“Setiap bangsa memiliki umur peradaban yang ditentukan oleh kekuatan solidaritas dan pilihannya terhadap ilmu pengetahuan,” ulas HILMI kepada TintaSiyasi.ID.
“Sejarah tidak bergerak acak. Bangsa-bangsa bangkit, berjaya, lalu runtuh mengikuti pola yang bisa dibaca,” demikdian disampaikan dalam dokumen tersebut.
Dia mengutip Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 34, “Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya telah datang, mereka tidak dapat menundanya sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.”
HILMI merujuk pemikiran Ibnu Khaldun yang menyatakan peradaban lahir dari solidaritas sosdial yang melahirkan disiplin, keberandian, dan keseddiaan berkorban. “Solidaritas itu memungkinkan masyarakat menahan diri demi tujuan bBersama,” bebernya.
Namun, menurut HILMI, kemakmuran sering justru melemahkan ikatan tersebut. “Kenyamanan menggantikan pengorbanan, kemewahan mengikis disiplin, dan kepentingan pribadi mengalahkan tujuan kolektif.
“Di titik itu, kemerosotan dimulai,” tulis HILMI.
Pandangan tersebut diperkuat teori Arnold Toynbee tentang challenge and response. “Peradaban, menurut Toynbee, bangkit bukan karena kondisi mudah, melainkan karena mampu merespons tantangan secara kreatif,” sebutnya.
HILMI menyebut zaman berat melahirkan generasi yang kuat, sementara zaman mudah rawan melahirkan generasi yang lemah. “Ungkapan populer itu sejalan dengan analisis klasik para sejarawan peradaban,” urainya.
“Secara ekonomi, siklus moral itu tercermin pada pilihan antara konsumsi dan investasi. Kebangkitan selalu ddiawali keputusan menahan konsumsi hari ini demi investasi masa depan, terutama investasi manusia dan ilmu,” lugas HILMI.
“Ketika investasi produktif lebih besar daripada konsumsi, surplus tercipta dan kemandirdian menguat,” urai HILMI.
Sebaliknya, dia mengamati bahwa keruntuhan dimulai ketika konsumsi melampaui produksi dan ditutup dengan defisit serta utang. “Utang hanya memberi ilusi keberlanjutan, sementara produktivitas stagnan,” lanjut HILMI menjelaskan.
“Dalam konteks modern, medan utama pilihan itu adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan STEM—sains, teknologi, rekayasa, dan matematika—, riset, dan inovasi dinilai sebagai fondasi umur peradaban,” ulasnya.
“Ilmu membutuhkan rumah institusional berupa keadilan dan tata kelola agar berbuah,” imbuhnya.
Tanpa itu, HILMI mengingatkan bahwa pendidikan berubah menjadi formalitas, riset menjadi kewajiban administratif, dan inovasi kalah oleh spekulasi.
“Tanpa solidaritas yang hidup dan investasi ilmu, kemakmuran hanya menjadi jeda sebelum kejatuhan,” tandas HILMI.[] Rere