Pendahuluan: Iman Bukan Sekadar Pengakuan
TintaSiyasi.id -- Di zaman ketika agama sering direduksi menjadi simbol dan identitas sosial, kita perlu kembali kepada fondasi agung yang ditegaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah. Salah satunya adalah pernyataan tegas dari Ali Jum'ah bahwa amal adalah syarat kesempurnaan iman, dan siapa yang dengan sengaja menentang syariat atau meragukan perkara pokok agama, maka ia jatuh pada kekufuran.
Pernyataan ini bukan sekadar fatwa hukum. Ia adalah alarm ruhani bagi umat yang mulai memisahkan iman dari amal, dan spiritualitas dari syariat.
I. Hakikat Iman dalam Perspektif Aqidah
Dalam manhaj Ahlus Sunnah, iman terdiri dari:
1. Pembenaran dalam hati (tashdiq)
2. Pengakuan dengan lisan (iqrar)
3. Amal dengan anggota badan
Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Al-Qur’an berulang kali menggandengkan iman dan amal saleh. Frasa: “Alladzina amanu wa ‘amilus shalihat”
bukan kebetulan redaksional. Ia adalah pesan teologis bahwa iman tidak pernah berdiri sendiri. Amal adalah manifestasi konkret dari keimanan.
Iman tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Ia mungkin hidup, tetapi belum memberikan keberkahan.
II. Amal sebagai Tajalli (Manifestasi) Iman
Dalam perspektif tasawuf yang lurus, amal bukan hanya kewajiban hukum, tetapi jalan penyucian jiwa.
Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa amal lahiriah membentuk struktur batin. Shalat yang khusyuk melunakkan hati. Puasa mengendalikan syahwat. Zakat membersihkan cinta dunia.
Iman adalah cahaya.
Amal adalah pancaran cahaya itu dalam kehidupan.
Jika cahaya itu tidak memancar, berarti ada kabut dalam hati.
Karena itu, para salaf tidak pernah memisahkan antara dzikir dan jihad, antara ibadah personal dan komitmen sosial.
III. Batas Tipis antara Dosa dan Kekufuran
Di sinilah letak kehati-hatian teologis.
Seseorang yang berbuat dosa karena lemah masih berada dalam lingkup iman. Namun berbeda dengan orang yang:
Mengingkari kewajiban yang telah pasti
Meragukan keharaman yang telah disepakati
Menolak hukum Allah karena tidak setuju
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 65: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan…”
Ayat ini menegaskan bahwa ketundukan total kepada hukum Rasul adalah syarat iman.
Menentang syariat secara sadar bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi pembangkangan akidah.
IV. Islam sebagai Aqidah Siyasiyyah wa Ruhiyyah
Islam bukan hanya agama ritual. Ia adalah sistem hidup.
Sebagaimana dijelaskan oleh Taqiuddin an-Nabhani, Islam adalah aqidah yang melahirkan sistem kehidupan. Artinya, iman harus menjelma dalam:
Sistem ekonomi yang halal
Tata keluarga yang syar’i
Kepemimpinan yang adil
Pendidikan yang berbasis wahyu
Jika iman hanya disimpan di hati, tetapi kehidupan diatur oleh hawa nafsu dan ideologi asing, maka iman itu belum sempurna.
V. Penyakit Zaman Modern: Spiritualitas Tanpa Syariat
Hari ini muncul narasi berbahaya:
“Yang penting hatinya baik.”
“Agama itu urusan pribadi.”
“Syariat sudah tidak relevan.”
Ini adalah bentuk sekularisasi halus.
Padahal, iman yang benar akan melahirkan ketundukan total.
Cinta kepada Allah bukan sekadar rasa haru dalam doa, tetapi kesiapan untuk tunduk pada aturan-Nya meskipun bertentangan dengan hawa nafsu.
VI. Amal sebagai Jalan Menuju Kesempurnaan Ruhani
Kesempurnaan iman tidak diraih dalam semalam. Ia adalah perjalanan.
Dari shalat yang lalai menuju shalat yang khusyuk
Dari sedekah terpaksa menuju sedekah ikhlas
Dari taat karena takut menuju taat karena cinta
Amal yang konsisten melahirkan istiqamah.
Istiqamah melahirkan ketenangan.
Ketenangan melahirkan ma’rifat.
Dan ma’rifat adalah puncak kesempurnaan iman.
Penutup: Iman yang Hidup, Bukan Iman yang Diam
Iman itu bukan slogan.
Ia adalah komitmen.
Ia bukan sekadar identitas KTP, tetapi orientasi hidup.
Siapa yang beriman, ia akan beramal.
Siapa yang mencintai Allah, ia akan tunduk. Siapa yang meragukan hukum-Nya, ia sedang menggoyahkan fondasi imannya.
Mari kita jadikan amal sebagai bukti cinta, syariat sebagai kompas hidup, dan iman sebagai cahaya yang menuntun setiap langkah.
Semoga Allah menjadikan iman kita bukan sekadar pengakuan, tetapi kesempurnaan yang bercahaya hingga kita menghadap-Nya.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Bekal Hidup Setelah Mati. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)