Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ilmu dan Akal: Sumber Kebahagiaan dan Kemuliaan Sejati

Selasa, 03 Februari 2026 | 11:59 WIB Last Updated 2026-02-03T04:59:21Z
Refleksi Ideologis–Sufistik untuk Membangunkan Kesadaran Umat

TintaSiyasi.id -- Di tengah dunia yang menjadikan harta sebagai ukuran bahagia dan jabatan sebagai standar mulia, Islam datang dengan ukuran yang berbeda. Ilmu dan akal dalam pandangan Islam bukan sekadar alat berpikir, tetapi cahaya kesadaran yang melahirkan ketenangan, penerimaan, dan kemuliaan hidup—meskipun harta sedikit dan kondisi sempit. Inilah kebahagiaan yang tidak bergantung pada angka, tetapi pada makna.

Kebahagiaan yang Lahir dari Penerimaan

Ilmu mengajarkan manusia untuk memahami hakikat hidup: bahwa dunia adalah ujian, bukan tujuan. Orang berilmu tidak selalu hidup dalam kelapangan materi, tetapi jiwanya lapang oleh penerimaan terhadap takdir Allah. Ia tidak mudah resah oleh keterbatasan, karena akalnya terdidik untuk melihat hikmah di balik setiap keadaan.

Sebaliknya, orang yang miskin ilmu mudah terjatuh dalam keluh kesah, meski hidupnya tampak berkecukupan. Ia memiliki banyak, tetapi tidak pernah merasa cukup. Inilah kemiskinan paling menyakitkan: miskin makna.

Ilmu Memuliakan yang Hina

Sejarah umat Islam adalah saksi bahwa kemuliaan tidak diwariskan oleh darah dan harta, tetapi diangkat oleh ilmu. Betapa banyak orang yang secara sosial dipandang hina, namun Allah muliakan dengan ilmunya. Lidahnya jujur, pikirannya jernih, dan akhlaknya meneduhkan.
Ilmu menjadikan seseorang:
• bernilai meski tanpa panggung,
• berwibawa meski tanpa kekuasaan,
• dan dihormati meski hidup sederhana.
Inilah kemuliaan yang tidak bisa dibeli oleh dunia.

Kebodohan Menghinakan yang Mulia

Sebaliknya, betapa banyak orang yang tampak mulia secara duniawi—kaya, berkuasa, terhormat—namun terjatuh oleh kebodohannya sendiri. Kebodohan di sini bukan semata kurang pengetahuan, tetapi ketiadaan kesadaran tentang tujuan hidup dan tanggung jawab moral.
Kebodohan melahirkan:
• kesombongan,
• kezaliman,
• dan keangkuhan yang merusak.
Ia membuat manusia lupa bahwa setiap kelebihan adalah amanah, bukan alasan untuk merendahkan sesama.

Ilmu dan Akal sebagai Pilar Ideologi Islam

Islam menempatkan ilmu dan akal sebagai fondasi kebangkitan umat. Akal yang tercerahkan oleh wahyu melahirkan peradaban yang adil dan beradab. Sebaliknya, akal yang dipisahkan dari nilai ilahiah melahirkan kekacauan, meski dibungkus kemajuan teknologi.

Inilah kritik ideologis Islam terhadap peradaban materialistik: cerdas secara teknis, tetapi miskin kebijaksanaan.
Ilmu dalam Islam bukan untuk menaklukkan manusia lain, tetapi untuk menundukkan ego dan mendekatkan diri kepada Allah.

Ilmu Melahirkan Ridha dan Ketenangan
Dalam perspektif sufistik, puncak ilmu bukanlah banyaknya hafalan, tetapi lahirnya ridha. Ridha bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar, tetapi tenang dalam berjuang, sabar dalam ujian, dan syukur dalam keterbatasan.
Orang berilmu:
• bekerja tanpa gelisah berlebihan,
• berjuang tanpa putus asa,
• dan menerima tanpa kehilangan harapan.
Inilah kebahagiaan yang tidak terguncang oleh perubahan keadaan.

Penutup: Bangkit dengan Ilmu, Tenang dengan Akal

Umat ini tidak akan bangkit hanya dengan kekayaan alam dan jumlah yang besar, tetapi dengan ilmu yang mencerahkan akal dan menenangkan jiwa. Ketika ilmu kembali menjadi cahaya, dan akal kembali tunduk pada wahyu, umat akan menemukan kembali jati dirinya.
Ilmu menjadikan hidup bermakna meski sederhana.

Kebodohan menjadikan hidup hampa meski bergelimang harta.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang melahirkan kebahagiaan, akal yang membimbing kepada penerimaan, dan hati yang mulia meski hidup sederhana. Dengan itulah umat ini akan bangkit—tenang, bermartabat, dan diridhai Allah.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update