Hikmah dan Tafsir QS. An-Nisā’ (4): 147
TintaSiyasi.id -- Allah Ta‘ala berfirman:
مَا يَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.”
(QS. An-Nisā’ [4]: 147)
1. Wajah Rahmah Allah dalam Ayat Ini
Ayat ini adalah deklarasi cinta Ilahi, bukan ancaman. Allah tidak sedang mencari-cari alasan untuk mengazab manusia, tetapi justru membuka pintu seluas-luasnya agar hamba-Nya selamat dari azab.
Perhatikan pertanyaan retoris Allah:
“Mengapa Allah akan menyiksamu?”
Ini bukan pertanyaan karena Allah tidak tahu, tetapi pertanyaan untuk membangunkan kesadaran ruhani manusia: bahwa azab bukan tujuan Allah,
melainkan konsekuensi dari pengingkaran.
Selama manusia:bersyukur, dan beriman, maka tidak ada alasan bagi azab untuk turun.
2. Syukur: Amal Kecil dengan Dampak Besar
Dalam perspektif sufistik, syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”, tetapi:
pengakuan hati,
ketundukan jiwa,
dan penggunaan nikmat sesuai kehendak Pemberi Nikmat.
Syukur sekecil apa pun tidak pernah remeh di sisi Allah.
Bahkan syukur yang lahir dari hati yang lemah, air mata yang jatuh dalam sunyi, atau kesabaran di tengah sempitnya hidup—semuanya tercatat.
Para ulama tasawuf menyebut: “Syukur adalah penjaga nikmat. Kufur adalah pembuka bencana.”
Maka:
nikmat kecil yang disyukuri akan membesar,
nikmat besar yang diabaikan akan menghilang.
3. Iman dan Syukur: Dua Sayap Keselamatan
Ayat ini menyandingkan syukur dengan iman, karena:
iman tanpa syukur bisa kering dan sombong,
syukur tanpa iman bisa kosong dan rapuh.
Iman meluruskan orientasi hidup.
Syukur menenangkan jiwa dalam realitas hidup.
Dalam logika ilahiyah: Iman adalah fondasi, syukur adalah penguat.
Keduanya adalah jalan aman menuju rahmat Allah.
4. Allah Maha Mensyukuri: Sebuah Rahasia Agung
Penutup ayat ini sangat menggetarkan:
وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
“Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.”
Bagaimana mungkin Allah “bersyukur”, padahal Dia Maha Kaya?
Maknanya:
Allah membalas amal kecil dengan pahala besar,
Allah menghargai usaha hamba meski tak sempurna,
Allah mengangkat amal yang ikhlas meski tampak sepele.
Dalam tasawuf, ini disebut: “Karamah kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya.”
Satu sujud ikhlas bisa menghapus dosa bertahun-tahun.
Satu air mata taubat bisa membuka pintu langit.
5. Syukur sebagai Terapi Krisis Zaman
Di era modern:
manusia banyak nikmat,
tetapi sedikit syukur.
Akibatnya:
jiwa gelisah,
hati keras,
hidup terasa hampa.
Ayat ini mengajarkan bahwa akar ketenangan bukan pada kelimpahan, melainkan pada kesadaran syukur.
Orang yang bersyukur:
tidak mudah putus asa,
tidak silau dunia,
tidak hancur oleh ujian.
Karena ia tahu: Allah Maha Mengetahui setiap usaha dan kesulitannya.
6. Pesan Dakwah: Jangan Meremehkan Syukur
Wahai jiwa yang letih,
jangan tunggu nikmat besar untuk bersyukur.
Syukur justru melahirkan nikmat besar.
Bersyukurlah:
atas iman meski belum sempurna,
atas hidup meski penuh ujian,
atas doa yang belum dikabulkan, karena mungkin itulah cara Allah menjagamu.
Selama syukur dan iman masih hidup di hati, azab bukan tujuan Allah untukmu.
Penutup Reflektif
QS. An-Nisā’ ayat 147 adalah undangan lembut dari Allah:
“Datanglah kepada-Ku dengan iman dan syukur, niscaya engkau aman dalam rahmat-Ku.”
Maka marilah kita jaga syukur, sekecil apa pun nikmat itu, karena di sanalah tersembunyi keselamatan, ketenangan, dan cinta Allah.
Wallāhu A‘lam bish-Shawāb.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)