Pendahuluan: Alam yang Menjerit, Manusia yang Tertidur
TintaSiyasi.id -- Bumi hari ini tidak sekadar terluka—ia menangis dalam diam. Hutan-hutan meranggas, sungai-sungai tercemar, gunung-gunung terbelah, laut-laut diperkosa oleh kerakusan manusia. Ironisnya, semua itu dilakukan atas nama pembangunan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Padahal, dalam pandangan Islam, alam bukan sekadar benda mati. Ia adalah ayat-ayat kauniyah yang bertasbih kepada Allah SWT. Ketika alam rusak, sesungguhnya yang rusak terlebih dahulu adalah hati dan cara pandang manusia.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini bukan sekadar peringatan ekologis, tetapi kritik ideologis terhadap sistem kehidupan yang salah arah.
Akar Krisis Ekologis: Ketika Kapitalisme Mengusir Ruh Amanah
Kerusakan lingkungan hari ini bukan kecelakaan sejarah. Ia lahir dari sistem yang menjadikan keserakahan sebagai kebajikan.
1. Keserakahan Kapitalis: Saat Nafsu Menjadi Tuhan
Kapitalisme mendidik manusia untuk mengejar keuntungan tanpa batas. Alam direduksi menjadi komoditas, bukan amanah. Hutan dihitung dengan rupiah, bukan dengan maslahat. Sungai diukur dengan potensi bisnis, bukan keberkahan.
Inilah syirik modern: ketika profit menggantikan Tuhan, dan pasar menggantikan nilai.
2. Privatisasi SDA: Perampasan Hak Publik
Air, tambang, hutan, dan energi—yang seharusnya menjadi milik bersama—diserahkan kepada segelintir korporasi. Rakyat hanya kebagian limbah dan bencana.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan: “Kaum Muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.”
(HR. Abu Dawud)
Privatisasi SDA bukan sekadar kesalahan kebijakan, melainkan pengkhianatan terhadap prinsip syariah.
3. Simbiosis Modal dan Politik: Negara yang Tersandera
Ketika modal menikahi kekuasaan, lahirlah kebijakan yang legal tapi zalim. Izin tambang mudah, reklamasi dipaksakan, hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah.
Negara yang seharusnya menjadi rā‘in (pengurus) berubah menjadi makelar kepentingan oligarki.
4. Negara yang Lepas Tangan
Dalam sistem kapitalisme, negara hanya menjadi regulator lemah. Urusan hidup diserahkan pada pasar. Akibatnya, pengawasan lingkungan lumpuh dan keadilan ekologis menguap.
Padahal Islam memerintahkan negara untuk mengurus, menjaga, dan melindungi kehidupan umat dan alamnya.
Paradigma Islam: Alam sebagai Amanah, Bukan Komoditas
Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nidzām al-Iqtiṣād fī al-Islām meletakkan fondasi ideologis yang jernih dan membebaskan.
1. Kepemilikan Hakiki Milik Allah
Dalam Islam, Allah adalah pemilik mutlak alam semesta. Manusia hanyalah khalifah, bukan pemilik absolut.
Kesadaran ini melahirkan sikap sufistik:
mengelola dengan takut kepada Allah, bukan rakus terhadap dunia.
2. Pembagian Kepemilikan yang Adil
Islam membagi kepemilikan menjadi:
Kepemilikan individu
Kepemilikan umum (milkiyyah ‘ammah)
Kepemilikan negara
SDA strategis—air, tambang besar, hutan, energi—termasuk kepemilikan umum, haram diprivatisasi.
3. Negara sebagai Penjaga Amanah
Negara dalam Islam bukan penonton. Ia adalah:
Rā‘in (pengurus rakyat),
Junnah (pelindung),
dan penjaga keseimbangan kehidupan.
Negara wajib mengelola SDA secara langsung atau melalui mekanisme yang sepenuhnya berpihak pada kemaslahatan umat dan kelestarian alam.
Sufisme Ekologis: Menjaga Alam adalah Ibadah
Dalam dimensi sufistik, menjaga alam bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi jalan ma‘rifat.
Orang yang merusak alam sejatinya sedang menumpuk hijab antara dirinya dan Allah.
Sebaliknya, orang yang menjaga alam sedang:
membersihkan hati dari keserakahan,
melatih zuhud terhadap dunia,
dan menumbuhkan cinta kepada Sang Pencipta.
Para wali dan ulama salaf tidak menaklukkan alam—mereka bersahabat dengannya.
Penutup: Dakwah Ekologis adalah Dakwah Tauhid
Krisis ekologis adalah cermin krisis tauhid dan ideologi. Selama kapitalisme menjadi fondasi, selama keserakahan dilegalkan, selama negara tunduk pada modal, maka bumi akan terus terluka.
Islam tidak hanya mengajarkan shalat dan zikir, tetapi juga sistem kehidupan yang adil dan menentramkan alam.
Sudah saatnya dakwah kita:
tidak hanya menyentuh mimbar,
tetapi juga menyentuh akar sistemik kerusakan,
membangunkan umat dari tidur panjang ideologis.
Karena menjaga bumi adalah bagian dari menjaga iman. Dan menyelamatkan alam adalah bagian dari jalan pulang menuju Allah SWT.
Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)