Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Empat Simpanan Menuju Keselamatan: Menundukkan Nafsu, Menjemput Cahaya Ilahi

Senin, 23 Februari 2026 | 21:28 WIB Last Updated 2026-02-23T14:29:38Z
TintaSiyasi.id -- Refleksi atas Nasihat Emas Hasan al-Bashri
Pendahuluan: Api yang Bermula dari Dalam
Neraka bukan hanya api di akhirat. Ia bermula dari api nafsu yang tidak terkendali di dunia.
Syetan tidak selalu mengetuk pintu besar kemaksiatan, tetapi masuk melalui celah emosi yang tak terjaga.

Hasan al-Bashri ra. memberikan nasihat emas:
“Barangsiapa memiliki empat simpanan, Allah mengharamkannya dari neraka dan melindunginya dari syetan: menguasai diri saat senang, saat takut, saat syahwat, dan saat marah.”

Empat perkara ini adalah fondasi keselamatan. Ia bukan teori moral, tetapi strategi ruhani.

I. Menguasai Diri Saat Senang

Ujian Kenikmatan dan Maqam Syukur

Tidak semua orang runtuh saat diuji kesulitan. Banyak yang justru jatuh ketika diuji kelapangan.

Allah Swt., berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
(إبراهيم: ٧)

Dan peringatan-Nya:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
(النجم: ٣٢)

Rasulullah Saw., ketika mendapatkan nikmat justru semakin tunduk:
 أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
(رواه البخاري ومسلم)

Menguasai diri saat senang berarti:

Tidak sombong

Tidak berlebih-lebihan

Tidak melupakan ibadah

Tidak melupakan kaum lemah

Nikmat yang tidak dikendalikan menjadi istidraj.
Nikmat yang dikendalikan menjadi tangga menuju maqam الشكر.

II. Menguasai Diri Saat Takut

Dari Ketakutan Menuju Takwa

Takut adalah fitrah. Namun, jika salah arah, ia melahirkan kompromi terhadap kebenaran.

Allah Swt., berfirman:
إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ ۖ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
(آل عمران: ١٧٥)

Dan:
فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ
(المائدة: ٤٤)

Rasulullah Saw., bersabda:

> احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ
(رواه الترمذي)

Menguasai diri saat takut berarti:

Tidak menjual prinsip.

Tidak berkhianat demi keselamatan sesaat.

Tidak memutarbalikkan kebenaran.

Takut yang terarah melahirkan maqam التقوى.

III. Menguasai Diri Saat Syahwat

Jihad Terpanjang Seorang Hamba

Allah Swt., menyingkap hakikat jiwa:

> إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي
(يوسف: ٥٣)

Namun Allah memberi kabar gembira:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
(النازعات: ٤٠–٤١)

Rasulullah Saw., bersabda:

> الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ
(رواه الترمذي)

Syahwat di era modern tidak hanya tentang jasad, tetapi juga:

Syahwat popularitas

Syahwat kekuasaan

Syahwat pengaruh digital

Siapa yang mampu mengendalikannya, ia mencapai maqam العفة.
IV. Menguasai Diri Saat Marah

Kekuatan Sejati Seorang Mukmin

Allah Swt., memuji orang-orang yang menahan amarah:

> وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(آل عمران: ١٣٤)

Rasulullah Saw., bersabda:

> لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
(رواه البخاري ومسلم)

Dan nasihat singkat beliau:

> لَا تَغْضَبْ
(رواه البخاري)

Marah yang dilepas menghancurkan.
Marah yang ditahan melahirkan maqam الحلم.

Dimensi Ideologis: Revolusi Jiwa Sebelum Revolusi Sosial

Peradaban runtuh bukan karena lemahnya sistem, tetapi karena rusaknya kontrol diri.

Pemimpin gagal mengendalikan syahwat kekuasaan.

Masyarakat gagal mengendalikan amarah kolektif.

Individu gagal mengendalikan kesenangan dan ketakutan.

Maka nasihat Hasan al-Bashri bukan hanya untuk individu, tetapi untuk membangun umat.

Revolusi terbesar adalah revolusi jiwa.

Sintesis Ruhani: Empat Maqam Keselamatan

Empat simpanan ini melahirkan empat maqam:

1. الشكر saat senang

2. التقوى saat takut

3. العفة saat syahwat

4. الحلم saat marah

Inilah inti tazkiyatun nafs.
Inilah benteng dari neraka.
Inilah pelindung dari syetan.

Doa Penutup
 اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang menguasai dirinya sebelum dirinya dikuasai hawa nafsu.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si
Penulis, Akademisi, dan Spiritual Motivator

Opini

×
Berita Terbaru Update