Pendahuluan: Mengapa Baitul Maqdis Harus Terus Diingat?
TintaSiyasi.id -- Baitul Maqdis bukan sekadar titik geografis di peta dunia. Ia adalah simpul akidah, simpul sejarah, dan simpul perjuangan umat Islam. Ketika dunia berusaha menjauhkan Palestina dari kesadaran umat, Islam justru mengikatnya erat melalui peristiwa agung Isra’ dan Mi‘raj.
Isra’ Mi‘raj bukan hanya perjalanan spiritual Rasulullah ﷺ, tetapi manhaj dakwah, peta ideologis, dan isyarat peradaban bagi umat Muhammad ﷺ hingga akhir zaman.
Isra’ Mi‘raj: Perjalanan Ruhani yang Sarat Pesan Ideologis
Allah SWT tidak memilih Baitul Maqdis secara kebetulan. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus Sidratul Muntaha—ini adalah rute ilahiah yang sarat makna.
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha…” (QS. Al-Isra’: 1)
Isra’ Mi‘raj terjadi saat Rasulullah ﷺ berada pada fase ujian dakwah paling berat: wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib, penolakan Thaif, dan tekanan kaum Quraisy. Namun justru pada saat itulah Allah mengangkat Rasul-Nya.
Pelajaran besar:
Ketika dakwah terasa berat, jangan menurunkan standar perjuangan—naikkan kualitas hubungan dengan Allah.
Baitul Maqdis: Titik Temu Langit dan Bumi
Masjidil Aqsha adalah:
Kiblat pertama umat Islam
Tanah para nabi
Pusat risalah tauhid lintas generasi
Simbol kesinambungan dakwah para rasul
Ketika Rasulullah ﷺ menjadi imam shalat para nabi di Masjidil Aqsha, itu adalah deklarasi kepemimpinan risalah Islam atas seluruh ideologi dan peradaban sebelumnya.
Islam bukan agama lokal.
Islam bukan sekadar ritual.
Islam adalah risalah global dan peradaban universal.
Palestina Hari Ini: Ujian Kesadaran Umat
Apa yang terjadi di Palestina hari ini bukan sekadar konflik politik atau kemanusiaan. Ia adalah ujian akidah dan keberpihakan ideologis umat Islam.
Penjajahan atas Palestina sejatinya adalah:
Penjajahan atas tanah suci
Penjajahan atas sejarah Islam
Penjajahan atas memori kolektif umat
Ketika umat diam, lupa, atau bersikap netral—saat itulah Isra’ Mi‘raj hanya tinggal cerita, bukan kesadaran perjuangan.
Thariqoh Dakwah Rasulullah ﷺ: Spiritualitas, Strategi, dan Kesabaran
Dakwah Rasulullah ﷺ tidak pernah kering dari ruh spiritual, namun juga tidak kosong dari strategi.
Thariqoh dakwah beliau mencakup:
1. Tazkiyatun Nafs
Membersihkan jiwa sebelum membangun peradaban.
2. Tarbiyah Ideologis
Menanamkan tauhid, bukan sekadar moralitas.
3. Kesabaran Revolusioner
Sabar bukan pasif, tapi konsisten di jalan kebenaran.
4. Kesadaran Umat Global
Rasulullah ﷺ mendidik umat agar berpikir lintas batas geografis dan etnis.
Isra’ Mi‘raj adalah energi ruhani yang menguatkan langkah dakwah Rasulullah ﷺ dalam menghadapi realitas bumi.
Baitul Maqdis Connect: Menghubungkan Langit, Bumi, dan Umat
“Baitul Maqdis Connect” adalah kesadaran bahwa:
Shalat kita terhubung dengan Masjidil Aqsha
Doa kita terhubung dengan penderitaan Palestina
Dakwah kita terhubung dengan manhaj Rasulullah ﷺ
Setiap kali kita shalat, sejatinya kita sedang: “Mengikat kembali simpul akidah yang pernah dipatrikan dalam Isra’ Mi‘raj.”
Penutup: Dari Isra’ Mi‘raj Menuju Kebangkitan Umat
Jika Isra’ Mi‘raj hanya kita rayakan tanpa keberpihakan pada Palestina, maka ia kehilangan ruhnya.
Jika Palestina hanya kita tangisi tanpa perubahan kesadaran, maka dakwah kehilangan arah.
Mari kita hidupkan kembali Isra’ Mi‘raj sebagai energi kebangkitan,
Mari kita jaga Baitul Maqdis dalam doa, dakwah, dan kesadaran ideologis,
Mari kita teladani thariqoh dakwah Rasulullah ﷺ—spiritual, cerdas, dan istiqamah.
Sebab umat yang terhubung dengan langit, tidak akan lama terjajah di bumi.
Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)