Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Membangun Kesadaran Kritis Melawan Ekosida dalam Ideologi Politik Islam

Selasa, 03 Februari 2026 | 19:09 WIB Last Updated 2026-02-03T12:09:14Z
TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Ekosida, Kejahatan Sunyi terhadap Kehidupan

Ekosida bukan sekadar kerusakan lingkungan. Ia adalah kejahatan sistemik terhadap kehidupan, penghancuran terencana atas bumi yang Allah amanahkan kepada manusia. Hutan diratakan, sungai diracuni, udara dikotori, tanah dirampas. Semua atas nama “pembangunan” dan “pertumbuhan ekonomi”.

Namun pertanyaan mendasarnya:
Pembangunan untuk siapa? Pertumbuhan demi nilai apa?

Dalam pandangan Islam, bumi bukan objek eksploitasi, melainkan ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah yang harus dijaga, dihormati, dan ditunaikan haknya. Maka, ekosida sejatinya adalah pemberontakan ideologis terhadap kehendak Ilahi.

Ekosida: Buah Pahit Ideologi Materialistik

Ekosida lahir bukan dari ketidaksengajaan, tetapi dari cara pandang hidup (worldview) yang rusak. Ideologi kapitalisme menjadikan alam sekadar komoditas, bukan amanah. Nilai ditentukan oleh laba, bukan maslahat. Keberhasilan diukur oleh pertumbuhan ekonomi, bukan keberkahan kehidupan.

Dalam sistem ini:

Hutan dihitung sebagai aset industri

Air diprivatisasi

Tanah dijadikan instrumen spekulasi

Manusia diposisikan sebagai konsumen, bukan khalifah

Allah Swt., telah mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini bukan sekadar peringatan moral, tetapi kritik ideologis atas sistem hidup yang menyalahi fitrah.

Islam dan Politik: Menjaga Kehidupan sebagai Amanah Kekuasaan

Dalam Islam, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan ri’ayah syu’unil ummah, yakni mengurus urusan umat, termasuk menjaga keberlanjutan alam.

Politik Islam berdiri di atas prinsip:

Tauhid → Alam adalah milik Allah

Khilafah → Manusia adalah pengelola, bukan pemilik

Amanah → Kekuasaan harus menjaga kehidupan, bukan merusaknya

Maslahah → Kebijakan harus melahirkan kemanfaatan umum

Maka, negara dalam Islam haram melegitimasi ekosida. Kekuasaan yang membiarkan perusakan alam sejatinya telah kehilangan legitimasi moral dan spiritual.

Dimensi Sufistik: Merusak Alam adalah Merusak Jiwa

Tasawuf mengajarkan bahwa jiwa manusia terhubung dengan alam semesta. Ketika alam rusak, sesungguhnya jiwa manusia sedang sakit. Keserakahan (tamak), cinta dunia (hubbud dunya), dan lupa akhirat adalah akar terdalam ekosida.

Para sufi memandang alam sebagai:

Sahabat dzikir

Cermin kehadiran Allah

Ruang tazkiyatun nafs

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa kerakusan terhadap dunia adalah sumber kehancuran batin dan sosial. Maka ekosida adalah krisis spiritual yang menjelma menjadi krisis ekologis.

Membangun Kesadaran Kritis: Dari Taat Personal ke Tanggung Jawab Ideologis

Kesadaran ekologis dalam Islam tidak berhenti pada imbauan moral individual seperti “jangan buang sampah sembarangan”. Islam menuntut kesadaran kritis ideologis, yakni:

Memahami sistem apa yang merusak alam

Menyadari siapa yang diuntungkan

Mengkritisi kebijakan yang menindas bumi dan manusia

Menolak normalisasi kejahatan ekologis

Inilah yang disebut jihad kesadaran (jihad fikriyah) melawan narasi palsu pembangunan yang menindas kehidupan.

Politik Islam sebagai Jalan Pembebasan Ekologis

Dalam politik Islam:

Sumber daya alam adalah milik umum

Negara wajib mengelolanya untuk kemaslahatan rakyat

Privatisasi yang merusak kehidupan adalah kezaliman

Kebijakan ekonomi tunduk pada syariat, bukan pasar

Inilah politik yang:

Membebaskan manusia dari kerakusan

Menjaga keseimbangan alam

Menghadirkan keberkahan, bukan sekadar pertumbuhan

Allah Swt., berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56).

Ayat ini adalah manifesto ekologis Islam.

Penutup: Dari Kesadaran Menuju Perubahan

Melawan ekosida bukan pilihan, tetapi kewajiban iman. Kesadaran kritis harus dibangun di mimbar dakwah, di ruang akademik, di kebijakan publik, dan dalam laku spiritual.

Islam tidak mengajarkan kita menjadi saleh yang pasif, tetapi khalifah yang bertanggung jawab. Bumi ini akan bersaksi, apakah kita menjaganya atau justru menghancurkannya atas nama keuntungan sesaat.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang:

Jernih akalnya

Lembut jiwanya

Tegas sikap ideologisnya

Dan istiqamah menjaga amanah bumi

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum  Doktor Muslim Peduli Bangsa

Opini

×
Berita Terbaru Update