Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

MBG Dinilai Bukan Soal Niat, tetapi Desain Kebijakan

Kamis, 26 Februari 2026 | 02:59 WIB Last Updated 2026-02-25T19:59:16Z

TintaSiyasi.id -- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditegaskan Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) bukan sekadar soal niat baik memberi gizi anak, melainkan soal desain kebijakan yang menentukan efektivitas, risiko, dan dampak sosial-ekonominya.

 

“Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar soal niat baik memberi gizi anak, melainkan soal desain kebijakan yang menentukan efektivitas, risiko, dan dampak sosial-ekonominya,” terang HILMI.

 

“Memberi asupan gizi tambahan kepada anak adalah langkah yang secara moral dan ekonomi publik sangat defensible,” tegas HILMI dalam Intellectual Opinion No. 041 yang diterima TintaSiyasi.ID, Senin (16/02/2026).

 

HILMI mengungkapkan bahwa kebijakan publik tidak cukup dinilai dari tujuan, tetapi dari cara mencapainya, terutama ketika program didorong dalam skala nasional.

 

“Perdebatan bukan tentang pro-kontra gizi anak, melainkan tentang arsitektur pelaksanaan MBG,” sebutnya.

 

Menurut HILMI, MBG bukan sekadar program makanan, tetapi program negara yang menyatukan logistik pangan, tata kelola pengadaan, kesehatan masyarakat, dan politik anggaran.

 

“Kesalahan desain kecil bisa berubah menjadi kegaduhan nasional,” jelasnya.

 

Ia menilai persoalan MBG kerap direduksi sebagai masalah figur pimpinan, padahal problem utamanya ada pada desain sistem yang terlalu sentralistik dan terlalu cepat diperbesar.

 

“Kepemimpinan itu penting, tetapi desain sistem menentukan apakah program punya daya tahan terhadap kesalahan manusia,” tandas HILMI.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update