Tintasiyasi.ID-- Pendahuluan
Perjalanan seorang hamba menuju Allah ibarat sebuah safar panjang. Ia membutuhkan bekal, kendaraan, dan tujuan yang jelas. Tanpa itu semua, ia akan tersesat di tengah jalan. Ulama besar Makkah, Sayyid Abu Bakar Syathā, menjelaskan bahwa jalan menuju Allah terbagi dalam tiga dimensi yang saling terkait: Syariat, Tarekat, dan Hakikat.
Beliau menegaskan:
“Syariat adalah ibarat kapal, tarekat adalah perjalanan dengan kapal itu, dan hakikat adalah sampai ke tujuan yang dituju.”
Tiga istilah ini bukan jalan yang terpisah, melainkan satu kesatuan: siapa pun yang ingin sampai kepada Allah tidak bisa meninggalkan salah satunya.
1. Syariat: Fondasi Kehidupan Beragama
Syariat (الشريعة) adalah hukum-hukum lahiriah yang Allah turunkan untuk mengatur ibadah, muamalah, akhlak, dan segala urusan manusia. Ia adalah perintah dan larangan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Allah berfirman:
“…Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu, dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)
Tanpa syariat, agama kehilangan bentuk lahiriahnya.
Shalat, puasa, zakat, haji, halal-haram makanan, muamalah—semua itu adalah syariat.
Orang yang meninggalkan syariat tetapi mengaku mengenal Allah, hakikatnya hanyalah mengikuti hawa nafsu.
Imam al-Junaid al-Baghdadi berkata:
“Semua jalan tertutup kecuali bagi orang yang mengikuti jejak Rasulullah ﷺ.”
2. Tarekat: Jalan Menyucikan Jiwa
Tarekat (الطريقة) secara bahasa berarti “jalan”. Dalam istilah tasawuf, ia adalah usaha seorang hamba untuk menjalani syariat dengan ikhlas, penuh kesungguhan, sambil membersihkan hati dari penyakit batin.
Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mujahadah) di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Tarekat adalah mujahadah untuk menundukkan hawa nafsu, meninggalkan sifat tercela, dan menghiasi diri dengan akhlak mulia.
Dzikir, wirid, muraqabah (merasa diawasi Allah), muhasabah (introspeksi), sabar, syukur, tawakal—semua ini bagian dari tarekat.
Dalam tarekat, seorang murid biasanya dibimbing oleh guru mursyid yang telah menempuh jalan batin, agar terhindar dari jebakan hawa dan syetan.
Sayyid Abu Bakar Syathā menjelaskan:
“Tarekat adalah beramal dengan syariat secara ikhlas, menghiasi hati dengan ketaatan, dan membersihkannya dari kotoran hawa nafsu.”
Imam al-Ghazālī berkata:
“Tarekat tidak lain adalah menghidupkan batin syariat, agar amal tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga diterima di sisi Allah.”
3. Hakikat: Buah dari Syariat dan Tarekat
Hakikat (الحقيقة) adalah sampainya seorang hamba pada ma‘rifatullāh, yaitu penyaksian batin terhadap keagungan Allah. Ia bukan ajaran baru, melainkan buah dari kesungguhan menjalankan syariat melalui jalan tarekat.
Allah berfirman:
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqīn (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)
Hakikat bukan berarti meninggalkan syariat, tetapi merasakan inti dan ruh di balik syariat itu sendiri.
Orang yang shalat dengan hakikat, ia tidak hanya menggerakkan tubuh, tetapi juga hatinya hadir di hadapan Allah.
Orang yang berzikir dengan hakikat, lisannya berucap dan hatinya tenggelam dalam cahaya Allah.
Sayyid Abu Bakar Syathā:
“Hakikat adalah sampainya hati seorang hamba kepada Allah setelah ia menunaikan syariat dan menempuh jalan tarekat.”
Ibnu ‘Atha’illah al-Iskandari berkata dalam Hikam:
“Amal adalah pohon, tarekat adalah cabang, dan hakikat adalah buah. Tidak ada buah tanpa pohon, dan tidak ada pohon tanpa buah.”
Hubungan Syariat – Tarekat – Hakikat
Sayyid Abu Bakar Syathā memberikan perumpamaan:
Syariat = pohon
Tarekat = cabang dan daun
Hakikat = buah
Jika hanya ada pohon tanpa buah → tidak sempurna.
Jika ingin buah tanpa menanam pohon → mustahil.
Jika hanya merawat daun tanpa pohon → sia-sia.
Inilah inti pesan beliau:
Orang yang berpegang pada syariat tanpa memperhatikan batin, amalnya kering.
Orang yang mengaku hakikat tanpa syariat, sesat.
Orang yang menggabungkan syariat, tarekat, dan hakikat → dialah yang berjalan di atas jalan para salafush shalih.
Refleksi Kehidupan
1. Syariat menjaga lahir → ibadah, halal-haram, akhlak.
2. Tarekat mendidik batin → ikhlas, sabar, tawakal, dzikir.
3. Hakikat membuahkan ma‘rifat → hati yang tenang bersama Allah, cinta kepada-Nya lebih dari apapun.
Imam Malik rahimahullah berkata:
“Barang siapa bertasawuf tanpa fiqh (syariat), maka ia zindiq. Barang siapa berfiqh tanpa tasawuf, maka ia fasik. Dan barang siapa menggabungkan keduanya, maka ia sampai kepada kebenaran.”
Penutup
Nasihat Sayyid Abu Bakar Syathā adalah pengingat bahwa jalan menuju Allah tidak pernah cukup hanya dengan syariat lahiriah, atau hanya dengan latihan batin semata, tetapi harus menyatu antara syariat, tarekat, dan hakikat.
Syariat memberi kerangka amal.
Tarekat memberi ruh amal.
Hakikat memberi buah amal berupa ma‘rifat dan kebahagiaan sejati.
Maka seorang muslim sejati hendaknya teguh dalam syariat, tekun dalam tarekat, dan berdoa agar Allah anugerahkan hakikat. Itulah jalan lurus para nabi, sahabat, salafus shalih, dan para wali Allah.
Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)