Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Marah dan Wajah Manusia: Telaah Ideologis–Sufistik atas QS. An-Nisa: 148

Selasa, 24 Februari 2026 | 05:46 WIB Last Updated 2026-02-23T22:47:03Z
(Refleksi Ruhani untuk Tazkiyatun Nafs)

Allah ﷻ berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 148 dari Al-Qur'an:

 لَا يُحِبُّ ٱللَّهُ ٱلْجَهْرَ بِٱلسُّوٓءِ مِنَ ٱلْقَوْلِ إِلَّا مَن ظُلِمَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

“Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan dengan terang-terangan, kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

TintaSiyasi.id -- Ayat ini bukan sekadar etika berbicara. Ia adalah manhaj pembinaan jiwa. Ia adalah panduan bagaimana seorang mukmin menjaga kemuliaan wajahnya — lahir dan batin.

I. MARAH: API DALAM STRUKTUR NAFSU

Dalam konstruksi kepribadian Islam, manusia memiliki tiga kekuatan: akal, qalbu, dan nafsu. Ketika nafsu amarah (an-nafs al-ammarah) mendominasi, maka lahirlah ledakan emosi.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa marah adalah “bara api yang dinyalakan oleh kesombongan dan dorongan mempertahankan ego.”

Ketika seseorang marah:

Wajahnya memerah

Pandangannya tajam

Urat-urat menegang

Nafas memburu

Secara ruhani, ini tanda hati sedang terbakar.
Secara jasmani, ini tanda tubuh kehilangan keseimbangan.

Marah yang tidak terkendali bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga merusak cahaya wajah.

II. WAJAH ADALAH CERMIN HATI

Islam memandang wajah sebagai pancaran keadaan batin. Allah berfirman: “Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri.” (QS. Al-Qiyamah: 22)

Wajah berseri lahir dari hati yang tenang. Sebaliknya, hati yang penuh dendam melahirkan raut yang keras.

Dalam perspektif tasawuf, nur (cahaya) pada wajah adalah refleksi kebersihan qalbu. Orang yang sering marah akan kehilangan nur tersebut sedikit demi sedikit.

Bahkan secara medis, hormon stres akibat marah (adrenalin dan kortisol) mempercepat penuaan dan mengubah ekspresi wajah menjadi tegang dan keras.

III. TAFSIR MENDALAM QS. AN-NISA: 148

1. Tafsir Ibnu Katsir

Menurut Ibnu Katsir, Allah tidak mencintai orang yang melampiaskan keburukan dengan ucapan keras dan menyakitkan, kecuali orang yang benar-benar dizalimi dan itu pun dalam batas keadilan.

Artinya:
Islam tidak melarang emosi, tetapi melarang pelampiasan yang melampaui batas.

2. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurthubi menegaskan bahwa ayat ini mengajarkan pengendalian diri sebagai tanda kemuliaan iman. Orang yang mampu menahan marah adalah orang yang menjaga kehormatan dirinya.

Karena ucapan saat marah seringkali menjadi sebab kehancuran.

3. Tafsir Fakhruddin Ar-Razi

Fakhruddin ar-Razi menjelaskan penutup ayat: “Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Allah mendengar nada suara kita ketika meninggi.
Allah mengetahui niat tersembunyi dalam dada kita.

Maka marah bukan hanya persoalan sosial, tetapi persoalan akidah — karena ia terkait muraqabah (kesadaran bahwa Allah mengawasi).

IV. MARAH DAN IDEOLOGI KEPRIBADIAN ISLAM

Kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyyah) dibangun di atas dua fondasi:

1. Aqliyah Islamiyyah (pola pikir Islami)

2. Nafsiyah Islamiyyah (pola sikap Islami)

Marah yang liar menunjukkan ketidakseimbangan nafsiyah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu menahan diri ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah kekuatan sejati: kekuatan mengendalikan diri, bukan melampiaskan diri.

V. DIMENSI TAZKIYATUN NAFS

Untuk membersihkan jiwa dari dominasi marah, Islam memberi terapi:

1. Diam

Karena Allah tidak menyukai “jahra bis-su’” (ucapan buruk terang-terangan).

2. Berwudhu

Marah berasal dari api, dan air memadamkannya.

3. Mengubah Posisi

Jika berdiri, duduklah. Jika duduk, berbaringlah.

4. Mengingat Akhirat

Apakah kemarahan ini sebanding dengan keselamatan wajah kita di akhirat?

VI. MARAH DAN WAJAH DI AKHIRAT

Di dunia, marah mengeraskan wajah.
Di akhirat, dosa melapisi wajah dengan kegelapan.

Allah menggambarkan adanya wajah yang bercahaya dan wajah yang tertunduk hina.

Maka setiap ledakan amarah yang tidak terkendali sejatinya sedang menggores wajah kita — bukan hanya hari ini, tetapi juga kelak.

VII. REFLEKSI SUFISTIK

Marah ibarat asap hitam yang keluar dari tungku hati.
Jika terus menyala, ia menghitamkan dinding jiwa.

Sebaliknya, sabar adalah cahaya.
Ia menyejukkan wajah dan menenangkan pandangan.

Orang yang sabar terlihat teduh bahkan dalam tekanan.
Orang yang marah terlihat gelisah bahkan dalam kemenangan.

PENUTUP: MEMILIH WAJAH KITA SENDIRI

Setiap hari kita sedang membentuk wajah kita sendiri:

Dengan sabar → wajah menjadi cahaya.

Dengan marah → wajah menjadi bara.

QS. An-Nisa: 148 bukan hanya tentang lisan.
Ia tentang menjaga kemuliaan diri.
Ia tentang membangun kepribadian Islam yang matang.
Ia tentang menjaga nur yang Allah titipkan di wajah kita.

Semoga Allah menjadikan wajah kita bercahaya karena sabar, bukan mengeras karena marah.

Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update