Hikmah dari Nasha’ihal-‘Ibad karya Imam Nawawi al-Bantani
TintaSiyasi.id -- Dalam kitab Nasha’ihal-‘Ibad, Imam Nawawi al-Bantani mengutip sebuah sabda Rasulullah ﷺ tentang dua perkara paling utama dalam kehidupan seorang mukmin.
Berikut lafaz hadis tersebut dalam bahasa Arab:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: خَصْلَتَانِ لَيْسَ فَوْقَهُمَا شَيْءٌ: الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَالنَّفْعُ لِلْمُسْلِمِينَ، وَخَصْلَتَانِ لَيْسَ دُونَهُمَا شَيْءٌ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالضَّرَرُ لِلْمُسْلِمِينَ.
Artinya: “Ada dua perkara yang tidak ada sesuatu pun yang lebih utama dari keduanya: iman kepada Allah dan memberi manfaat bagi kaum Muslimin. Dan ada dua perkara yang tidak ada sesuatu pun yang lebih buruk dari keduanya: syirik kepada Allah dan memberi mudarat kepada kaum Muslimin.”
Hadis ini sangat komprehensif. Ia tidak hanya menjelaskan puncak kebaikan, tetapi juga puncak keburukan.
I. Puncak Kebaikan: Iman dan Manfaat
1. Iman kepada Allah
Iman adalah fondasi seluruh amal. Tanpa iman, amal tidak bernilai di sisi Allah. Dengan iman, amal sederhana menjadi agung.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلنَّعِيمِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga-surga kenikmatan.” (QS. Luqman: 8)
Iman adalah cahaya yang menghidupkan hati dan mengarahkan seluruh gerak hidup kepada Allah.
2. Memberi Manfaat bagi Kaum Muslimin
Iman sejati melahirkan kepedulian sosial. Ia tidak berhenti pada ibadah pribadi, tetapi mengalir menjadi manfaat bagi umat.
Manfaat dapat diwujudkan melalui:
• Ucapan: nasihat, dakwah, doa
• Kekuasaan: keadilan dan perlindungan
• Harta: zakat, sedekah, wakaf
• Tenaga: pelayanan dan pertolongan
Seorang mukmin sejati menjadi rahmat bagi sekitarnya.
Dua Perkara Paling Utama: Iman kepada Allah dan Memberi Manfaat bagi Sesama
Di antara mutiara nasihat yang dihimpun oleh ulama besar Nusantara, Imam Nawawi al-Bantani, dalam kitab Nashā’ih al-‘Ibād, terdapat sabda Rasulullah ﷺ yang sangat mendasar: “Ada dua perkara yang tiada sesuatu apa pun yang lebih utama dari keduanya: iman kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama Muslim.”
Hadis ini bukan sekadar anjuran moral. Ia adalah rumus kebangkitan pribadi dan peradaban. Ia merangkum seluruh dimensi Islam dalam dua poros besar:
1. Iman kepada Allah (dimensi vertikal – hubungan dengan Rabb)
2. Memberi manfaat kepada sesama (dimensi horizontal – hubungan dengan makhluk)
Jika dua fondasi ini kokoh, maka kokohlah pribadi dan bangkitlah umat.
I. IMAN KEPADA ALLAH: AKAR SEGALA KEMULIAAN
1. Iman sebagai Pondasi Kehidupan
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga-surga kenikmatan.” (QS. Luqman: 8)
Iman adalah asas. Ia bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi keyakinan yang menghidupkan hati.
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa iman adalah:
• keyakinan dalam hati
• pengakuan dengan lisan
• pembuktian dengan amal
Tanpa iman, amal hanyalah aktivitas kosong.
Dengan iman, amal kecil menjadi bernilai besar di sisi Allah.
2. Iman sebagai Cahaya (Nur)
Dalam perspektif sufistik, iman adalah cahaya yang Allah tanamkan dalam hati.
Allah berfirman:
ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَوۡلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخۡرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِۗ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ
“ Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 257)
Iman mengeluarkan manusia dari:
• gelapnya kebingungan
• gelapnya kesombongan
• gelapnya cinta dunia
Iman membuat hati hidup.
Tanpa iman, manusia mungkin cerdas secara intelektual, tetapi gelap secara spiritual.
3. Iman Melahirkan Ketundukan Total
Iman sejati melahirkan kepasrahan (Islam). Ia menumbuhkan:
• rasa takut kepada Allah (khauf)
• harap akan rahmat-Nya (raja’)
• cinta yang mendalam (mahabbah)
Orang yang beriman tidak hanya takut neraka, tetapi malu kepada Allah.
Iman bukan sekadar doktrin; ia adalah getaran jiwa.
II. MEMBERI MANFAAT BAGI SESAMA: BUAH IMAN YANG SEJATI
Jika iman adalah akar, maka manfaat adalah buahnya.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis lain:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Iman yang tidak melahirkan manfaat adalah iman yang belum sempurna.
1. Manfaat dengan Ucapan
Ucapan seorang mukmin adalah rahmat:
• nasihat yang lembut
• doa yang tulus
• penguatan bagi yang lemah
Satu kalimat bisa mengangkat semangat orang yang hampir putus asa.
