Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bencana Berulang, Perbaiki Sistemnya Sekarang

Minggu, 15 Februari 2026 | 02:21 WIB Last Updated 2026-02-14T19:21:53Z

TintaSiyasi.id -- Sudah jatuh tertimpa tangga pula, demikianlah gambaran situasi masyarakat Indonesia saat ini yang dihujani berita banjir dan longsor secara bertubi-tubi. Menurut data BNPB, selama periode 1-25 Januari 2026, sudah ada 128 kejadian banjir dan 15 bencana tanah longsor di Indonesia. Baru-baru ini, terjadi bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Hingga saat ini Minggu (1/2/2026), dilaporkan total temuan korban yang telah dievakuasi mencapai 70 kantong jenazah (bodypack) dan masih ada 10 orang dinyatakan hilang. (News Jabar, 1 Februari 2026)

Kabupaten Jember, Jawa Timur juga mengalami hal serupa. Hujan deras dengan intensitas tinggi sejak Rabu pada 28 Januari 2026 mengakibatkan banjir genangan di belasan lokasi, serta musibah tanah longsor. (Kabarbaik.co, 29 Januari 2026.)

Setelah menyaksikan rentetan kejadian ini, tak layak jika kita sekedar mengaitkannya pada ketetapan Ilahiah semata. Allah SWT telah mengingatkan manusia di dalam Al-Qur'an Surat Ar-Rum ayat ke 41 yang artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Jika sudah jatuh tertimpa tangga, maka masihkah kita hendak mengulanginya kembali? Jika semua kerusakan yang telah tampak ini masih belum menyadarkan manusia akan dosa-dosanya, maka setidaknya jangan pernah merasa suci tanpa dosa dan bersegeralah berbenah.Terlebih bagi mereka – para penguasa – yang terbukti gagal dalam mengemban amanah untuk menjaga kesejahteraan dan keamanan rakyat.

Pilu memang, melihat derita ratusan nyawa kini yang telah melayang. Namun kini mari kita lihat di beberapa saat sebelum terjadinya bencana. Banyak fakta di lapangan mengenai betapa buruknya kebijakan pemerintah dalam tata kelola alam dan ruang hidup. Pada kasus Cisarua, contohnya. Alih fungsi lahan yang semula merupakan kawasan hutan menjadi lahan pertanian ditengarai adalah pemicu terjadinya longsor. Meski kemudian para ahli berbantah-bantah mengenai penyebab ini. Seolah tak rela jika proyek-proyek mendatang akan terhenti akibat datangnya bencana alam.

Lagi-lagi, paradigma kapitalisme telah menyusup ke dalam sendi kehidupan dan mengakar dalam pemikiran para penguasa. Masyarakat pun tertular “penyakit” ini. Seolah tak ada jeda dalam mengejar keuntungan, mereka enggan berhenti dari praktik merusak alam dan mencari dalih pembenaran lewat data dan media yang dikemas cantik dan saintifik. 

Padahal Allah SWT telah menundukkan bumi untuk manusia agar mereka bisa mendapatkan apa pun yang mereka perlukan. Namun keserakahan manusia yang berkedok kemaslahatan umat menciptakan proyek-proyek raksasa yang menguntungkan segilintir orang dan menyusahkan banyak manusia lain. 

Sudah saatnya para pemimpin bangsa untuk kembali pada aturan Islam secara menyeluruh. Masihkah kita meragukan, suatu ketentuan yang berasal dari pemilik alam semesta beserta isinya? 

Jika para kapitalis berkata: “aturan (Al-Qur'an) tersebut telah usang”. Maka para pemimpin Islam seharusnya tahu bahwa ungkapan tersebut adalah celah untuk membebaskan hawa nafsu manusia. Sehingga manusia hidup semaunya sendiri, tanpa aturan, bebas, namun tak lebih dari layaknya hewan tak berakal. 

Allahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Anggun Surya Diantriana
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update