TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Ekosida, Kejahatan Sunyi terhadap Kehidupan
Ekosida bukan sekadar kerusakan lingkungan. Ia adalah kejahatan sistemik terhadap kehidupan, penghancuran terencana atas bumi yang Allah amanahkan kepada manusia. Hutan diratakan, sungai diracuni, udara dikotori, tanah dirampas. Semua atas nama “pembangunan” dan “pertumbuhan ekonomi”.
Namun pertanyaan mendasarnya:
Pembangunan untuk siapa? Pertumbuhan demi nilai apa?
Dalam pandangan Islam, bumi bukan objek eksploitasi, melainkan ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah yang harus dijaga, dihormati, dan ditunaikan haknya. Maka, ekosida sejatinya adalah pemberontakan ideologis terhadap kehendak Ilahi.
Ekosida: Buah Pahit Ideologi Materialistik
Ekosida lahir bukan dari ketidaksengajaan, tetapi dari cara pandang hidup (worldview) yang rusak. Ideologi kapitalisme menjadikan alam sekadar komoditas, bukan amanah. Nilai ditentukan oleh laba, bukan maslahat. Keberhasilan diukur oleh pertumbuhan ekonomi, bukan keberkahan kehidupan.
Dalam sistem ini:
Hutan dihitung sebagai aset industri
Air diprivatisasi
Tanah dijadikan instrumen spekulasi
Manusia diposisikan sebagai konsumen, bukan khalifah
Allah Swt., telah mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini bukan sekadar peringatan moral, tetapi kritik ideologis atas sistem hidup yang menyalahi fitrah.
Islam dan Politik: Menjaga Kehidupan sebagai Amanah Kekuasaan
Dalam Islam, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan ri’ayah syu’unil ummah, yakni mengurus urusan umat, termasuk menjaga keberlanjutan alam.
Politik Islam berdiri di atas prinsip:
Tauhid → Alam adalah milik Allah
Khilafah → Manusia adalah pengelola, bukan pemilik
Amanah → Kekuasaan harus menjaga kehidupan, bukan merusaknya
Maslahah → Kebijakan harus melahirkan kemanfaatan umum
Maka, negara dalam Islam haram melegitimasi ekosida. Kekuasaan yang membiarkan perusakan alam sejatinya telah kehilangan legitimasi moral dan spiritual.
Dimensi Sufistik: Merusak Alam adalah Merusak Jiwa
Tasawuf mengajarkan bahwa jiwa manusia terhubung dengan alam semesta. Ketika alam rusak, sesungguhnya jiwa manusia sedang sakit. Keserakahan (tamak), cinta dunia (hubbud dunya), dan lupa akhirat adalah akar terdalam ekosida.
Para sufi memandang alam sebagai:
Sahabat dzikir
Cermin kehadiran Allah
Ruang tazkiyatun nafs
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa kerakusan terhadap dunia adalah sumber kehancuran batin dan sosial. Maka ekosida adalah krisis spiritual yang menjelma menjadi krisis ekologis.
Membangun Kesadaran Kritis: Dari Taat Personal ke Tanggung Jawab Ideologis
Kesadaran ekologis dalam Islam tidak berhenti pada imbauan moral individual seperti “jangan buang sampah sembarangan”. Islam menuntut kesadaran kritis ideologis, yakni:
Memahami sistem apa yang merusak alam
Menyadari siapa yang diuntungkan
Mengkritisi kebijakan yang menindas bumi dan manusia
Menolak normalisasi kejahatan ekologis
Inilah yang disebut jihad kesadaran (jihad fikriyah) melawan narasi palsu pembangunan yang menindas kehidupan.
Politik Islam sebagai Jalan Pembebasan Ekologis
Dalam politik Islam:
Sumber daya alam adalah milik umum
Negara wajib mengelolanya untuk kemaslahatan rakyat
Privatisasi yang merusak kehidupan adalah kezaliman
Kebijakan ekonomi tunduk pada syariat, bukan pasar
Inilah politik yang:
Membebaskan manusia dari kerakusan
Menjaga keseimbangan alam
Menghadirkan keberkahan, bukan sekadar pertumbuhan
Allah Swt., berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56).
Ayat ini adalah manifesto ekologis Islam.
Penutup: Dari Kesadaran Menuju Perubahan
Melawan ekosida bukan pilihan, tetapi kewajiban iman. Kesadaran kritis harus dibangun di mimbar dakwah, di ruang akademik, di kebijakan publik, dan dalam laku spiritual.
Islam tidak mengajarkan kita menjadi saleh yang pasif, tetapi khalifah yang bertanggung jawab. Bumi ini akan bersaksi, apakah kita menjaganya atau justru menghancurkannya atas nama keuntungan sesaat.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang:
Jernih akalnya
Lembut jiwanya
Tegas sikap ideologisnya
Dan istiqamah menjaga amanah bumi
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa