Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kiat Sukses Menjalankan Ibadah di Bulan Ramadhan

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:41 WIB Last Updated 2026-02-11T20:41:43Z

Ramadhan sebagai Madrasah Ruhani dan Proyek Perubahan Diri

Pendahuluan: Ramadhan Bukan Sekadar Kalender Ibadah

TintaSiyasi.id -- Ramadhan bukan bulan biasa. Ia bukan sekadar rutinitas tahunan yang datang lalu pergi. Ramadhan adalah madrasah ruhani, tempat Allah mendidik jiwa agar kembali jernih, tunduk, dan terarah.

Celakanya, banyak orang memasuki Ramadhan dengan semangat fisik, tetapi tanpa peta ruhani. Akibatnya, Ramadhan berlalu tanpa bekas mendalam—puasa dijalani, tarawih dilaksanakan, tetapi jiwa tetap sama.

Karena itu, sukses Ramadhan bukan diukur dari banyaknya aktivitas, melainkan dari perubahan orientasi hidup.

1. Meluruskan Niat: Ramadhan sebagai Jalan Taqwa
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan Ramadhan bukan lapar, melainkan taqwa. Maka niat perlu diluruskan:
bukan sekadar menahan makan, tetapi menahan diri dari segala yang menjauhkan dari Allah.
Niat yang benar akan mengubah puasa dari kebiasaan sosial menjadi ibadah ideologis.

2. Menjadikan Al-Qur’an sebagai Teman Intim
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, bukan hanya bulan khataman. Allah berfirman:
“Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an.”
(QS. al-Baqarah: 185)
Kiat suksesnya bukan semata banyaknya bacaan, tetapi kedekatan batin.
Baca dengan tadabbur, dengarkan dengan hati, dan biarkan ayat-ayat Allah mengoreksi cara berpikir dan cara hidup kita.
Al-Qur’an bukan untuk dikejar, tetapi untuk membimbing.

3. Menjaga Puasa dari Sekadar Lapar
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Betapa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Ahmad)
Puasa akan gagal bila:
• lisan masih berdusta,
• mata masih liar,
• hati masih dengki,
• dan media sosial menjadi ladang dosa.
Sukses Ramadhan berarti puasa anggota tubuh, bukan hanya perut.

4. Menghidupkan Malam, Bukan Menguras Energi
Qiyamul lail, tarawih, dan munajat malam bukan ajang pembuktian stamina, tetapi ruang kejujuran ruhani.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menghidupkan malam Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak harus panjang, tetapi khusyuk dan jujur. Lebih baik dua rakaat dengan hati hadir daripada dua puluh rakaat tanpa rasa.

5. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
Ramadhan adalah bulan pembersihan. Dzikir dan istighfar adalah sapu ruhani yang membersihkan hati dari debu dosa.
Biasakan:
• istighfar di waktu sahur,
• dzikir ringan di sela aktivitas,
• shalawat sebagai penenang jiwa.
Hati yang sering berdzikir akan lebih mudah menangis, lebih cepat tunduk, dan lebih ringan berbuat baik.

6. Memperkuat Sedekah dan Kepedulian Sosial
Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan (HR. Bukhari).
Sedekah bukan hanya uang, tetapi:
• waktu untuk keluarga,
• perhatian untuk yang lemah,
• memaafkan yang menyakiti,
• dan menahan ego demi persatuan.
Ramadhan yang sukses melahirkan empati, bukan sekadar kesalehan personal.

7. Menjaga Waktu dan Menghindari Kelalaian
Ramadhan adalah waktu yang mahal dan terbatas. Setiap jam adalah peluang pahala.
Batasi:
• obrolan sia-sia,
• hiburan berlebihan,
• scroll tanpa tujuan.
Sukses Ramadhan menuntut disiplin spiritual, bukan hanya semangat sesaat.

8. Memperbanyak Muhasabah dan Taubat
QS. al-Hasyr ayat 18 mengingatkan:
“Hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.”
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk:
• mengaudit dosa,
• memperbaiki niat,
• dan menyusun ulang arah hidup.
Taubat di Ramadhan bukan tanda kelemahan, tetapi kecerdasan ruhani.

Penutup: Ramadhan yang Mengubah, Bukan Sekadar Berlalu
Ramadhan yang sukses bukan Ramadhan yang penuh jadwal, tetapi Ramadhan yang meninggalkan bekas.
Jika setelah Ramadhan:
• shalat lebih terjaga,
• dosa lebih dibenci,
• Al-Qur’an lebih dirindukan,
• dan Allah lebih ditakuti,
maka Ramadhan telah menjalankan fungsinya.

Semoga Allah menjadikan Ramadhan ini titik balik, bukan sekadar pengulangan.
Ramadhan bukan tujuan akhir, tetapi jalan menuju taqwa yang berkelanjutan.
“Ya Allah, serahkan kami kepada Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepada kami, serta terimalah ia dari kami.” 

Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis dan Akademisi. Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update