Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bahaya Akidah Sekuler dalam Kehidupan dan Pertentangannya dengan Akidah Islam

Selasa, 24 Februari 2026 | 05:46 WIB Last Updated 2026-02-23T22:46:31Z

TintaSiyasi.id -- Di antara pertarungan paling mendasar dalam kehidupan manusia adalah pertarungan aqidah. Aqidah bukan sekadar keyakinan di dalam hati, tetapi asas berpikir, asas menilai, dan asas bertindak. Ketika aqidah lurus, kehidupan terarah. Ketika aqidah rusak, peradaban ikut tersesat.

Salah satu aqidah yang paling dominan di dunia modern adalah sekularisme — pemisahan agama dari kehidupan. Secara sederhana, sekularisme meyakini bahwa agama hanya urusan pribadi, sementara politik, ekonomi, pendidikan, dan hukum diatur oleh akal manusia semata.

Inilah yang bertentangan secara mendasar dengan Aqidah Islam.

I. Hakikat Aqidah Islam
Aqidah Islam bukan sekadar pengakuan bahwa Allah itu ada. Aqidah Islam adalah keyakinan pasti bahwa:
• Allah adalah Pencipta,
• Allah adalah Pengatur,
• Allah adalah Pembuat hukum (Al-Hakim),
• Dan syariat-Nya wajib diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan.
Allah berfirman:
مَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسۡمَآءٗ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ إِنِ ٱلۡحُكۡمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ  

40. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan (Hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".

“Sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah.” (QS. Yusuf: 40)
Dan:
أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ  
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah: 50)

Aqidah Islam bersifat syamil (menyeluruh):
• Ruhiyyah (spiritual),
• Fikriyyah (pemikiran),
• Siyasiyyah (politik),
• Ijtima’iyyah (sosial).
Islam tidak mengenal pemisahan antara masjid dan kehidupan.

II. Hakikat Aqidah Sekuler

Sekularisme lahir dari konflik sejarah antara gereja dan negara di Eropa. Namun konsep ini kemudian menjadi ideologi global yang menyatakan:
• Agama tidak boleh mengatur negara,
• Wahyu tidak boleh menjadi sumber hukum publik,
• Moralitas ditentukan oleh kesepakatan manusia.
Dengan kata lain:
Tuhan diakui dalam ibadah,
tetapi ditolak dalam pengaturan kehidupan.
Ini adalah kontradiksi dalam tauhid.

III. Titik Pertentangan Mendasar

1. Soal Kedaulatan
• Islam: Kedaulatan milik Allah.
• Sekularisme: Kedaulatan milik manusia.
Dalam Islam, manusia tunduk kepada wahyu.
Dalam sekularisme, wahyu tunduk kepada suara mayoritas.
Padahal mayoritas tidak selalu benar.

2. Soal Standar Baik dan Buruk
Dalam Islam:
• Halal dan haram ditentukan syariat.
Dalam sekularisme:
• Moralitas relatif.
• Sesuatu dianggap benar jika disepakati.
Akibatnya, zina, riba, dan kemaksiatan bisa dilegalkan jika disahkan sistem.

3. Soal Tujuan Hidup
Islam:
• Tujuan hidup adalah mencari ridha Allah.
Sekularisme:
• Tujuan hidup adalah kebahagiaan materi dan kebebasan individu.
Perbedaan ini melahirkan perbedaan peradaban.

IV. Bahaya Aqidah Sekuler

1. Mengikis Tauhid secara Perlahan
Sekularisme tidak selalu menyerang agama secara frontal. Ia menggeser peran agama sedikit demi sedikit hingga agama hanya simbol budaya.
Lama-kelamaan:
• Syariat dianggap kuno,
• Ulama dianggap penghalang kemajuan,
• Hukum Allah dianggap tidak relevan.
Ini adalah bentuk pelemahan tauhid dalam kehidupan.

2. Melahirkan Krisis Moral
Ketika standar moral tidak lagi wahyu, maka:
• Pergaulan bebas dianggap wajar,
• Riba dianggap kebutuhan ekonomi,
• Korupsi dianggap budaya.
Allah telah mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)
Kerusakan itu lahir dari sistem yang memisahkan Tuhan dari hukum.

3. Menjadikan Agama Sekadar Ritual
Sekularisme mengizinkan:
• Shalat,
• Puasa,
• Haji,
Tetapi menolak:
• Hukum pidana Islam,
• Sistem ekonomi syariah menyeluruh,
• Tata kelola negara berbasis wahyu.
Agama dipersempit menjadi spiritualitas pribadi.
Padahal Islam adalah sistem hidup.

V. Perspektif Ideologis dan Sufistik
Secara ideologis, sekularisme adalah aqidah alternatif yang menempatkan akal manusia sebagai sumber hukum tertinggi.
Secara sufistik, sekularisme menumbuhkan:
• Cinta dunia,
• Ketergantungan pada materi,
• Hilangnya rasa muraqabah kepada Allah.

Hati yang terjangkit sekularisme akan:
• Lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan iman,
• Lebih takut pada opini publik daripada murka Allah.

VI. Jalan Keluar: Mengokohkan Aqidah Islam

Menghadapi arus sekularisme tidak cukup dengan emosi. Harus dengan:
1. Penguatan tauhid secara mendalam.
2. Pendidikan berbasis aqidah.
3. Kesadaran bahwa Islam adalah sistem hidup.
4. Keteladanan ulama dan dai yang konsisten.

Sebagaimana ditegaskan oleh para pemikir Islam seperti Taqiuddin an-Nabhani, aqidah Islam adalah aqidah siyasiyyah wa ruhiyyah — spiritual sekaligus politik.

Penutup: Memilih Jalan

Aqidah Islam dan aqidah sekuler tidak mungkin dipadukan sepenuhnya. Salah satunya akan mendominasi.
Jika kita menerima sekularisme, maka Islam akan dipersempit.
Jika kita mengokohkan tauhid, maka kehidupan akan kembali tunduk pada wahyu.
Pertanyaannya bukan:
Apakah kita Muslim?
Tetapi:
Apakah Islam menjadi asas kehidupan kita?

Semoga Allah menjaga aqidah kita, keluarga kita, dan umat ini dari 
pemikiran yang menjauhkan manusia dari hukum dan cahaya-Nya.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual. Akademisi. Spiritual Motivator dan Konsultan Pendidikan dan SDM)

Opini

×
Berita Terbaru Update