Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bahaya BoP, UIY: Membuka Jalan Kolonialisme Gaya Baru

Senin, 23 Februari 2026 | 11:39 WIB Last Updated 2026-02-23T04:39:44Z

TintaSiyasi.id -- Cendekiawan Muslim Ustaz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menilai Board of Peace (BoP) bentukan Amerika Serikat memiliki beberapa tujuan, satu yang paling berbahaya yakni membuka jalan kolonialisme gaya baru tanpa penjajahan formal.

 

"Proxy governance atau kolonialisme gaya baru, ini paling berbahaya Board of Peace (BoP) membuka Jalan kolonialisme gaya baru tanpa penjajahan formal," ucapnya di kanal YouTube UIY Official; Rahasia AS Membentuk BoP yang Jarang Diketahui, Sabtu (21/02/2029).

 

Lanjutnya, ia mencontohkan satu kondisi sebuah negara tetap ada, bendera tetap berkibar tetapi kebijakannya diawasi, pemerintahannya di supervise, dan kedaulatan efektifnya hilang. “Kondisi inilah yang disebut sebagai proxy governance,” tegas UIY.

 

"Jadi janganlah kita mudah tertipu dengan istilah perdamaian. Ketika perdamaian didefinisikan oleh satu kekuatan, yang lahir bukan perdamaian tetapi sebuah hegemoni," jelasnya.

 

Kemudian, pria kelahiran Yogyakarta itu memandang BoP sebagai cara AS menghindari hambatan Rusia dan Cina di Dewan Keamanan PBB. “Terlebih, secara geopolitik BoP sebuah alat rekayasa tatanan dunia baru yang berbasis uni polarisme Amerika Serikat,” lugas cendekiawan tersebut.

 

"Dunia diarahkan agar hanya ada satu pusat kuasa, satu wasit global, dan itu tak lain adalah Amerika Serikat. Nah, kenapa PBB mulai ditinggalkan karena di Dewan Keamanan PBB ada veto Rusia dan Cina. Veto ini dirasa menghambat agenda Amerika di berbagai wilayah dunia, Suriah, Palestina, Iran, Ukraina, Taiwan dan lainnya," terangnya.

 

"Lewat Board of Peace Amerika bisa bergerak tanpa veto, tanpa Rusia, tanpa Cina, dan keputusan dibuat oleh lingkaran yang mereka sepenuhnya kendalikan," tambahnya menegaskan.

 

Selain itu, UIY memandang BoP juga berfungsi untuk melegalkan setiap intervensi global AS, di antaranya ditervensi militer, penempatan rezim, rekayasa rezim bahkan juga pemerintahan transisi.

 

"Semuanya dibungkus oleh istilah manis 'peace building' dan 'stability operation', padahal substansinya tetap sama, intervensi dan kendali atau kontrol," bebernya.

 

Alhasil, Ia mengingatkan bahwasanya sebagai umat Islam kita harus cerdas membaca geopolitik lantaran dunia hari ini tidak dikendalikan oleh slogan, melainkan dikendalikan oleh kepentingan dan kekuasaan.

 

"Board of Peace itu bukan murni soal perdamaian, padahal secara geopolitik ini bukan soal damai, tetapi soal siapa yang hendak menguasai dunia," tandasnya.[] Taufan

Opini

×
Berita Terbaru Update