Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mulutmu Harimaumu: Potret Kelam dan Solusi Tuntas Tragedi Anak Bangsa

Rabu, 25 Februari 2026 | 07:03 WIB Last Updated 2026-02-25T00:03:32Z

TintaSiyasi.id -- Dunia pendidikan dan keluarga Indonesia kembali khawatir. Sebuah berita yang memilukan dikutip dari metrotvnews.com (16/02/2026), mengabarkan bahwa seorang bocah perempuan sekolah dasar berinisial SA (13) di Kabupaten Demak ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di dalam rumahnyapada Kamis, 12 Februari 2026. Hasil pemeriksaan medis mengonfirmasi bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban, SA meninggal karena mati lemas akibat gangguan pernapasan saat proses gantung diri tersebut. 

Tragedi ini menjadi lebih menyakitkan ketika motif di baliknya terungkap. Usut punya usut, tindakan nekat SA diduga kuat dipicu oleh tekanan psikologis setelah dimarahi oleh ibu. Bukti digital berupa tangkapan layar WhatsApp menunjukkan bahwa beberapa hari sebelumnya, sang ibu mengirimkan makian dengan kata-kata kasar kepada anaknya. Fenomena ini menjadi alarm keras bagi seluruh orang tua bahwa lisan yang tidak terjaga bisa menjadi senjata mematikan bagi mental seorang anak. 

Realitas Bunuh Diri dalam Tinjauan Psikologi dan Global 

Secara teoritis, bunuh diri bukanlah fenomena tunggal yang terjadi secara tiba-tiba. Psikologi memandang bunuh diri sebagai masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius, yang melibatkan faktor risiko biologis, sosial, dan psikologis yang kompleks. Ini adalah gambaran klinis multidimensi yang terjadi di seluruh dunia. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021 menunjukkan betapa mengerikannya skala masalah ini, satu orang meninggal di dunia akibat bunuh diri setiap 40 detik, yang berarti lebih dari 700.000 jiwa melayang setiap tahunnya.

Bagi seorang anak yang belum memiliki kemampuan berpikir panjang, mereka sangat rentan terhadap godaan untuk mengakhiri hidup. Apalagi saat ini, solusi "instan" untuk lari dari masalah melalui bunuh diri banyak berkembang di media sosial. Berdasarkan teori pembelajaran sosial, manusia memiliki kecenderungan alami untuk meniru peristiwa yang ada di depannya. Perilaku Perilaku diri dapat dipelajari dari orang lain atau muncul sebagai akibat dari peristiwa pemicu yang traumatik, seperti kekerasan verbal dari orang terdekat. 

Rapuhnya Fondasi Keluarga di Era Modern 

Kasus SA hanyalah puncak gunung es dari maraknya fenomena tragis di kalangan anak-anak awal tahun ini. Kita melihat adanya degradasi moral yang luar biasa, di mana anak-anak mulai terlibat dalam tindakan kriminal, mulai dari membunuh orang tua hingga mengakhiri hidup sendiri. 

Ada beberapa faktor sistemik yang menyebabkan hubungan orang tua dan anak menjadi tidak harmonis. Pertama, tekanan ekonomi, masalah kemiskinan, sulitnya akses pekerjaan, dan mahalnya kebutuhan hidup membuat orang tua stres secara mental. Stres ini sering kali dilampiaskan kepada anak dalam bentuk kemarahan dan kata-kata kotor. Kedua, dampak media sosial, informasi yang merajalela tanpa filter di satu sisi dapat memberikan pengaruh buruk, di mana kasus-kasus serupa justru menjadi "inspirasi" bagi anak-anak lain untuk melakukan hal yang sama. Ketiga, krisis keimanan, fondasi spiritual yang belum kuat pada diri anak membuat mereka kehilangan pegangan saat menghadapi badai kehidupan. Keempat, disfungsi peran orang tua. Orang tua, yang seharusnya menjadi pelindung dan pemberi rasa aman, justru berubah menjadi sosok yang menakutkan melalui otoritarianisme dan kekasaran lisan. 

