Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Khaira Ummah: Misi Suci Umat Terbaik dalam Cahaya Iman dan Peradaban

Rabu, 25 Februari 2026 | 08:17 WIB Last Updated 2026-02-25T01:19:12Z
TintaSiyasi.id -- Refleksi Ideologis–Sufistik atas QS. Ali ‘Imran: 110
Allah Swt., berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 110:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 110).

Ayat ini bukan sekadar deklarasi kemuliaan. Ia adalah mandat ideologis. Ia adalah piagam peradaban. Ia adalah perjanjian ruhani antara langit dan bumi.

Umat ini disebut khaira ummah bukan karena jumlahnya, bukan karena simbolnya, bukan karena sejarahnya. Tetapi karena misinya.

Dan misi itu terdiri dari tiga pilar suci:

1. Menyeru kepada kebaikan.

2. Mencegah kemungkaran.

3. Beriman kepada Allah dengan iman yang hidup.

I. Umat yang “Dilahirkan” untuk Manusia

Dalam tafsir Tafsir al-Tabari, dijelaskan bahwa frasa “ukhrijat lin-nās” menunjukkan bahwa umat ini “ditampakkan” dan “dikeluarkan” untuk kemaslahatan manusia.

Artinya, eksistensi umat Islam bukan untuk dirinya sendiri. Islam bukan agama eksklusif. Ia hadir sebagai rahmat.

Sebagaimana ditegaskan dalam Tafsir Ibn Katsir, kemuliaan itu pertama kali tampak pada generasi sahabat. Mereka yang membuktikan iman dengan pengorbanan, dakwah, dan keberanian moral.

Namun, kemuliaan itu tidak otomatis diwariskan. Ia harus diperjuangkan.

Hari ini pertanyaannya bukan:
“Apakah kita umat terbaik?”

Tetapi:
“Sudahkah kita menjalankan syarat menjadi umat terbaik?”

II. Amar Ma’ruf: Dakwah sebagai Nafas Peradaban

Ma’ruf adalah segala kebaikan yang diakui syariat dan diterima oleh fitrah.

Amar ma’ruf bukan sekadar ceramah. Ia adalah:

Membangun pendidikan yang mencerdaskan.

Menggerakkan ekonomi yang berkeadilan.

Menumbuhkan akhlak dalam keluarga.

Menghidupkan masjid sebagai pusat peradaban.

Secara sufistik, amar ma’ruf adalah ekspresi cinta. Orang yang mengajak kepada kebaikan sesungguhnya sedang berkata:

"Aku tidak ingin engkau celaka.”

Tanpa amar ma’ruf, umat akan kehilangan arah. Tanpa dakwah, iman menjadi sunyi.

Dalam perspektif peradaban sebagaimana diuraikan dalam Fi Zilal al-Qur'an, umat Islam menjadi pemimpin dunia bukan dengan pedang semata, tetapi dengan sistem nilai ilahiyah yang membebaskan manusia dari tirani hawa nafsu dan ketidakadilan.

Amar ma’ruf adalah proyek besar membangun dunia yang lebih bermartabat.

III. Nahi Mungkar: Keberanian Moral Umat

Jika amar ma’ruf adalah membangun cahaya, maka nahi mungkar adalah memadamkan api.

Kemungkaran bukan hanya maksiat individu.
Ia bisa berupa:

Korupsi yang sistemik.

Kebodohan yang dipelihara.

Ketidakadilan yang dilegalkan.

Kemiskinan yang dibiarkan.

Dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, dijelaskan bahwa predikat “umat terbaik” bersifat kondisional. Jika umat meninggalkan nahi mungkar, maka hilanglah kemuliaan itu.

Secara ruhani, nahi mungkar adalah jihad melawan ego. Seseorang tidak akan mampu mencegah kemungkaran di luar, jika ia kalah melawan kemungkaran di dalam dirinya.

Umat ini runtuh bukan karena musuh kuat, tetapi karena hati melemah.

IV. Iman kepada Allah: Fondasi Segala Gerakan

Menariknya, dalam ayat ini iman disebut terakhir, padahal ia fondasi.

Mengapa?

Karena iman adalah ruh yang menghidupkan seluruh gerakan.

Tanpa iman:

Amar ma’ruf menjadi pencitraan.

Nahi munkar menjadi kemarahan ego.

Perjuangan menjadi ambisi kekuasaan.

Iman yang dimaksud bukan sekadar pengakuan lisan. Ia adalah keyakinan yang menggetarkan hati. Ia adalah kesadaran bahwa setiap langkah dipantau Allah.

Iman melahirkan keikhlasan.
Keikhlasan melahirkan keberkahan.

V. Memerangi Kekufuran: Memahami dengan Hikmah

Sebagian memahami ayat ini dalam konteks jihad melawan orang kafir agar masuk Islam.

Namun, para mufassir menjelaskan bahwa perjuangan itu bertujuan:

Menghilangkan penghalang dakwah.

Membebaskan manusia dari penindasan.

Menegakkan keadilan.

Karena Al-Qur’an juga menegaskan:
“Lā ikrāha fid-dīn” — Tidak ada paksaan dalam agama.

Maka jihad dalam makna ideologis-sufistik adalah perjuangan menegakkan nilai tauhid dalam kehidupan, bukan pemaksaan keyakinan.

VI. Krisis Umat dan Panggilan Kebangkitan

Hari ini kita menyaksikan paradoks:

Masjid megah, tetapi akhlak rapuh.

Kajian ramai, tetapi kepedulian sosial lemah.

Identitas Islam kuat, tetapi ruh ukhuwah retak.

Apakah ini wajah khaira ummah?

Ayat ini mengajak kita kembali pada misi:

Bangun iman yang dalam.

Hidupkan dakwah yang santun.

Tegakkan keberanian moral.

Umat terbaik bukan yang paling keras suaranya, tetapi paling tulus hatinya.
Bukan yang paling banyak simbolnya, tetapi paling nyata amalnya.

VII. Khaira Ummah di Era Digital

Di zaman digital, amar ma’ruf bisa melalui tulisan, video, pendidikan, dan gerakan sosial.

Sebagaimana Anda sering menekankan dalam dakwah reflektif, pena adalah cahaya. Kata adalah ladang pahala.

Jika generasi muda Islam menguasai teknologi dengan iman, maka mereka akan menjadi:

Influencer kebaikan.

Arsitek peradaban.

Penjaga moralitas zaman.

Khaira ummah hari ini adalah mereka yang:

Hatinya lembut.

Pikirannya jernih.

Dakwahnya mencerahkan.

Perjuangannya beradab.

Penutup: Amanah yang Harus Dijaga

Menjadi umat terbaik bukan privilese, tetapi amanah.

Setiap Muslim memikul ayat ini di pundaknya.
Setiap da'i membawa ayat ini dalam lisannya.
Setiap pemimpin mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.

Mari kita bertanya pada diri sendiri:

Sudahkah kita menyeru pada kebaikan dengan cinta?

Sudahkah kita mencegah kemungkaran dengan hikmah?

Sudahkah iman benar-benar hidup dalam dada kita?

Jika tiga hal ini bersatu, maka umat ini akan kembali bangkit.

Dan ketika umat ini bangkit bukan dengan kebencian, tetapi dengan iman dan akhlak, maka dunia akan kembali menyaksikan makna sejati dari:

“Kuntum khaira ummah…”

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari umat yang bukan hanya disebut terbaik, tetapi benar-benar membuktikannya dalam amal dan akhlak.
Aamiin.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update