Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Yuk Ngaji! Menempuh Jalan Islam dengan Ilmu, Amal, dan Cahaya Hati

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:30 WIB Last Updated 2026-01-09T16:30:41Z
TintaSiyasi.id -- Di tengah derasnya arus zaman yang dipenuhi hiruk-pikuk dunia, manusia modern sesungguhnya sedang mengalami kegelisahan yang mendalam. Banyak yang hidup serba cukup, namun jiwanya kosong. Banyak yang tampak beragama, tetapi hatinya jauh dari ketenangan. Inilah tanda bahwa persoalan terbesar manusia bukan pada kurangnya fasilitas hidup, melainkan hilangnya arah dan cahaya dalam menjalani kehidupan.

Di sinilah seruan sederhana namun sarat makna itu menemukan urgensinya:

Yuk Ngaji!

Bukan sekadar ajakan berkumpul dalam majelis, melainkan panggilan ruhani untuk kembali kepada Islam yang dipahami dengan benar, diamalkan dengan sungguh-sungguh, dan disyiarkan dengan penuh hikmah.

Ngaji: Jalan Kesadaran, Bukan Sekadar Pengetahuan

Ngaji bukan hanya aktivitas intelektual, bukan pula sekadar rutinitas keagamaan. Dalam perspektif sufistik, ngaji adalah perjalanan kesadaran jiwa—dari lalai menuju sadar, dari sombong menuju tunduk, dari merasa tahu menuju merasa butuh kepada Allah.

Ilmu yang sejati bukan yang membuat seseorang pandai berbicara, tetapi yang membuatnya takut berbuat dosa dan malu kepada Allah. Imam Al-Ghazali رحمه الله menegaskan bahwa ilmu yang tidak melahirkan rasa takut kepada Allah justru menjadi hujjah yang memberatkan pelakunya kelak di hadapan-Nya.

Berapa banyak orang berilmu, namun ilmunya tidak menghalangi dari kezaliman?
Berapa banyak yang menguasai dalil, namun hatinya kering dari keikhlasan?

Ngaji yang benar adalah ketika ilmu menumbuhkan kerendahan hati, bukan meninggikan ego.

Memahami Islam Secara Utuh: Syariat, Hakikat, dan Akhlak

Islam tidak diturunkan secara parsial, tetapi sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh. Memahami Islam dengan benar berarti menempatkan syariat, akidah, dan akhlak dalam satu kesatuan yang harmonis.

Syariat menjaga keteraturan lahiriah,
akidah menguatkan fondasi keyakinan,
dan akhlak memancarkan keindahan Islam dalam kehidupan nyata.

Para ulama arif billah mengingatkan: Syariat tanpa hakikat akan kering, dan hakikat tanpa syariat akan menyesatkan.

Maka kesalehan sejati bukan hanya tampak dalam banyaknya ibadah ritual, tetapi dalam:

Kejujuran saat sendirian,

Amanah saat dipercaya,

Kesabaran saat diuji,

Kerendahan hati saat dipuji.

Islam yang dipahami dengan benar akan melahirkan kedamaian, bukan permusuhan; kasih sayang, bukan kebencian; dan keteladanan, bukan caci maki.

Mengamalkan Islam: Menghidupkan Nilai-Nilai Ilahi dalam Kehidupan

Islam tidak diturunkan untuk diperdebatkan semata, tetapi untuk diamalkan dalam realitas kehidupan. Ibadah bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana pembentukan karakter.

Shalat melatih kedisiplinan dan kejujuran.
Puasa mendidik kesabaran dan pengendalian diri. Zakat membersihkan harta sekaligus jiwa. Dzikir menghidupkan hati yang mati oleh cinta dunia.

Namun semua itu akan kehilangan ruhnya jika tidak melahirkan perubahan akhlak. Sufisme Islam mengajarkan satu ukuran penting:

Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin lembut ia kepada sesama manusia.

Maka pertanyaan penting bagi kita bukan sekadar “sudahkah aku beribadah?”, tetapi: “sudahkah ibadah itu mengubah diriku menjadi lebih baik?”

Menyebarkan Islam: Dakwah dengan Akhlak dan Keteladanan

Islam tidak membutuhkan pembelaan yang kasar,
Islam membutuhkan wakil-wakil yang berakhlak mulia.

Dakwah paling efektif bukan pada kerasnya suara, tetapi pada konsistensi sikap dan keindahan perilaku. Rasulullah ﷺ tidak menaklukkan manusia dengan pedang, tetapi dengan akhlak yang hidup dalam setiap denyut kehidupannya.

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Menyebarkan Islam berarti menghadirkannya dalam:

Etika bermuamalah,

Kejujuran dalam pekerjaan,

Keadilan dalam keputusan,

Kasih sayang dalam pergaulan.

Inilah dakwah sunyi yang paling dalam pengaruhnya.

Ngaji sebagai Jalan Panjang Menuju Ma’rifat

Ngaji bukan proyek sesaat, bukan pula sekadar tren religius. Ia adalah jalan panjang menuju ma’rifatullah—mengenal Allah dengan hati yang bersih dan jiwa yang tunduk.

Setiap ayat Al-Qur’an adalah cermin,
setiap ilmu adalah amanah,
dan setiap majelis adalah undangan Allah agar kita pulang dari kelalaian.

Pulang dari kesombongan menuju kehambaan.
Pulang dari cinta dunia menuju cinta akhirat.
Pulang dari merasa hebat menuju merasa bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Penutup: Yuk Ngaji, Yuk Berbenah

Mari kita jawab seruan ini dengan kejujuran hati:

Yuk Ngaji!
Agar Islam tidak berhenti di identitas, tetapi hidup dalam kepribadian.
Agar iman tidak hanya di lisan, tetapi berakar kuat di hati.
Agar dakwah tidak sekadar kata-kata, tetapi nyata dalam akhlak dan karya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang terus belajar, terus berbenah, dan terus berjalan menuju-Nya dengan ilmu yang bermanfaat, amal yang ikhlas, dan hati yang penuh cinta kepada-Nya.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
(Penulis, Akademisi, Konsultan Pendidikan dan SDM, Coach Pemgusaha Hijrah)

Opini

×
Berita Terbaru Update