Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Al-Qur’an sebagai Surat Cinta Ilahi: Jalan Ideologis-Sufistik Menuju Kebangkitan Umat

Sabtu, 28 Februari 2026 | 05:48 WIB Last Updated 2026-02-27T22:48:59Z
TintaSiyasi.id -- (Refleksi atas QS. Qāf: 37 dan Nasehat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah)

Pendahuluan: Krisis Umat Bukan Krisis Informasi, Tetapi Krisis Hati
Umat hari ini tidak kekurangan mushaf.
Tidak kekurangan qari.
Tidak kekurangan kajian.
Tetapi kita kekurangan hati yang hadir.

Padahal Allah Swt., telah menegaskan dalam QS. Qāf ayat 37:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُۥ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى ٱلسَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia hadir menyaksikan.”

Ayat ini bukan sekadar seruan spiritual individual, tetapi manifesto ideologis Al-Qur’an tentang kebangkitan peradaban.

I. Tafsir Ideologis: Hati sebagai Pusat Peradaban
Para mufassir seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa “lahu qalb” bukan sekadar memiliki jantung biologis, tetapi qalbun hayy — hati yang hidup.
Hati yang hidup memiliki tiga karakter:
1. Peka terhadap kebenaran
2. Tunduk pada wahyu
3. Responsif terhadap peringatan
Peradaban Islam di masa salaf tidak dibangun pertama kali dengan senjata, tetapi dengan hati yang hidup oleh Al-Qur’an.
Generasi sahabat berubah bukan karena retorika politik, tetapi karena mereka merasa setiap ayat adalah sapaan langsung dari Allah kepada diri mereka.
Di sinilah letak dimensi ideologisnya:
Kebangkitan umat tidak dimulai dari sistem, tetapi dari hati yang kembali tunduk kepada wahyu.

II. Tafsir Sufistik: Hadir sebagai Hamba yang Diajak Bicara
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:
“Jika engkau ingin memperoleh manfaat dari Al-Qur’an, maka satukanlah hatimu ketika membaca dan menyimaknya, pasanglah telingamu, dan hadirlah layaknya orang yang diajak bicara oleh Sang Pemilik Kalam.”

Inilah maqam hudhur (kehadiran jiwa).
Dalam perspektif tasawuf, membaca Al-Qur’an tanpa kehadiran hati seperti menerima surat penting tetapi tidak pernah membukanya dengan kesadaran.
Al-Qur’an adalah:
• Surat dari Allah
• Pedoman hidup
• Cahaya bagi hati
• Energi perubahan
Namun, ia hanya bekerja pada hati yang sadar.

III. Tiga Pilar Tadabbur: Jalan Menuju Transformasi
QS. Qāf: 37 menyebut tiga syarat manfaat Al-Qur’an:
1. Memiliki Hati (Lahu Qalb)
Hati yang:
• Bersih dari kesombongan.
• Tidak dipenuhi penyakit hasad.
• Tidak keras karena maksiat.
Karena dosa mengeraskan hati.
Dan hati yang keras tidak mampu menyerap cahaya wahyu.

2.  Mendengar dengan Kesungguhan (Alqā as-Sam’)
Bukan sekadar mendengar suara merdu.
Tetapi:
• Mendengar makna.
• Merenungkan pesan.
• Menghubungkan ayat dengan kehidupan.
Hari ini banyak yang membaca cepat demi khatam, tetapi sedikit yang berhenti demi paham.

3.  Hadir dengan Kesadaran (Wa Huwa Syahīd)
Inilah inti revolusi spiritual.
Hadir berarti:
• Merasa diperintah ketika membaca ayat perintah.
• Merasa ditegur ketika membaca ayat larangan.
• Merasa dihibur ketika membaca ayat rahmat.
• Merasa diancam ketika membaca ayat azab.
Jika ayat tidak mengguncang jiwa, maka ada yang salah pada cara kita membaca.

IV. Al-Qur’an sebagai Fondasi Ideologi Tauhid
Secara ideologis, Al-Qur’an membangun tiga kesadaran:
1. Kesadaran Ketuhanan (Tauhid)
Bahwa hidup bukan milik kita, tetapi milik Allah.
2. Kesadaran Kehambaan
Bahwa kita bukan penguasa dunia, tetapi hamba yang diuji.
3. Kesadaran Akhirat
Bahwa dunia bukan tujuan, tetapi ladang.
Ketika tiga kesadaran ini hidup, maka lahirlah:
• Integritas.
• Kejujuran.
• Keadilan sosial.
• Kepemimpinan yang amanah.
Itulah mengapa kebangkitan umat selalu dimulai dari kembalinya interaksi mendalam dengan Al-Qur’an.

V. Penyakit Umat: Membaca Tanpa Merasa Disapa
Fenomena yang kita lihat:
• Al-Qur’an dibaca, tetapi akhlak tidak berubah.
• Ayat didengar, tetapi korupsi tetap terjadi.
• Tilawah rutin, tetapi hati tetap keras.
Mengapa?
Karena kita membaca sebagai pembaca, bukan sebagai hamba yang diajak bicara.
Padahal jika seorang kekasih menerima surat dari orang yang dicintainya, ia akan:
• Membacanya perlahan.
• Mengulanginya.
• Menangis karenanya.
Apalagi ini surat dari Rabb semesta alam.

VI. Revolusi Spiritual: Dari Tilawah Menuju Tadabbur
Umat ini membutuhkan revolusi tadabbur.
Bukan sekadar memperindah suara, tetapi memperindah jiwa.
Langkah praktisnya:
1. Membaca dengan perlahan.
2. Memahami arti setiap ayat.
3. Menghubungkan ayat dengan diri sendiri.
4. Berdoa setelah membaca ayat.
Karena Al-Qur’an bukan untuk diselesaikan, tetapi untuk mengubah.

VII. Dimensi Peradaban: Dari Hati ke Aksi
Ketika hati hidup oleh Al-Qur’an:
• Ulama menjadi bijak.
• Pemimpin menjadi adil.
• Pedagang menjadi jujur.
• Pemuda menjadi visioner.
• Keluarga menjadi sakinah.
Peradaban Islam dahulu berdiri bukan karena kekuatan materi, tetapi karena kekuatan hati yang ditempa wahyu.
Dan inilah makna terdalam QS. Qāf: 37.

Penutup: Jadilah Hamba yang Hadir
Wahai umat Muhammad Saw., jika engkau ingin berubah, jangan mulai dari dunia,
mulailah dari hatimu. Jika engkau ingin kebangkitan, jangan mulai dari sistem,
mulailah dari Al-Qur’an.

Satukan hatimu saat membaca.
Pasang telingamu saat mendengar.
Hadirkan jiwamu saat ayat dibacakan.

Karena sesungguhnya…

Al-Qur’an bukan sekadar kitab untuk dibaca,
tetapi kalam Allah yang menunggu untuk engkau jawab dengan perubahan hidup.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update