Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Godaan Halus di Tengah Aktivisme Keimanan

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:33 WIB Last Updated 2026-02-11T12:33:11Z

TintaSiyasi.id -- Dalam perjalanan dakwah, tantangan terbesar sering kali tidak datang dari luar barisan, melainkan dari dalam diri para pengembannya sendiri. Cinta dunia, dengan segala bentuknya: kenyamanan hidup, ambisi materi, popularitas, dan pujian manusia, menjadi penyakit laten yang perlahan melemahkan daya juang dakwah. Ia tidak selalu hadir dalam rupa dosa besar yang kasatmata, tetapi sering menjelma sebagai kompromi kecil yang terus berulang hingga menggerus keteguhan prinsip.

Rasulullah SAW telah mengingatkan sejak awal, “Bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatirkan dunia dibentangkan bagi kalian sebagaimana dibentangkan bagi umat sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba, hingga dunia membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Hadis ini menegaskan bahwa kemunduran umat sering kali berakar pada keterikatan berlebihan pada dunia.

Cinta Dunia dan Melemahnya Militansi Dakwah

Dalam konteks dakwah hari ini, cinta dunia tidak selalu berarti hidup mewah. Ia bisa hadir dalam bentuk keengganan mengambil risiko, ketakutan kehilangan kenyamanan, atau keinginan untuk tetap diterima oleh semua pihak. Ketika dakwah mulai diukur dengan popularitas, jangkauan media, atau stabilitas finansial semata, maka orientasi perlahan bergeser dari kebenaran menuju keamanan pribadi.

Padahal, sejarah Islam menunjukkan bahwa dakwah selalu menuntut keberanian melawan arus. Para sahabat Rasulullah SAW rela meninggalkan harta, keluarga, bahkan nyawa demi menyampaikan risalah. Allah SWT memuji generasi ini, “Mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS Al-Hasyr: 9). Ayat ini menggambarkan jiwa dakwah yang bersih dari dominasi cinta dunia.

Budaya Materialisme dan Tekanan Sistemis

Melemahnya barisan dakwah juga tidak dapat dilepaskan dari sistem sosial yang melanggengkan materialisme. Kapitalisme modern menjadikan keberhasilan diukur dengan kepemilikan dan pencitraan. Dalam sistem seperti ini, nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kesederhanaan sering dianggap tidak produktif.

Tekanan sistemik ini masuk ke ruang dakwah, membentuk cara berpikir pragmatis: dakwah yang “aman”, tidak mengganggu status quo, dan selaras dengan selera pasar. Akibatnya, dakwah kehilangan daya kritisnya terhadap ketidakadilan struktural dan penyimpangan nilai.

Al-Qur’an mengingatkan, “Ketahuilah, kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling bermegah-megahan….” (QS Al-Hadid: 20). Ayat ini bukan ajakan untuk meninggalkan dunia secara fisik, tetapi peringatan agar dunia tidak menguasai orientasi perjuangan.

Dakwah Antara Keikhlasan dan Pencitraan

Di era digital, tantangan cinta dunia semakin kompleks. Dakwah berhadapan dengan algoritma, angka penonton, dan validasi publik. Tidak sedikit pengemban dakwah yang tanpa sadar terjebak dalam pencitraan, di mana ukuran keberhasilan dakwah direduksi menjadi popularitas, bukan perubahan kesadaran umat.

Nilai dakwah tidak ditentukan oleh tampilan luar, melainkan oleh keikhlasan dan dampaknya terhadap kebenaran. Ketika cinta dunia menguasai hati, keberanian menyampaikan kebenaran berkurang. Dakwah menjadi lunak terhadap kebatilan, toleran terhadap kezaliman, dan enggan mengambil posisi tegas.

Dampak Politik dari Dakwah yang Melemah
Dakwah yang kehilangan militansi tidak hanya berdampak secara spiritual, tetapi juga politis. Umat kehilangan arah, sementara sistem yang zalim tetap lestari tanpa kritik berarti. Ketika para pengemban dakwah lebih sibuk menjaga kenyamanan pribadi, maka peran dakwah sebagai penjaga nurani umat melemah.

Islam tidak memisahkan dakwah dari tanggung jawab sosial dan politik. Amar makruf nahi mungkar adalah pilar utama umat terbaik (QS Ali Imran: 110). Jika fungsi ini dilemahkan oleh cinta dunia, maka umat akan kehilangan daya koreksi terhadap kekuasaan dan kebijakan yang menyimpang.

Menguatkan Kembali Barisan dengan Zuhud yang Aktif

Islam tidak mengajarkan asketisme pasif, tetapi zuhud yang aktif: mengelola dunia tanpa menjadikannya tujuan. Para pengemban dakwah dituntut untuk membersihkan hati dari ketergantungan pada dunia agar tetap merdeka dalam bersikap dan berani dalam menyampaikan kebenaran.

Rasulullah SAW bersabda, “Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu; dan bersikap zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.” (HR Ibnu Majah). Zuhud di sini adalah kebebasan batin dari dominasi dunia, bukan kemiskinan struktural.

Khatimah
Cinta dunia adalah penyakit yang melemahkan barisan dakwah secara perlahan, namun pasti. Ia merusak keikhlasan, mengaburkan visi, dan melumpuhkan keberanian. Menghadapi tantangan zaman, para pengemban dakwah dituntut untuk terus melakukan tazkiyatun nafs, membersihkan hati, agar dakwah tetap tegak sebagai suara kebenaran, bukan gema kepentingan.
Wallahu ‘alam bishshawwab.


Oleh: Mamik Susanti
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update