Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Al-Ghaflah: Penyakit Hati dan Jalan Menuju Kesadaran Ruhani

Senin, 23 Februari 2026 | 21:40 WIB Last Updated 2026-02-23T14:40:59Z
TintaSiyasi.id -- Telaah Mukāsyafatul Qulūb karya Imam Al-Ghazali
Dalam kitab Mukāsyafatul Qulūb, sang Hujjatul Islam Al-Ghazali menjelaskan bahwa al-ghaflah (kelalaian) adalah penyakit hati yang halus, tetapi mematikan. Ia tidak terasa seperti dosa besar, tetapi dampaknya jauh lebih luas. Ia mematikan rasa iman, menghilangkan nikmat ibadah, dan menutup pintu kesadaran akhirat.
Kelalaian adalah kondisi ketika hati lupa kepada Allah, lupa tujuan penciptaannya, dan larut dalam arus dunia tanpa kesadaran ruhani.

I. Hakikat Al-Ghaflah: Tidurnya Hati
Al-Ghazali menggambarkan hati manusia seperti cermin. Jika ia bersih, cahaya Ilahi memantul di dalamnya. Namun jika ia tertutup debu kelalaian, cahaya itu terhalang.
Kelalaian bukan sekadar lupa sesaat, tetapi kondisi batin yang terus-menerus:
• Lalai dari dzikir
• Lalai dari kematian
• Lalai dari hisab
• Lalai dari tanggung jawab akhirat
Inilah yang menyebabkan hidup terasa kosong meski dunia diraih.

II. Dampak Buruk Al-Ghaflah
Menurut Al-Ghazali, ghaflah melahirkan berbagai penyakit lanjutan:
1.  Penyesalan Berkepanjangan
Orang lalai baru sadar ketika waktu telah berlalu. Penyesalan datang saat kesempatan telah tertutup.
2. Hilangnya Nikmat Ibadah
Shalat terasa berat. Al-Qur’an tidak menyentuh hati. Dzikir terasa hambar.
3. Penghalang Kedekatan dengan Allah
Hati yang lalai sulit merasakan khusyuk dan kehadiran Ilahi.
4. Memperbesar Dengki dan Kebencian
Ketika hati jauh dari Allah, ia mudah dipenuhi iri dan ambisi dunia.
5. Kekecewaan Eksistensial
Dunia yang dijadikan tujuan tidak pernah benar-benar memuaskan.

III. Sebab-Sebab Kelalaian
Al-Ghazali menguraikan beberapa sebab utama:
• Cinta dunia berlebihan
• Terlalu banyak makan dan tidur
• Pergaulan yang tidak saleh
• Banyak bicara sia-sia
• Lalai dari muhasabah
Kelalaian tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan melalui kebiasaan kecil.

IV. Obat Al-Ghaflah Menurut Al-Ghazali
1.  Dzikir yang Menghidupkan Hati
Dzikir adalah lawan langsung ghaflah.
Bukan sekadar lisan, tetapi kesadaran hadirnya Allah dalam setiap keadaan.
Dzikir yang konsisten akan melembutkan hati dan menghidupkan rasa iman.

2.  Mengingat Kematian
Al-Ghazali menekankan pentingnya dzikrul maut. Orang yang sering mengingat kematian tidak akan larut dalam kesia-siaan.
Kesadaran akan kubur dan hari kebangkitan menata ulang prioritas hidup.

3.  Muhasabah Harian
Introspeksi adalah alarm spiritual.
Setiap malam, seorang mukmin hendaknya mengevaluasi dirinya:
• Apa yang telah aku perbaiki?
• Apa yang harus aku taubati?
Muhasabah memutus rantai kelalaian sebelum ia mengakar.

4.  Menghadiri Majelis Ilmu
Ilmu adalah cahaya yang membangunkan.
Majelis ilmu ibarat percikan api yang menghidupkan bara iman.
Hati yang lama tidak disentuh nasihat akan mengeras.

5.  Mengurangi Ketergantungan pada Dunia
Zuhud adalah perisai dari ghaflah.
Bukan meninggalkan dunia, tetapi tidak menjadikannya tujuan utama.
Dunia cukup di tangan, bukan di hati.

V. Perspektif Psikologi Spiritual
Al-Ghazali sebenarnya sedang mengajarkan psikologi kesadaran.
Ghaflah adalah kondisi “auto-pilot spiritual”.
Manusia bergerak tanpa kesadaran nilai.
Kesadaran (yaqzhah) adalah tahap awal perjalanan ruhani.
Ketika hati terbangun:
• Dunia terlihat kecil
• Akhirat terasa dekat
• Ibadah menjadi kebutuhan, bukan beban

VI. Relevansi di Era Modern
Hari ini ghaflah semakin sistemik:
• Distraksi digital tanpa henti
• Informasi melimpah tanpa kedalaman
• Ambisi material yang terus dipompa
• Standar kesuksesan yang dangkal
Manusia sibuk, tetapi kosong.
Terhubung secara global, tetapi terputus dari Tuhan.
Obatnya tetap sama seperti yang diajarkan Al-Ghazali berabad-abad lalu.

VII. Jalan Menuju Yaqzhah (Kesadaran)
Perjalanan ruhani dimulai dengan satu langkah: sadar.
Sadar bahwa hidup terbatas.
Sadar bahwa waktu tidak kembali.
Sadar bahwa Allah selalu melihat.
Dari kesadaran lahir taubat.
Dari taubat lahir ketenangan.
Dari ketenangan lahir kedekatan dengan Allah.

Penutup: Bangkit dari Tidur Panjang
Kelalaian adalah tidur panjang jiwa.
Dzikir adalah alarmnya.
Ilmu adalah cahayanya.
Muhasabah adalah penjaganya.

Jika hati ingin hidup, ia harus sering dibangunkan. Jika jiwa ingin selamat, ia harus sering diingatkan.
Sebagaimana pesan Imam Al-Ghazali dalam Mukāsyafatul Qulūb, keselamatan bukan bagi yang banyak aktivitasnya, tetapi bagi yang hatinya hidup.
Semoga Allah menjauhkan kita dari ghaflah dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang sadar, hadir, dan istikamah.

Dr Nasrul Syarif, M.Si.  
Penulis, Akademisi dan Spiritual Motivator

Opini

×
Berita Terbaru Update