Seorang ibu adalah madrasatul ula atau guru pertama bagi anaknya. Sikap dan ucapannya akan direkam secara permanen dalam ingatan anak. Begitu pula peran ayah yang sangat dibutuhkan sebagai pendukung utama seiring bertambahnya usia anak dalam menemukan jati diri. Jika pendidikan di rumah tidak matang dan ditambah dengan lingkungan yang buruk, tumbuh kembang anak akan sangat terganggu. 

Islam sebagai Solusi Komprehensif 

Islam menawarkan jalan keluar yang menyeluruh dalam mengatasi krisis mentalitas ini. Dalam pandangan Islam, lisan orang tua—terutama ibu—adalah doa. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Al-Baihaqi bahwa ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua kepada anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir. Selain itu, diingatkan pula bahwa ridho Allah bergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka orang tua (HR.At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim). 

Sangat penting bagi orang tua untuk menyampaikan lisan mereka dengan kalimat yang baik (thayyibah). Kata-kata kotor hanya akan menjadi "pengotor" akal dan jiwa anak, yang pada akhirnya merusak mental mereka. Sebaliknya, perkataan yang baik akan menjadi doa yang membawa keberkahan bagi kehidupan anak. Selain faktor internal keluarga, Islam juga menekankan pentingnya lingkungan yang menjalankan prinsip amar makruf nahi mungkar. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 110, umat Islam adalah umat terbaik karena mereka saling mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Karakter anak akan terbentuk dengan kuat jika lingkungan tempat mereka menghabiskan waktu juga mendukung nilai-nilai kesalihan. 

Kegagalan Sekularisme dan Perlunya Peran Negara 

Krisis yang dialami anak-anak hari ini tidak lepas dari pengaruh sekularisme, yaitu paham yang memisahkan agama dari kehidupan praktis. Dalam sistem sekuler, agama hanya diambil untuk urusan ritual ibadah, namun ditinggalkan dalam kesekharian, termasuk dalam cara mendidik anak. Akibatnya, orang tua merasa kewajibannya selesai hanya dengan memenuhi kebutuhan materi (nafkah). Lingkungan menjadi individualis, abai terhadap perilaku sekitar, dan maraknya kasus perundungan (bullying). Anak-anak kehilangan jati diri sebagai hamba Allah karena standar kebahagiaan hanya diukur dari materi. Seharusnya, anak dididik untuk memahami bahwa dirinya adalah hamba Allah yang setiap tindakannya dicatat oleh malaikat. Namun kesadaran ini tidak akan terbangun secara optimal tanpa keterlibatan negara.

Negara Tidak Boleh Lepas Tangan

Dalam Islam, penguasa atau khalifah berfungsi sebagai pelaksana hukum syara' yang menjamin keamanan dan kesejahteraan masyarakatnya. Menuju peradaban emas yang melindungi anak.

Sejarah telah membuktikan bahwa sistem Islam mampu menghasilkan generasi emas selama 13 abad. Pada masa itu, fenomena bunuh diri massal atau krisis mentalitas anak tidak ditemukan. Hal ini terjadi karena adanya keteladanan pemimpin, mengikuti jejak Rasulullah SAW yang tidak pernah memukul, membentak, atau menghardik anak-anak (HR. Bukhari dan Muslim), namun selalu penuh kasih sayang. Adanya kontrol media, negara akan menutup akses media sosial atau tontonan yang merusak mental dan moral masyarakat. Terdapat keadilan hukum, sanksi tegas diberlakukan bagi setiap pelanggaran hukum syarak tanpa memandang bulu, sehingga menimbulkan efek jera dan rasa aman. Hanya dengan kerja sama antara orang tua yang menjaga lisan, masyarakat yang peduli, guru yang tulus, dan negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah, kita dapat mewujudkan kehidupan yang "baldatun thoyyibatun warobbun ghofur". Mari kita jaga lisan kita, karena "mulutmu adalah harimaumu" yang bisa menerkam masa depan anak-anak kita, atau justru menjadi doa yang mengantarkan mereka ke pintu surga. Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Eni Yulika
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update