Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mahabah dan Rindu kepada Allah menurut Al-Ghazali dalam Mukasyafatul Qulub

Rabu, 25 Februari 2026 | 08:05 WIB Last Updated 2026-02-25T01:05:54Z
TintaSiyasi.id -- Mukadimah: Cinta yang Menghidupkan Hati
Wahai jiwa yang mencari ketenangan,
Dalam Mukasyafatul Qulub (Penyingkapan Hati), Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa inti perjalanan ruhani bukan sekadar takut kepada Allah, bukan sekadar berharap pahala-Nya, tetapi mahabbah (cinta) kepada-Nya
karena cinta adalah ruh dari iman. Tanpa cinta, ibadah hanya gerakan. Tanpa rindu, doa hanya ucapan.

I. Hakikat Mahabbah kepada Allah
Menurut Al-Ghazali, mahabbah adalah kecenderungan hati secara total kepada yang dicintai. Jika hati benar-benar mengenal Allah, sifat-Nya, rahmat-Nya, dan keindahan-Nya. Maka, ia pasti mencintai-Nya.
Cinta lahir dari ma’rifat (pengenalan).
Semakin seseorang mengenal Allah, semakin dalam cintanya. Beliau menegaskan bahwa cinta kepada Allah bukan sekadar klaim lisan, tetapi tampak dalam:
• Mendahulukan perintah-Nya
• Rela dengan ketetapan-Nya
• Senang bermunajat kepada-Nya
• Berat berpisah dari dzikir-Nya
Jika seseorang mengaku mencintai Allah tetapi lebih mencintai maksiat, maka cintanya perlu dipertanyakan.

II. Tanda-Tanda Mahabbah yang Sejati
Al-Ghazali menyebutkan beberapa tanda cinta sejati kepada Allah:
1.  Mencintai Al-Qur’an
Karena ia adalah kalam Allah.
2. Mencintai Rasulullah Saw.,. 
Karena beliau adalah kekasih Allah.
3. Senang Menyendiri untuk Bermunajat
Orang yang mencintai tidak bosan berbicara dengan yang dicintai.
4. Tidak Berlebihan Mencintai Dunia
Karena dunia hanyalah persinggahan.
5. Rindu Berjumpa dengan Allah
Bukan dalam arti berharap kematian secara ceroboh, tetapi siap dan tenang menghadapi pertemuan dengan-Nya.

III. Rindu (Syauq): Buah dari Cinta
Jika mahabbah adalah akar, maka rindu (syauq) adalah buahnya.
Rindu kepada Allah membuat hati:
• Gelisah ketika lalai
• Tenang ketika berdzikir
• Menangis ketika mengingat dosa
• Bahagia ketika taat
Rindu bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi menjalani dunia dengan hati yang terhubung kepada akhirat.
Orang yang rindu kepada Allah akan merasa sempit dalam kemaksiatan dan lapang dalam ketaatan.

IV. Tingkatan Cinta kepada Allah
Al-Ghazali membagi cinta dalam beberapa tingkatan:
1. Cinta karena nikmat-Nya. Ini tingkatan umum.
2. Cinta karena berharap pahala-Nya. Lebih tinggi.
3. Cinta karena Dzat-Nya. Ini tingkat para arifin.
Pada tingkatan tertinggi, seseorang mencintai Allah bukan karena surga atau takut neraka, tetapi karena Allah memang layak dicintai.
Inilah cinta yang memurnikan tauhid.

V. Mengapa Cinta kepada Allah Penting?
Karena cinta:
• Mengalahkan hawa nafsu
• Menguatkan kesabaran
• Meringankan ibadah
• Menenangkan hati
Orang yang mencintai Allah tidak merasa berat bangun malam.
Tidak merasa rugi bersedekah.
Tidak merasa hina dalam sujud.
Cinta menjadikan ketaatan sebagai kebutuhan, bukan beban.

VI. Cara Menumbuhkan Mahabbah
Menurut Al-Ghazali, cinta dapat ditumbuhkan dengan:
1. Mengenal Allah melalui Asma dan Sifat-Nya
Semakin dalam ma’rifat, semakin kuat cinta.
2. Merenungi Nikmat-Nya
Nikmat lahir dan batin adalah bukti kasih sayang Allah.
3. Membersihkan Hati dari Cinta Dunia Berlebihan
Hati tidak bisa dipenuhi dua cinta yang saling bertentangan.
4. Memperbanyak Dzikir
Dzikir adalah bahan bakar cinta.
5. Bergaul dengan Orang Shalih
Cinta itu menular.

VII. Refleksi Sufistik
Wahai saudaraku, kita sering berkata mencintai Allah, tetapi masih gelisah oleh dunia. Kita mengaku rindu kepada-Nya, tetapi jarang bermunajat kepada-Nya.
Cinta sejati diuji ketika pilihan datang:
• Antara taat dan maksiat
• Antara ridha Allah dan pujian manusia
• Antara akhirat dan dunia
Mahabbah adalah api yang membakar kotoran hati. Rindu adalah angin yang menggerakkan langkah menuju-Nya.

Penutup: Menuju Hati yang Penuh Cinta
Semoga Allah menjadikan hati kita:
• Lembut karena cinta
• Basah karena dzikir
• Tenang karena yakin
• Rindu untuk berjumpa dengan-Nya

Karena ketika hati telah dipenuhi mahabbah,
dunia tidak lagi memikat secara berlebihan,
dan akhirat menjadi tujuan yang dirindukan.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Dr Nasrul, Syarif M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update