum yang teguh untuk memberantas kezaliman. Dengan demikian, harus diperjuangkan untuk menegakan Islam secara kafah untuk mengakhiri kesengsaraan umat yang diakibatkan oleh kapitalisme global.[]
Oleh: Ariyana
(Aktivis Muslimah)