Retorika Jiwa, Jalan Hidayah, dan Kritik atas Dakwah yang Kehilangan Ruh
Pendahuluan: Dakwah di Tengah Peradaban yang Bising
TintaSiyasi.id -- Kita hidup di zaman ketika kata-kata berlimpah, tetapi makna semakin langka. Mimbar dakwah penuh suara, media sosial dipenuhi ceramah, namun hati manusia justru kering dan resisten. Inilah paradoks peradaban modern: informasi melimpah, tetapi kesadaran menipis.
Di sinilah urgensi komunikasi persuasif dalam dakwah—bukan persuasi manipulatif ala iklan, melainkan persuasi ruhani: seni menyentuh qalb, membangunkan fitrah, dan menuntun jiwa kembali kepada Allah.
Dakwah sejati tidak dilahirkan dari kerasnya suara, tetapi dari kedalaman jiwa da’i.
Dakwah sebagai Jalan Jiwa, Bukan Sekadar Transfer Dalil
Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan dakwah dengan kekerasan psikologis. Justru Allah berfirman: “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini adalah manifesto psikologi dakwah Islam. Hikmah bukan sekadar kecerdasan intelektual, tetapi kematangan spiritual dalam membaca jiwa manusia.
Sebab manusia bukan hanya makhluk berpikir, ia adalah makhluk merasa, berharap, takut, dan mencintai.
Retorika Dakwah Berbasis Psikologi Ruhani
Retorika dakwah dalam Islam bukan seni bermain kata, melainkan seni membimbing kesadaran.
1. Retorika Hikmah: Bahasa yang Menyelamatkan Jiwa
Hikmah menuntut da’i:
Tidak tergesa menghakimi
Tidak mabuk kebenaran
Tidak merasa sebagai hakim Tuhan
Rasulullah ﷺ tidak memulai dakwah dengan vonis, tetapi dengan pendekatan jiwa. Bahkan kepada pendosa, beliau masih membuka pintu harapan.
Inilah dakwah yang menyembuhkan, bukan melukai.
2. Retorika Emosi: Menyentuh Qalb, Bukan Menekan Ego
Al-Qur’an penuh kisah, perumpamaan, dan sentuhan rasa. Itu bukan kebetulan—itulah metode ilahi.
Psikologi sufistik memahami:
Jiwa digerakkan oleh cinta
Nafsu dikendalikan oleh rasa takut
Amal dikuatkan oleh harapan
Dakwah tanpa sentuhan emosi adalah kering, sementara dakwah yang memanipulasi emosi adalah zalim.
3. Retorika Rasional: Menghormati Akal sebagai Amanah
Islam tidak mematikan akal, tetapi menyucikannya.
“Afala ta‘qilun…”
Tidakkah kalian berpikir?
Dakwah persuasif memberi ruang dialog, bukan intimidasi. Akal yang dihormati akan tunduk dengan kesadaran, bukan paksaan.
4. Retorika Keteladanan: Dakwah dengan Laku, Bukan Sekadar Lisan
Akhlak da’i adalah retorika paling jujur.
Ketika lisan berkata zuhud, tetapi hidup bergelimang ambisi dunia, maka dakwah kehilangan ruhnya.
Manusia lebih mudah percaya apa yang mereka lihat, daripada apa yang mereka dengar.
Kesalahan Psikologis dalam Dakwah Modern
Di sinilah dakwah sering tergelincir—bukan karena kurang dalil, tetapi karena hilang adab jiwa.
1. Dakwah dengan Nada Menghakimi
Nada superioritas adalah racun dakwah.
Ia membangkitkan ego mad’u, bukan kesadarannya.
Agama lalu tampil sebagai ancaman, bukan rahmat.
2. Over-Dalil, Minim Empati
Ayat dan hadits dipakai seperti palu, bukan sebagai cahaya. Padahal kebenaran tanpa kasih sayang hanya melahirkan ketundukan semu.
3. Eksploitasi Takut dan Dosa
Menjual neraka, membesar-besarkan ancaman, menekan rasa bersalah—ini bukan tazkiyah, tapi teror psikologis.
Islam datang untuk menyelamatkan jiwa, bukan meremukkannya.
4. Ego Da’i Mengalahkan Risalah
Ketika dakwah berubah menjadi panggung eksistensi, maka yang dicari bukan ridha Allah, melainkan pengakuan manusia.
Inilah penyakit paling halus dan paling mematikan.
Penutup: Dakwah sebagai Tazkiyatun Nafs
Dakwah sejati adalah proses penyucian jiwa, baik bagi mad’u maupun da’i. Dakwah bukan soal siapa paling benar,
tetapi siapa paling tulus membimbing.
Bukan siapa paling keras bersuara,
tetapi siapa paling dalam cintanya kepada Allah. Di tengah peradaban yang gaduh, dunia tidak butuh da’i yang pandai berteriak, tetapi da’i yang jiwanya tenang, akalnya jernih, dan hatinya penuh cahaya.
Semoga dakwah kita tidak hanya terdengar, tetapi menyentuh, menghidupkan, dan mengantarkan pulang jiwa-jiwa yang lelah.
Dr Nasrul Syarif M.Si
Penulis dan Akademisi