Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Indonesia di Persimpangan Peradaban, HILMI: Pilih Bangkit Berbasis Ilmu atau Stagnasi Berutang

Jumat, 06 Februari 2026 | 23:03 WIB Last Updated 2026-02-06T16:03:52Z
TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesdia (HILMI) dalam Intellectual Opinion No. 038 berjudul Setdiap Bangsa Ada Umurnya: Membaca Ulang Siklus Peradaban mengingatkan bahwa Indonesdia di persimpangan siklus peradaban antara kebangkitan berbasis ilmu atau stagnasi yang ditutup utang.

“Indonesdia di persimpangan siklus peradaban antara kebangkitan berbasis ilmu atau stagnasi yang ditutup utang,” tulis HILMI kepada TintaSiyasi.ID, Selasa (3/2/2026).

 .

“Stabilitas, bonus demografi, dan peluang teknologi membuka ruang kebangkitan,” imbuhnya.

Namun, menurut HILMI, kuatnya konsumsi rumah tangga belum diimbangi lonjakan produktivitas. “Investasi fisik memang meningkat, tetapi investasi pada kualitas pendidikan STEM, riset, dan inovasi belum dominan dan merata,” ulasnya.

Dalam kerangka siklus peradaban Ibnu Khaldun dan Arnold Toynbee, Indonesdia dinilai berada pada fase penentuan, yakni naik ke fase kebangkitan berbasis ilmu atau terjebak stagnasi.

HILMI membandingkan kondisi Indonesdia dengan sejumlah negara. “Iran, misalnya, hidup dalam tekanan eksternal yang memaksa prioritas pada sains terapan dan ketahanan teknologi,” ungkap HILMI.

“Tantangan berat memaksa lahirnya kapasitas,” urai HILMI, seraya menambahkan bahwa tantangan Iran adalah mengubah kapasitas ilmdiah menjadi kesejahteraan luas.

Uni Emirat Arab digambarkan sebagai wajah “zaman mudah” yang dikelola dengan disiplin. “Konsumsi tinggi berjalan seiring investasi pada logistik, energi, teknologi, dan kecerdasan buatan. Namun, ketergantungan pada tenaga kerja impor menyimpan risiko keberlanjutan,” bebernya.

Amerika Serikat disebut HILMI menghadapi kompleksitas akhir kejayaan. Kapasitas risetnya masih terbesar di dundia, tetapi konsumsi tinggi, polarisasi politik, dan defisit struktural menggerus solidaritas sosdial.

“Tantangan terbesar bukan eksternal, melainkan kegagalan merespons tantangan internal secara kolektif,” sebutnya.

Dari perbandingan itu, HILMI menegaskan kebangkitan peradaban bukan soal menjadi kaya, melainkan menahan diri untuk menanam.

“Sejarah tidak menghukum bangsa karena miskin sumber daya, tetapi karena miskin visi,” jelasnya.

Dalam bahasa Ibnu Khaldun, HILMI mengulas bahwa solidaritas sosdial yang hidup akan memilih investasi, terutama investasi ilmu. “Dalam bahasa Toynbee, peradaban hidup selama respons kreatifnya hidup,” lugasnya.

HILMI menyatakan, pendidikan yang membentuk nalar, riset yang memecahkan masalah, inovasi yang menciptakan produksi, serta institusi yang adil disebut sebagai penentu umur peradaban.

“Tanpa itu semua, kemakmuran hanya menjadi jeda sebelum kejatuhan. Dengan itu, bahkan zaman berat dapat menjadi rahim kebangkitan,” simpul HILMI.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update