Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Komunikasi Persuasif dalam Dakwah

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:39 WIB Last Updated 2026-02-11T20:39:40Z
Retorika Jiwa, Jalan Hidayah, dan Kritik atas Dakwah yang Kehilangan Ruh

Pendahuluan: Dakwah di Tengah Peradaban yang Bising

TintaSiyasi.id -- Kita hidup di zaman ketika kata-kata berlimpah, tetapi makna semakin langka. Mimbar dakwah penuh suara, media sosial dipenuhi ceramah, namun hati manusia justru kering dan resisten. Inilah paradoks peradaban modern: informasi melimpah, tetapi kesadaran menipis.

Di sinilah urgensi komunikasi persuasif dalam dakwah—bukan persuasi manipulatif ala iklan, melainkan persuasi ruhani: seni menyentuh qalb, membangunkan fitrah, dan menuntun jiwa kembali kepada Allah.

Dakwah sejati tidak dilahirkan dari kerasnya suara, tetapi dari kedalaman jiwa da’i.

Dakwah sebagai Jalan Jiwa, Bukan Sekadar Transfer Dalil

Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan dakwah dengan kekerasan psikologis. Justru Allah berfirman: “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini adalah manifesto psikologi dakwah Islam. Hikmah bukan sekadar kecerdasan intelektual, tetapi kematangan spiritual dalam membaca jiwa manusia.

Sebab manusia bukan hanya makhluk berpikir, ia adalah makhluk merasa, berharap, takut, dan mencintai.

Retorika Dakwah Berbasis Psikologi Ruhani

Retorika dakwah dalam Islam bukan seni bermain kata, melainkan seni membimbing kesadaran.

1. Retorika Hikmah: Bahasa yang Menyelamatkan Jiwa

Hikmah menuntut da’i:

Tidak tergesa menghakimi

Tidak mabuk kebenaran

Tidak merasa sebagai hakim Tuhan

Rasulullah ﷺ tidak memulai dakwah dengan vonis, tetapi dengan pendekatan jiwa. Bahkan kepada pendosa, beliau masih membuka pintu harapan.

Inilah dakwah yang menyembuhkan, bukan melukai.

2. Retorika Emosi: Menyentuh Qalb, Bukan Menekan Ego

Al-Qur’an penuh kisah, perumpamaan, dan sentuhan rasa. Itu bukan kebetulan—itulah metode ilahi.

Psikologi sufistik memahami:

Jiwa digerakkan oleh cinta

Nafsu dikendalikan oleh rasa takut

Amal dikuatkan oleh harapan

Dakwah tanpa sentuhan emosi adalah kering, sementara dakwah yang memanipulasi emosi adalah zalim.

3. Retorika Rasional: Menghormati Akal sebagai Amanah

Islam tidak mematikan akal, tetapi menyucikannya.

“Afala ta‘qilun…”
Tidakkah kalian berpikir?

Dakwah persuasif memberi ruang dialog, bukan intimidasi. Akal yang dihormati akan tunduk dengan kesadaran, bukan paksaan.

4. Retorika Keteladanan: Dakwah dengan Laku, Bukan Sekadar Lisan

Akhlak da’i adalah retorika paling jujur.
Ketika lisan berkata zuhud, tetapi hidup bergelimang ambisi dunia, maka dakwah kehilangan ruhnya.

Manusia lebih mudah percaya apa yang mereka lihat, daripada apa yang mereka dengar.

Kesalahan Psikologis dalam Dakwah Modern

Di sinilah dakwah sering tergelincir—bukan karena kurang dalil, tetapi karena hilang adab jiwa.

1. Dakwah dengan Nada Menghakimi

Nada superioritas adalah racun dakwah.
Ia membangkitkan ego mad’u, bukan kesadarannya.

Agama lalu tampil sebagai ancaman, bukan rahmat.

2. Over-Dalil, Minim Empati

Ayat dan hadits dipakai seperti palu, bukan sebagai cahaya. Padahal kebenaran tanpa kasih sayang hanya melahirkan ketundukan semu.

3. Eksploitasi Takut dan Dosa

Menjual neraka, membesar-besarkan ancaman, menekan rasa bersalah—ini bukan tazkiyah, tapi teror psikologis.

Islam datang untuk menyelamatkan jiwa, bukan meremukkannya.

4. Ego Da’i Mengalahkan Risalah

Ketika dakwah berubah menjadi panggung eksistensi, maka yang dicari bukan ridha Allah, melainkan pengakuan manusia.

Inilah penyakit paling halus dan paling mematikan.

Penutup: Dakwah sebagai Tazkiyatun Nafs

Dakwah sejati adalah proses penyucian jiwa, baik bagi mad’u maupun da’i. Dakwah bukan soal siapa paling benar,
tetapi siapa paling tulus membimbing.

Bukan siapa paling keras bersuara,
tetapi siapa paling dalam cintanya kepada Allah. Di tengah peradaban yang gaduh, dunia tidak butuh da’i yang pandai berteriak, tetapi da’i yang jiwanya tenang, akalnya jernih, dan hatinya penuh cahaya.

Semoga dakwah kita tidak hanya terdengar, tetapi menyentuh, menghidupkan, dan mengantarkan pulang jiwa-jiwa yang lelah.

Dr Nasrul Syarif M.Si
Penulis dan Akademisi

Opini

×
Berita Terbaru Update