Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Adab Agama: Fondasi Peradaban dan Kunci Keselamatan Umat

Senin, 09 Februari 2026 | 03:14 WIB Last Updated 2026-02-08T20:14:19Z
Telaah Ideologis Kritis atas Pemikiran Imam Al-Mawardi dalam Kitab Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn

Pendahuluan: Krisis Umat Bukan Krisis Ilmu, tetapi Krisis Adab

TintaSiyasi.id -- Umat Islam hari ini tidak miskin dalil, tidak kekurangan lembaga pendidikan, dan tidak sepi dari simbol-simbol keagamaan. Namun, yang justru menganga adalah krisis adab agama. Agama ramai di lisan, tetapi sepi di akhlak. Syariat sering dikumandangkan, tetapi adabnya ditinggalkan.

Imam Al-Mawardi رحمه الله—seorang faqih, pemikir politik Islam, dan negarawan ulama—telah jauh-jauh hari memperingatkan bahwa keruntuhan umat bukan bermula dari lemahnya kekuatan musuh, melainkan dari rusaknya adab agama di dalam diri umat sendiri.

Dalam karya monumentalnya Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn, Al-Mawardi menegaskan satu prinsip besar:
Agama hanya akan tegak dengan adab, dan adab hanya hidup dalam jiwa yang tunduk kepada Allah.

Adab Agama: Bukan Etika Sosial, tetapi Disiplin Ideologis

Kesalahan fatal umat modern adalah mereduksi adab agama menjadi etika sopan santun. Dalam perspektif Imam Al-Mawardi, adab agama bukan sekadar moral individual, melainkan disiplin ideologis yang mengatur:
• orientasi hidup,
• cara berpikir,
• sikap terhadap kekuasaan,
• relasi sosial,
• hingga cara memandang dunia dan akhirat.
Adab agama adalah manifestasi iman dalam seluruh dimensi kehidupan, bukan hanya dalam ruang ibadah.

Pilar Pertama: Tauhid sebagai Akar Adab Agama

Imam Al-Mawardi menempatkan tauhid sebagai fondasi adab agama. Tauhid bukan hanya pengakuan teologis, tetapi kesadaran ideologis bahwa:
• hukum Allah lebih tinggi dari hukum manusia,
• ridha Allah lebih utama dari pujian publik,
• dan kebenaran tidak diukur oleh kekuasaan atau mayoritas.

Krisis adab agama hari ini bermula dari rusaknya tauhid praktis:
umat takut kehilangan jabatan, popularitas, dan akses kekuasaan, tetapi tidak takut kehilangan ridha Allah.

Pilar Kedua: Ketaatan yang Ikhlas, Bukan Ritualisme Kosong

Al-Mawardi mengkritik keras ketaatan yang berhenti pada simbol. Ibadah yang tidak melahirkan perubahan akhlak dan keberpihakan kepada kebenaran adalah ibadah yang kehilangan ruh adab agama.
Banyak orang rajin beribadah, tetapi lalai menjaga amanah dan keadilan.

Inilah penyakit umat hari ini:
ritualisme tanpa transformasi,
agama tanpa keberanian moral.

Pilar Ketiga: Menjaga Halal-Haram sebagai Bentuk Loyalitas kepada Allah

Dalam adab agama, kepekaan terhadap halal dan haram adalah indikator hidupnya iman. Al-Mawardi menegaskan bahwa:
• pelanggaran halal-haram bukan sekadar dosa personal,
• tetapi pembangkangan ideologis terhadap syariat Allah.

Ketika umat mulai menormalisasi riba, korupsi, manipulasi, dan kezaliman struktural atas nama “realitas”, saat itulah adab agama runtuh secara sistemik.

Pilar Keempat: Muraqabah—Kesadaran Diawasi Allah

Adab agama tidak bergantung pada kamera, regulasi, atau pengawasan manusia. Ia hidup dari muraqabah—kesadaran bahwa Allah selalu melihat.
Al-Mawardi menegaskan:
Orang yang memiliki muraqabah akan jujur meski sendirian, adil meski lemah, dan berani meski sendirian.

Hilangnya muraqabah melahirkan:
• ulama yang menjual fatwa,
• pejabat yang menjual amanah,
• dan dai yang menjual agama.

Pilar Kelima: Tawadhu’ Ilmiah dan Bahaya Kesombongan Agama

Salah satu kritik tajam Al-Mawardi adalah terhadap kesombongan berbasis ilmu dan agama. Ilmu seharusnya melahirkan takut kepada Allah, bukan superioritas moral.

Ketika agama dipakai untuk:
• menghakimi tanpa hikmah,
• merasa paling benar tanpa adab,
• dan memonopoli surga,
maka agama telah kehilangan adabnya dan berubah menjadi alat konflik.

Pilar Keenam: Integrasi Ibadah dan Akhlak Sosial

Dalam pandangan Al-Mawardi, ibadah ritual dan akhlak sosial tidak boleh dipisahkan. Salat yang benar akan melahirkan kejujuran. Puasa yang sahih akan melahirkan empati. Haji yang mabrur akan melahirkan keadilan sosial.

Agama yang tidak membela:
• kaum lemah,
• korban kezaliman,
• dan ketidakadilan struktural,
adalah agama yang kehilangan dimensi adabnya.

Pilar Ketujuh: Keseimbangan Dunia dan Akhirat

Al-Mawardi menolak dua ekstrem:
1. materialisme yang melupakan akhirat,
2. spiritualisme sempit yang melarikan diri dari tanggung jawab dunia.

Adab agama melahirkan manusia seimbang:
• bekerja tanpa rakus,
• beribadah tanpa apatis,
• dan berjuang tanpa kehilangan akhlak.

Kritik Ideologis: Ketika Agama Kehilangan Adabnya
Hari ini, kita menyaksikan:
• agama diperalat kekuasaan,
• ulama dijadikan stempel legitimasi,
• dan dakwah direduksi menjadi industri popularitas.

Ini bukan kebangkitan Islam, tetapi dekadensi adab agama.

Imam Al-Mawardi mengingatkan:
Jika adab agama runtuh, maka agama akan berubah dari petunjuk menjadi alat.

Penutup: Adab Agama sebagai Jalan Kebangkitan Umat

Kebangkitan umat Islam tidak dimulai dari slogan, simbol, atau euforia, tetapi dari rekonstruksi adab agama:
• adab kepada Allah,
• adab kepada kebenaran,
• adab dalam ilmu,
• dan adab dalam kekuasaan.

Tanpa adab agama, ilmu menjadi senjata.
Tanpa adab agama, kekuasaan menjadi tirani.
Tanpa adab agama, dakwah kehilangan cahaya.

Semoga umat ini kembali kepada agama yang beradab, sehingga Islam hadir sebagai rahmat, keadilan, dan peradaban, bukan sekadar identitas.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update