Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

MBG, HILMI: Sistem Diperbesar Terlalu Cepat Tanpa Kesiapan Struktur

Kamis, 26 Februari 2026 | 03:00 WIB Last Updated 2026-02-25T20:00:33Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menyatakan bahwa masalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar soal siapa pejabatnya, tetapi tentang desain sistem yang diperbesar terlalu cepat tanpa kesiapan struktur dan mekanisme control.

 

“Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar soal siapa pejabatnya, tetapi tentang desain sistem yang diperbesar terlalu cepat tanpa kesiapan struktur dan mekanisme kontrol,” tegas HILMI dalam Intellectual Opinion No. 041 kepada TintaSiyasi.ID, Selasa (16/02/2026).

 

HILMI menegaskan bahwa MBG bukan terletak pada niat memberi gizi anak, melainkan pada pilihan desain kebijakan yang dipaksakan dalam skala besar sebelum fondasi pengawasan dan kapasitas siap.

 

“MBG bukan sekadar program pembagian makanan, melainkan program negara yang menyentuh logistik pangan, tata kelola anggaran, standar kesehatan, dan pengawasan mutu secara bersamaan,” jelasnya.

 

“Kesalahan kecil dalam desain dapat berubah menjadi kegaduhan nasional karena cakupan program yang sangat luas,” ulasnya.

 

Ia mengingatkan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) dibentuk sebagai lembaga kebijakan pemenuhan gizi nasional, bukan semata operator dapur massal.

 

“BGN semestinya diposisikan sebagai penentu standar, auditor mutu, dan penguat sistem gizi, bukan sebagai pengelola produksi makanan skala besar,” sebut HILMI.

 

HILMI menyoroti bahwa ekspansi MBG dalam tempo cepat berpotensi menimbulkan system shock berupa dapur yang belum siap, SOP yang tidak seragam, serta rantai pasok yang belum stabil.

 

“Dalam kondisi seperti itu, insiden kualitas makanan, keterlambatan distribusi, dan isu keamanan pangan akan mudah terjadi,” jelasnya.

 

Anggaran Besar

 

HILMI menyinggung besarnya anggaran MBG yang membuat desain tata kelola menjadi sangat menentukan arah program.

 

“Semakin besar anggaran, semakin tinggi insentif rente, dan semakin sulit pengawasan administratif jika tidak dibangun sejak awal,” tandas HILMI.

 

Menurutnya, jika MBG ingin menjadi program peradaban, maka pembenahan paling strategis adalah menggeser fokus dari ekspansi cepat menuju penguatan sistem secara bertahap dan tepat sasaran.

 

“Program gizi harus mengutamakan kualitas sebelum kuantitas agar tidak berubah menjadi proyek besar tanpa dampak yang sehat,” simpul HILMI.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update