Kritik Ideologis atas Manusia yang Menang Dunia tetapi Kalah atas Dirinya
Pendahuluan: Kemajuan Tanpa Adab
TintaSiyasi.id -- Peradaban modern berdiri di atas gedung-gedung tinggi, kecanggihan teknologi, dan kecepatan informasi. Namun ia rapuh di satu titik yang paling mendasar: adab an-nafs. Manusia modern mungkin berhasil menaklukkan alam, tetapi gagal menaklukkan dirinya sendiri.
Imam Al-Māwardī telah mengingatkan berabad-abad lalu bahwa adab terhadap diri adalah fondasi seluruh tatanan sosial dan politik. Ketika nafs dilepas tanpa kendali wahyu dan akal, maka lahirlah peradaban yang kuat secara materi, tetapi miskin secara ruhani.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. ar-Ra‘d: 11)
Ayat ini adalah manifesto perubahan peradaban: krisis dunia adalah cermin krisis batin manusia.
Nafs sebagai Pusat Krisis Peradaban
Dalam perspektif Al-Māwardī, nafs adalah pusat kehendak dan orientasi hidup. Peradaban modern menjadikan nafs sebagai raja, bukan sebagai hamba. Prinsip hidup bergeser dari haq menuju hasrat.
Al-Qur’an menyebut tipe manusia ini dengan sangat tegas:
أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٖ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةٗ فَمَن يَهۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. al-Jātsiyah: 23)
Ketika nafs menjadi ilah:
• kebenaran ditentukan oleh kepentingan,
• moral tunduk pada pasar,
• dan ilmu berubah menjadi alat dominasi.
Inilah akar ideologis krisis modern.
Hilangnya Muhāsabah: Matinya Nurani Publik
Salafush Shalih memulai hidup mereka dengan muhāsabah, sementara manusia modern memulai hari dengan validasi eksternal: likes, pengakuan, dan popularitas.
Umar bin al-Khaththab ra. berkata:
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang.”
Adab nafs menurut Al-Māwardī menuntut keberanian mengadili diri, bukan sibuk menghakimi orang lain. Tanpa muhasabah, masyarakat akan:
• memproduksi pemimpin narsistik,
• menormalisasi kebohongan,
• dan membenarkan kezaliman dengan bahasa kemajuan.
Syahwat sebagai Ideologi Baru
Peradaban modern menjadikan kepuasan instan sebagai tujuan hidup. Konsumsi, hiburan, dan sensasi menggantikan makna, hikmah, dan kesabaran.
Imam Al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata:
“Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsumu yang berada di antara dua lambungmu.”
Syahwat yang tidak dididik melahirkan:
• eksploitasi alam (ekosida),
• komodifikasi tubuh manusia,
• dan normalisasi dosa atas nama kebebasan.
Di sinilah adab nafs bukan sekadar etika personal, tetapi perlawanan ideologis terhadap hedonisme global.
Kesombongan Ilmu dan Matinya Tawāḍu‘
Manusia modern merasa mengetahui segalanya, tetapi kehilangan hikmah. Ilmu dipisahkan dari adab, lalu melahirkan kesombongan epistemik.
Allah memperingatkan: “Dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan sedikit.” (QS. al-Isrā’: 85)
Ali bin Abi Thalib ra. berkata:
“Buah ilmu adalah tawadhu‘, bukan kesombongan.”
Menurut Al-Māwardī, tawāḍu‘ adalah puncak adab nafs. Tanpa tawadhu‘, ilmu berubah menjadi senjata penindasan, bukan cahaya pembebasan.
Kepemimpinan Tanpa Penaklukan Diri
Sejarah modern penuh dengan pemimpin cerdas, tetapi miskin adab nafs. Mereka menguasai sistem, namun gagal menguasai diri.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh رحمه الله berkata:
“Jika seorang alim mencintai kekuasaan, maka waspadalah terhadap agamanya.”
Imam Al-Māwardī—seorang teoritikus politik Islam—menegaskan bahwa kehancuran negara dimulai dari nafs penguasanya yang tidak terdidik. Tidak ada reformasi struktural tanpa reformasi batin.
Adab an-Nafs sebagai Agenda Kebangkitan Umat
Islam tidak memulai perubahan dari revolusi jalanan, tetapi dari revolusi jiwa. Adab nafs adalah:
• fondasi tazkiyatun nafs,
• jantung dakwah,
• dan syarat lahirnya peradaban berkeadilan.
Allah berfirman: “Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. asy-Syams: 9–10)
Salafush Shalih membangun peradaban bukan dengan banyak slogan, tetapi dengan banyak mujahadah atas nafs.
Penutup: Menang atas Diri, Menang atas Zaman
Peradaban modern telah mengajarkan manusia cara menaklukkan dunia, tetapi lupa mengajarkan cara menundukkan diri. Imam Al-Māwardī mengingatkan kita bahwa adab an-nafs adalah garis pemisah antara kemajuan yang memberkahi dan kemajuan yang menghancurkan.
Barang siapa tidak mampu memerintah dirinya, ia akan menjadi budak bagi dunia yang ia ciptakan sendiri.
Kebangkitan umat tidak akan lahir dari gedung tinggi dan teknologi canggih, tetapi dari jiwa-jiwa yang beradab, tunduk kepada Allah, dan merdeka dari perbudakan nafs.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)