Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Marwah Guru Terlindungi, Adab Murid Terjaga

Jumat, 06 Februari 2026 | 05:40 WIB Last Updated 2026-02-05T22:40:42Z

Tintasiyasi.id.com -- Marwah (kehormatan) guru kini nampak semakin tergerus. Kian hari kian banyak bermunculan kasus-kasus yang melibatkan murid dan guru. 

Dilansir dari detik.com (17/01/2026), seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, bernama Agus Saputra dikabarkan melakukan adu jotos dengan siswanya hingga viral di media sosial. Peristiwa itu terjadi disinyalir berawal dari perkataan Agus yang diduga merupakan hinaan hingga menyulut amarah sejumlah siswa.

Konflik antara guru dan murid sudah acao kali terjadi di negeri ini. Sebelumnya juga terjadi di Jambi, kasus seorang ibu guru SD yang memangkas rambut pirang muridnya dan berujung pada status tersangka. Bahkan kabar terbaru, seorang guru yang dipolisikan oleh orang tua murid setelah menasihati agar peduli sesama. (news.detik.cok, 27/01/2026)

Problem Serius Dunia Pendidikan
Konflik atau berbagai kasus yang terjadi antara murid dan guru tidak bisa dipandang sebelah mata. Problem ini bukan semata konflik personal ataupun emosi sesaat, namun sudah menjadi problem serius dalam dunia pendidikan yang sedang tidak baik-baik saja. 

Di saat relasi antara guru dan murid harusnya dibangun atas dasar penghormatan dan keteladanan, justru relasi yang terjadi adalah ketegangan hingga kekerasan. Di satu sisi murid cenderung tidak sopan, kasar dan keluar dari batasan adab.

Namun tak dipungkiri pula ada guru yang melakukan penghinaan, merendahkan hingga melabeli murid dengan kata-kata yang menyakitkan. Pada akhirnya kedua pihak justru terjebak dalam ruang konflik yang berakhir pada kekerasan.

Situasi ini tak ayal membawa dampak ikutan yang signifikan. Para guru, yang notabene adalah pendidik dan pembimbing kini merasa terjebak dalam ketakutan dan kekhawatiran dalam proses pembelajaran. 

Disiplin akan semakin melonggar, sikap bebas bertindak akan semakin meningkat, adab semakin jauh dari harapan. Fenomena ini memunculkan beragam parodi di media sosial, berupa konten lucu yang menggambarkan situasi absurd, yakni guru-guru berusaha menghindari murid yang sedang bermasalah dengan berbagai cara yang tidak masuk akal.

Fenomena ini menggambarkan pergeseran dinamika dalam dunia pendidikan yang membutuhkan solusi komprehensif. Dibalik parodi yang disajikan menunjukkan masalah serius mengenai ketidakseimbangan hak dan kewajiban di lingkuntan sekolah. 

Hubungan antara pendidik, murid dan orang tua sedang mengalami ketegangan yang akan berdampak negatif pada proses pembelajaran dan kedisiplinan.

Islam Menghantarkan Kebangkitan

Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekedar mencerdaskan akal, lebih dari itu, membangun manusia yang beradab. Islam menempatkan akidah sebagai sandaran yang melahirkan berbagai konsep turunan tentang adab, ilmu dan tujuan hidup. 

Maka, pendidikan Islam dibangun atas asas akidah, bukan netralitas nilai. Ketika Islam dihilangkan, baik institusi bahkan sebagian ajarannya, ilmupun kehilangan arah dan relasi antar manusiapun kian menampakkan kerusakan dan ketidakharmonisan.

Dalam praktiknya, adab selalu didahulukan sebelum ilmu. Dengan sendirinya, murid akan memuliakan guru sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, bukan semata-mata relasi saja. Dari sisi guru, dengan kesadaran senantiasa memposisikan diri sebagai pendidik dan pembimbing jiwa dengan tulus, kesabaran, kasih sayang dan keteladanan, jauh dari cacian, hinaan hingga kekerasan verbal. Relasi guru dan murid akan selalu terbangun di atas cinta terhadap ilmu.

Guru bukan sekedar pelaksana kurikulum, namun juga figur teladan yang dihormati. Dalam hal ini, negara bertanggung jawab besar dalam berjalannya pendidikan di atas landasan akidah Islam, hingga mampu membentuk kepribadian Islam pada diri peserta didik. 

Negara juga wajib menjamin kesejahteraan guru, membangun iklim pendidikan yang baik dan kondusif, serta menutup rapat masuknya nilai-nilai yang merusak akhlak generasi.

Sejarah Islam mencatat keberhasilan penerapan pendidikan berbasis akidah Islam, hingga lahirlah para ulama dan ilmuwan besar seperti Imam Syafi'i, Imam Al Ghazali, Ibnu Sina, Al Khawarizmi, yang unggul dalam keilmuan beserta ketinggian ketakwaan dan adab.

Maka jelas output sistem pendidikan Islam tidak hanya menjadi peserta didik yang berkarakter unggul, juga guru yang berkualitas. Keberhasilannya tidak hanya karena faktor teknis, tetapi ada sistem politik pendidikan yang menopang realisasi sistem pendidikan yang shahih. 

Karena itu harus mengembalikan pendidikan Islam kepada nilai-nilai Islam secara utuh, guru akan dimuliakan tanpa takut kehilangan wibawa, demikian juga murid dilindungi tanpa kehilangan adab. Ilmu akan terus bertumbuh seiring akhlak, ruh pendidikan menghantarkan kembali kepada kebangkitan. Wallahua'lam bishshowwab.[]

Oleh: Linda Maulidia, S.Si
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update