Kritik Imam al-Māwardī atas Dunia yang Memuja Ilmu tetapi Membunuh Hikmah
Pendahuluan: Peradaban Cerdas yang Kehilangan Nurani
TintaSiyasi.id -- Peradaban modern membanggakan diri sebagai peradaban ilmu. Universitas menjulang, jurnal ilmiah berlimpah, teknologi menembus batas ruang dan waktu. Namun satu pertanyaan mendasar jarang diajukan: mengapa peradaban yang berilmu justru kian brutal, rakus, dan kehilangan arah?
Imam al-Māwardī telah lama mengingatkan: Ilmu tanpa adab bukan kemajuan, melainkan percepatan menuju kehancuran. Dalam Adabud Dunyā wa ad-Dīn, beliau tidak berbicara tentang krisis teknologi, tetapi tentang krisis manusia—ketika ilmu terlepas dari kendali ruhani.
Ilmu yang Terlepas dari Adab: Ciri Peradaban yang Sakit
Menurut Imam al-Māwardī, adab adalah rem moral bagi akal. Ketika adab dicabut, akal berubah menjadi alat dominasi. Inilah wajah peradaban modern:
• Ilmu dijadikan komoditas pasar,
• Pengetahuan tunduk pada kepentingan industri dan kekuasaan,
• Kebenaran diukur dari manfaat pragmatis, bukan dari nilai hakiki.
Ilmu tidak lagi ditanya: apakah ini benar?
tetapi: apakah ini menguntungkan?
Inilah yang oleh al-Māwardī disebut sebagai kerusakan tujuan ilmu (fasād al-ghāyah).
Universitas Tanpa Adab: Pabrik Kepakaran, Bukan Kebijaksanaan
Dalam kacamata Imam al-Māwardī, ilmu seharusnya melahirkan:
• Hikmah,
• Akhlak,
• Tanggung jawab sosial.
Namun peradaban modern justru melahirkan:
• Kepakaran tanpa nurani,
• Gelar tanpa keteladanan,
• Intelektual yang takut pada kebenaran.
Banyak yang pandai menjelaskan keadilan,
namun bersekongkol dengan ketidakadilan. Banyak yang mengkaji etika,
namun diam di hadapan kezaliman.
Inilah ilmu yang kehilangan adab.
Ilmu sebagai Alat Kekuasaan: Pengkhianatan terhadap Amanah
Imam al-Māwardī memberi peringatan keras terhadap ulama dan cendekia yang menjadikan ilmunya alat legitimasi penguasa zalim. Dalam konteks modern, ini menjelma menjadi:
• Akademisi yang membenarkan perusakan alam atas nama pembangunan,
• Intelektual yang merasionalisasi ketimpangan ekonomi,
• Pakar agama yang menjual fatwa demi stabilitas palsu.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ
“Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan menyembunyikan kebenaran.”
(QS. Al-Baqarah: 42)
Menurut al-Māwardī, ilmu yang berkhianat lebih berbahaya daripada kebodohan, karena ia memberi pembenaran pada kerusakan.
Kesombongan Intelektual: Penyakit Utama Zaman Modern
Salah satu kritik paling tajam Imam al-Māwardī adalah terhadap kibr al-‘ilm—kesombongan yang lahir dari ilmu. Ini adalah penyakit laten peradaban modern:
• Meremehkan wahyu atas nama rasionalitas,
• Menganggap agama sebagai hambatan kemajuan,
• Menyucikan akal sambil menertawakan iman.
Padahal Allah ﷻ menegaskan:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fāṭir: 28)
Jika ilmu tidak melahirkan rasa takut kepada Allah, maka menurut al-Māwardī, itu bukan ilmu, melainkan tipu daya akal.
Ilmu yang Memutus Hubungan dengan Akhirat
Peradaban modern mendidik manusia untuk berpikir cepat, tetapi tidak untuk merenung dalam. Segalanya diarahkan pada:
• Produktivitas,
• Efisiensi,
• Kecepatan.
Namun Imam al-Māwardī mengingatkan:
ilmu yang tidak mengingatkan akhirat akan menipu pemiliknya.
Ilmu semacam ini melahirkan manusia:
• Pintar tetapi gelisah,
• Sukses tetapi hampa,
• Berkuasa tetapi takut kehilangan.
Inilah ilmu dunia yang memakan pemiliknya sendiri.
Adab Ilmu sebagai Jalan Perlawanan Peradaban
Di tengah krisis ini, gagasan Imam al-Māwardī justru menjadi manifesto perlawanan. Adab ilmu adalah:
• Penolakan terhadap komersialisasi kebenaran,
• Kritik atas netralitas palsu ilmu,
• Perlawanan sunyi terhadap hegemoni akal tanpa iman.
Adab mengembalikan ilmu kepada:
• Tujuan penciptaannya,
• Tanggung jawab sosialnya,
• Orientasi akhiratnya.
Penutup: Menghidupkan Kembali Ilmu yang Membebaskan
Peradaban tidak runtuh karena kekurangan ilmu, tetapi karena ilmu yang kehilangan adab.
Imam al-Māwardī mengajarkan bahwa:
Ilmu yang benar akan menundukkan pemiliknya kepada Allah,
bukan mengangkatnya di atas manusia lain. Jika peradaban ingin diselamatkan, maka ilmu harus:
• Dikembalikan kepada adab,
• Disucikan dari kesombongan,
• Dihadapkan kembali kepada akhirat.
Tanpa itu, kemajuan hanyalah ilusi,
dan peradaban modern hanyalah kebodohan yang dipoles dengan kecanggihan.
Dr. Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)