Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Menyerahkan Urusan Palestina ke Amerika Sama dengan Menitipkan Domba kepada Serigala Lapar

Kamis, 05 Februari 2026 | 22:07 WIB Last Updated 2026-02-05T15:07:25Z

TintaSiyasi.id -- Pemerintah klaim, Partisipasi Indonesia dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian bentukan Donald Trump sebagai wujud komitmen menyelesaikan masalah Palestina mendapat kritik dari Pengamat Sosial dan Politik Ustaz Iwan Januar bahwa menyerahkan urusan Palestina kepada Amerika sama dengan menitipkan domba kepada serigala lapar.

"Maka menyerahkan urusan Palestina kepada Amerika, entitas Yahudi sama dengan menitipkan domba-domba kepada srigala lapar," ujarnya di akun TikTok iwanjanuar, Selasa (3/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa setelah Presiden Prabowo mengumpulkan sejumlah organisasi Islam termasuk Majelis Ualam Indonesia (MUI) untuk menjelaskan keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace, munculah dukungan dan pembelaan dari sebagian ormas Islam termasuk dari MUI.

"Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para tokoh Islam, ormas Islam, dan juga kepada ketua MUI, kami melihat bahwa yang disampaikan sebagai sebuah alasan untuk membenarkan tindakan Indonesia bergabung dalam BoP sesuatu yang secara realistis dan secara pragmatis, justru sesuatu yang tidak realistis lagi dan tidak memberikan kemaslahatan untuk saudara kita di Gaza", paparnya. 

Ia menambahkan bahwa BoP ini tidak bisa diandalkan, dan tidak bisa dijadikan sebagai sebuah lembaga internasional yang bisa memberikan kebaikan apalagi untuk memberikan kemerdekaan pada Palestina.

"Bayangkan 1 lembaga internasional yang lebih lama, bahkan lebih lama daripada BoP yaitu PBB sudah berkali-kali dipecundangi oleh Israel dan oleh Amerika," cecarnya. 

Padahal, PBB sejak tahun 1948 telah mengeluarkan lebih dari 200 resolusi yang mengecam kekejaman Zionis meminta untuk gencatan senjata, penarikan pasukan, dan menegur adanya pemukiman ilegal tetapi semua diabaikan oleh negara zionis dan juga sejumlah resolusi itu dibatalkan oleh hak veto Amerika. 

"Saya kira para kiai, alim ulama juga tau bahwa di dewan keamanan PBB negara AS yang paling getol dan paling aktif di dalam memberikan veto membatalkan resolusi yang akan dituju pada entitas Zionis," jelasnya. 

Sementara PBB, ia menambahkan, atau dewan keamanan sendiri ada sejumlah negara besar Rusia, Inggris, Prancis, China tetapi semua putusan mereka tidak lagi berarti ketika sudah dijatuhkan veto oleh Amerika. 

"Ini menunjukkan bahwa lembaga yang lebih tua dan anggotanya lebih banyak, diisi negara-negara besar yang bersebrangan dengan Amerika tidak berkutik untuk menjatuhkan resolusi, sanksi kepada entitas Zionis Yahudi yang telah terang-terangan melakukan pembantaian dan melakukan pengusiran kepada penduduk Palestina," ujarnya. 

Maka, ia bertanya, apa yang bisa diharapkan dari BoP ini kalau lembaga yang jumlah anggotanya lebih banyak dibanding dengan BoP saja tidak berkutik, apalagi dengan BoP yang langsung dipimpin oleh Amerika?

Jelas bahwa Amerika adalah negara terdepan di dalam membela kepentingan entitas Zionis Yahudi setiap tahun AS memberikan aliran dana 3,8 miliar dolar per tahun untuk kepentingan pertahanan, militer Zionis Yahudi.

"Bahkan sepanjang genosida yang dilakukan entitas Zionis Yahudi kepada Muslim Gaza berikan tambahan 17,9 triliun dolar untuk mendukung operasi militer di Gaza," jelasnya. 

Maka, bagaimana negeri muslim seperti Indonesia bisa berpikir realistis dan pragmatis bila kenyataannya menunjukkan Amerika adalah negara terdepan membela, mendukung, bahkan mensupport senjata untuk melakukan pembantaian terhadap Palestina.

"Selanjutnya sudah berkali-kali entitas Yahudi mereka melanggar dan mengkhianati berbagai macam perjanjian sudah dilakukan antara mereka dengan pihak Palestina, jadi apakah ada jaminan bila hari ini mereka tidak akan mengkhianati dan tidak akan melanggar apa yang sudah diputuskan oleh BoP, apa garansi yang bisa diberikan inikan cek kosong yang diberikan," geramnya. 

Kemudian, Perdana Menteri Israel Netanyahu menyatakan mereka tidak akan pernah mengakui kemerdekaan Palestina. 

"Padahal Netanyahu dengan negaranya adalah anggota dari BoP sedangkan Palestina Gaza tidak menjadi bagian dari BoP, maka dimana nalar politik kita bisa memberikan dukungan keikutsertaan Indonesia dalam BoP?," tanyanya. 

Bukankah, ia menyarankan, umat Islam hari ini harus punya agenda sendiri bahwa umat muslim yang memiliki anggota 2 miliar lebih harus memiliki agenda sendiri membebaskan Palestina.

"Karena persoalan yang ada di Palestina adalah persoalan imperialisme entitas Yahudi yang didukung oleh negara-negara Barat khususnya Amerika yang memimpin BoP pada hari ini," ungkapnya. 

"Maka keputusan ini (Indonesia bergabung dengan BoP) sangat menyakitkan dan tidak sesuai dengan realita yang dihadapi oleh saudara kita di Palestina. Semestinya kaum muslim punya agenda sendiri menghimpun kekuatan sendiri, menyatukan kekuatan dibawah satu kepemimpinan yaitu khilāfah, mengirimkan pasukan untuk mengusir entitas Yahudi secara total dari tanah Palestina," pungkasnya. [] Alfia

Opini

×
Berita Terbaru Update