Allah berfirman:
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ ٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ يَنزَغُ بَيۡنَهُمۡۚ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ كَانَ لِلۡإِنسَٰنِ عَدُوّٗا مُّبِينٗا
“ Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Isra’: 53)
2.Manfaat dengan Kekuasaan
Jika Allah memberi amanah kekuasaan, maka manfaatkan untuk:
• menegakkan keadilan
• melindungi yang lemah
• mempermudah urusan umat
Kekuasaan tanpa iman menjadi tirani.
Kekuasaan dengan iman menjadi rahmat.
3.Manfaat dengan Harta
Harta dalam Islam bukan tujuan, tetapi sarana.
Zakat, infak, sedekah, wakaf — semuanya adalah bukti bahwa iman melahirkan kepedulian sosial.
Orang yang beriman sadar bahwa harta hanyalah titipan.
4. Manfaat dengan Tenaga dan Khidmah
Tidak semua orang memiliki harta atau jabatan. Tetapi setiap orang bisa memberi manfaat dengan tenaga:
• membantu orang tua
• menolong tetangga
• mengajar ilmu
• membersihkan masjid
Khidmah (pelayanan) adalah mahkota orang beriman.
III. DIMENSI IDEOLOGIS: RUMUS KEBANGKITAN UMAT
Hadis ini bukan hanya etika individu, tetapi formula kebangkitan peradaban.
Peradaban Islam runtuh ketika:
• iman melemah
• kepedulian sosial hilang
Ketika iman kuat tetapi egoisme tinggi → lahir kesalehan individualistik.
Ketika kepedulian sosial ada tetapi iman lemah → lahir aktivisme tanpa arah akhirat.
Islam mengajarkan keseimbangan.
Iman membangun jiwa.
Manfaat membangun masyarakat.
IV. DIMENSI SUFISTIK: CINTA KEPADA ALLAH MELAHIRKAN CINTA KEPADA MAKHLUK
Seorang arif billah mencintai Allah.
Dan siapa yang mencintai Allah akan mencintai makhluk-Nya.
Ia tidak sanggup melihat:
• saudaranya kelaparan
• umatnya terpuruk
• masyarakatnya tersesat
Iman melunakkan hati.
Hati yang lunak mudah tergerak untuk memberi.
Hati yang keras sulit peduli.
V. REFLEKSI UNTUK DIRI DAN UMAT
Mari kita bertanya:
• Apakah iman kita sudah menggerakkan kepedulian?
• Apakah ibadah kita sudah melahirkan manfaat?
• Apakah keberadaan kita menjadi solusi atau beban?
Seorang mukmin sejati bukan hanya ahli sujud, tetapi ahli manfaat.
VI. KESIMPULAN: MENJADI MUKMIN YANG UTUH
Dua perkara paling utama:
1. Iman kepada Allah
2. Memberi manfaat bagi sesama
Iman tanpa manfaat adalah kurang sempurna.
Manfaat tanpa iman kehilangan nilai akhirat.
Iman adalah akar.
Manfaat adalah buah.
Iman adalah cahaya.
Manfaat adalah sinarnya.
Iman adalah hubungan dengan Allah.
Manfaat adalah rahmat untuk umat.
Semoga kita menjadi hamba yang:
• kokoh imannya
• luas manfaatnya
• bersih hatinya
• hidupnya membawa rahmat
Karena orang yang dekat kepada Allah dan bermanfaat bagi sesama adalah manusia paling mulia di sisi-Nya.
II. Puncak Keburukan: Syirik dan Membahayakan Sesama
Hadis ini juga menegaskan dua keburukan terbesar:
1. Syirik kepada Allah – merusak hubungan vertikal
2. Membahayakan sesama Muslim – merusak hubungan horizontal
Syirik menghancurkan fondasi iman.
Menyakiti sesama menghancurkan bangunan sosial.
Islam dibangun di atas tauhid dan ukhuwah.
Jika tauhid rusak → hancur hubungan dengan Allah.
Jika ukhuwah rusak → hancur hubungan dengan manusia.
Hikmah Ideologis dan Sufistik
Hadis ini merangkum seluruh bangunan Islam:
• Tauhid (hubungan dengan Allah)
• Rahmat sosial (hubungan dengan manusia)
Iman melahirkan cinta kepada Allah.
Cinta kepada Allah melahirkan cinta kepada makhluk-Nya.
Seorang arif tidak mungkin mencintai Allah tetapi menyakiti hamba-Nya.
Refleksi
Mari bertanya kepada diri:
• Apakah iman kita semakin kokoh?
• Apakah keberadaan kita semakin bermanfaat?
• Ataukah kita justru menjadi sebab mudarat bagi orang lain?
Karena ukuran kemuliaan bukan hanya panjangnya ibadah, tetapi luasnya manfaat.
Penutup
Dua perkara paling tinggi: Iman kepada Allah. Memberi manfaat bagi sesama
Dua perkara paling rendah: Syirik kepada. Allah Memberi mudarat kepada sesama
Semoga kita termasuk hamba yang:
• bersih tauhidnya
• lembut hatinya
• luas manfaatnya
Dan semoga Allah menjauhkan kita dari segala bentuk syirik dan segala bentuk menyakiti sesama.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)