Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ketika Pendidikan Kehilangan Ilmu

Kamis, 12 Februari 2026 | 03:39 WIB Last Updated 2026-02-11T20:39:29Z
Kritik Sistem Pendidikan Modern dalam Cermin Adab dan Hikmah

Pendahuluan: Sekolah yang Ramai, Manusia yang Kosong

TintaSiyasi.id -- Sistem pendidikan modern tampak megah dari luar: gedung tinggi, kurikulum tebal, teknologi canggih, dan deretan gelar akademik. Namun satu kegelisahan terus mengemuka: mengapa semakin banyak orang bersekolah, tetapi semakin sedikit manusia yang beradab?

Hikmah para ulama mengingatkan:
Belajarlah ilmu. Jika engkau mempunyai harta, ilmumu menjadi keindahan. Jika engkau tidak mempunyai harta maka ilmumu menjadi harta. Kalimat ini adalah vonis diam-diam atas pendidikan modern yang mengajarkan keterampilan, tetapi lupa membentuk manusia.

Pendidikan yang Menukar Ilmu dengan Nilai Pasar

Dalam sistem modern, pendidikan direduksi menjadi investasi ekonomi. Sekolah bukan lagi tempat pematangan akal dan jiwa, melainkan pabrik tenaga kerja.

Ilmu diukur bukan dari:
• kedalaman makna,
• ketajaman nurani,
• atau kemuliaan akhlak,
melainkan dari:
• daya serap industri,
• kecepatan menghasilkan uang,
• posisi di pasar kerja.

Akibatnya, lahirlah generasi yang terampil tetapi rapuh, cerdas tetapi mudah dibeli.
Imam al-Māwardī telah mengingatkan:
ilmu yang dipisahkan dari adab akan berubah menjadi alat eksploitasi.

Sekolah bagi yang Mampu, Bukan bagi yang Berhak

Hikmah di atas menegaskan bahwa ilmu adalah harta bagi yang miskin. Namun sistem pendidikan modern justru memutarbalikkan makna ini.

Hari ini:
• pendidikan berkualitas menjadi hak istimewa,
• biaya tinggi menyaring peserta didik,
• kecerdasan kalah oleh kemampuan finansial.

Ilmu tidak lagi memerdekakan yang lemah,
justru memperkuat dominasi yang kuat.
Maka pendidikan gagal menjalankan fungsi dasarnya: mengangkat derajat manusia, bukan mengunci takdir sosial.

Ilmu sebagai Sertifikat, Bukan Kepribadian

Dalam sistem modern, ilmu direpresentasikan oleh:
• ijazah,
• transkrip,
• ranking,
• skor.

Ilmu tidak lagi membentuk kepribadian, tetapi portofolio.
Seseorang dinilai bukan dari:
• kejujuran,
• kedewasaan berpikir,
• kepekaan sosial,
melainkan dari selembar kertas.
Padahal dalam tradisi adab, ilmu adalah cahaya yang tampak dalam sikap, bukan angka di laporan akademik.

Pendidikan Tanpa Adab: Pabrik Kesombongan

Imam al-Māwardī menempatkan adab sebagai fondasi ilmu. Pendidikan modern justru memisahkan keduanya.

Hasilnya:
• siswa pandai merendahkan yang lemah,
• mahasiswa cerdas tetapi sinis,
• intelektual fasih bicara namun miskin empati.

Ilmu menjadi alat merasa lebih tinggi,
bukan sarana menjadi lebih bertanggung jawab. Inilah pendidikan yang melahirkan kesombongan intelektual massal.

Ilmu yang Tidak Membebaskan

Hikmah ulama menegaskan: ilmu adalah harta yang tidak bisa dirampas. Namun pendidikan modern justru menciptakan ketergantungan:
• ketergantungan pada gelar,
• ketergantungan pada institusi,
• ketergantungan pada pengakuan eksternal.

Manusia tidak dididik untuk berpikir merdeka, tetapi untuk patuh pada sistem.
Ilmu kehilangan daya pembebasannya.
Ia menjadi borgol halus yang disebut “kompetensi”.

Mendidik untuk Dunia, Melupakan Akhirat

Sistem pendidikan modern alergi pada pertanyaan makna:
• Untuk apa hidup?
• Apa tujuan ilmu?
• Ke mana arah peradaban?

Pertanyaan ini dianggap tidak produktif.
Padahal menurut Imam al-Māwardī, ilmu tanpa orientasi akhirat adalah penipuan halus terhadap jiwa. Manusia disiapkan sukses, tetapi tidak disiapkan selamat.

Mengembalikan Pendidikan kepada Ilmu yang Hakiki

Esai ini bukan nostalgia romantik, melainkan seruan peradaban.
Pendidikan harus dikembalikan pada:
• ilmu sebagai pembentuk adab,
• sekolah sebagai ruang pemanusiaan,
• guru sebagai teladan, bukan sekadar pengajar.

Ilmu harus:
• memperindah yang kaya,
• memerdekakan yang miskin,
• menenangkan yang gelisah,
• membimbing yang kuat agar tidak zalim.

Penutup: Pendidikan atau Penjinakan?

Pertanyaannya kini sederhana namun menentukan: Apakah pendidikan modern masih mendidik manusia, atau hanya menjinakkan mereka agar cocok dengan sistem? Jika ilmu tidak lagi menjadi:
• keindahan bagi yang kaya,
• harta bagi yang miskin,
maka yang tersisa hanyalah pendidikan mahal
yang kehilangan ruh, adab, dan arah.

Dan peradaban yang kehilangan ilmu sejati
sedang berjalan cepat menuju kehancurannya—
dengan ijazah di tangan dan kehampaan di jiwa.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update