TintaSiyasi.id -- Perspektif Hikmah Ibnu ‘Athaillah dalam Tajul ‘Arus
Dalam khazanah tasawuf Ahlussunnah, dosa (maksiat) tidak hanya dipahami sebagai pelanggaran hukum syariat, tetapi sebagai kegelapan yang menimpa hati dan sebab terhalangnya cahaya Ilahi. Di antara ulama yang banyak mengurai dimensi ini adalah Ibnu Athaillah al-Iskandari, khususnya dalam karya beliau Taj al-'Arus.
Ibnu ‘Athaillah memandang kemaksiatan bukan hanya kesalahan perbuatan, tetapi gejala penyakit ruhani yang berdampak luas pada jiwa, akal, bahkan pada realitas sosial.
Tulisan ini akan mengurai dampak kemaksiatan dalam dua dimensi besar: lahiriah (zahir) dan batiniah (ruhiyah).
I. Dampak Batiniah: Ketika Hati Kehilangan Cahaya
1. Tertutupnya Cahaya Ma’rifat
Dalam perspektif tasawuf, hati adalah wadah cahaya. Ketika maksiat dilakukan terus-menerus tanpa taubat, hati menjadi gelap.
Ibnu ‘Athaillah menegaskan bahwa dosa adalah sebab utama terhalangnya hamba dari kehadiran Allah dalam batinnya.
Hati yang gelap akan:
• Sulit merasakan nikmat ibadah
• Berat melakukan kebaikan
• Mudah tergoda oleh hawa nafsu
Kemaksiatan ibarat debu yang menutupi cermin hati.
2. Hilangnya Kelembutan dan Khusyu’
Dosa mengeraskan hati.
Orang yang sering bermaksiat akan:
• Tidak tersentuh oleh nasihat
• Tidak menangis dalam doa
• Tidak merasa bersalah saat melanggar
Padahal kelembutan hati adalah tanda hidupnya ruh.
Ketika hati keras, iman melemah.
3. Terputusnya Rasa Dekat dengan Allah
Salah satu dampak paling berbahaya dari maksiat adalah rasa jauh dari Allah.
Bukan Allah yang menjauh, tetapi hati yang tertutup.
Ibnu ‘Athaillah menekankan bahwa maksiat menciptakan hijab (penghalang) antara hamba dan Rabb-nya. Semakin sering dosa dilakukan, semakin tebal hijab itu.
Akibatnya:
• Doa terasa hampa
• Dzikir terasa kering
• Ibadah terasa formalitas
4. Kegelisahan Batin
Maksiat mungkin memberi kenikmatan sesaat, tetapi meninggalkan kegelisahan yang panjang.
Hati yang berdosa akan:
• Merasa kosong
• Gelisah tanpa sebab
• Tidak menemukan ketenangan
Karena ketenangan sejati hanya lahir dari ketaatan.
II. Dampak Lahiriah: Ketika Dosa Memengaruhi Realitas
Tasawuf tidak memisahkan batin dan lahir. Apa yang rusak di dalam, akan tampak di luar.
1. Terhalangnya Rezeki dan Keberkahan
Dalam banyak nasihat ulama, dosa menjadi sebab terhalangnya keberkahan.
Rezeki mungkin tetap datang, tetapi:
• Tidak membawa ketenangan
• Tidak membawa kebahagiaan
• Tidak membawa keberkahan
Ibnu ‘Athaillah mengisyaratkan bahwa keberkahan adalah buah ketaatan.
2. Rusaknya Akhlak dan Hubungan Sosial
Kemaksiatan yang berulang akan memengaruhi karakter.
• Lisan menjadi kasar
• Hati menjadi dengki
• Perilaku menjadi tidak jujur
Dosa individu dapat berdampak sosial. Ketika maksiat menjadi budaya, masyarakat kehilangan rasa malu dan adab.
3. Hilangnya Wibawa Ruhani
Orang yang menjaga diri dari maksiat memiliki cahaya pada wajah dan sikapnya.
Sebaliknya, dosa yang terus-menerus menghilangkan wibawa ruhani. Ia mungkin memiliki jabatan, tetapi kehilangan kharisma batin.
Wibawa sejati bukan dari gelar, tetapi dari ketakwaan.
III. Akar Kemaksiatan Menurut Tasawuf
Ibnu ‘Athaillah melihat bahwa maksiat lahir dari:
• Cinta dunia yang berlebihan
• Lalai dari dzikir
• Mengikuti hawa nafsu
• Lemahnya muraqabah (merasa diawasi Allah)
Ketika hati lalai, dosa menjadi ringan.
Ketika hati hidup, dosa terasa berat.
IV. Jalan Kembali: Taubat sebagai Cahaya
Dalam tasawuf, tidak ada pintu yang tertutup selama taubat masih terbuka.
Taubat yang benar meliputi:
1. Menyesal sepenuh hati
2. Berhenti dari dosa
3. Bertekad tidak mengulanginya
4. Mengganti dengan amal saleh
Ibnu ‘Athaillah mengajarkan bahwa dosa yang disertai penyesalan dan kerendahan hati bisa lebih mendekatkan kepada Allah daripada ketaatan yang melahirkan kesombongan.
Ini paradoks spiritual yang dalam.
V. Refleksi Zaman Modern
Hari ini kemaksiatan tidak lagi tersembunyi. Ia sering dipertontonkan.
• Media sosial menormalisasi dosa
• Hiburan mengaburkan batas halal-haram
• Relativisme moral melemahkan rasa bersalah
Jika hati tidak dijaga, dosa menjadi biasa.
Jika dosa menjadi biasa, cahaya padam perlahan.
Karena itu, menjaga diri dari maksiat bukan hanya kewajiban hukum, tetapi kebutuhan ruhani.
Penutup: Jangan Biarkan Hati Gelap
Kemaksiatan bukan hanya kesalahan perilaku. Ia adalah racun bagi jiwa dan perusak cahaya batin.
Dampaknya:
• Menggelapkan hati
• Menghilangkan ketenangan
• Merusak hubungan dengan Allah
• Mengurangi keberkahan hidup
Maka, berhati-hatilah terhadap dosa sekecil apa pun. Karena kegelapan tidak datang sekaligus. Ia menumpuk sedikit demi sedikit.
Semoga Allah menjaga hati kita dari maksiat yang tampak maupun tersembunyi, dan menghiasi jiwa kita dengan cahaya taubat dan ketakwaan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Bekal Hidup Setelah Mati. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo