TintaSiyasi.id -- Genap 102 tahun kaum Muslim di seluruh dunia hidup tanpa naungan khilafah. Pada tanggal 3 Maret 1924/28 Rajab 1342 H Inggris melalui anteknya, Mustafa Kemal Ataturk, berhasil menghasut sebagian rakyat dan tokoh Turki untuk mengabolisi khilafah.
Saat itu kaum Muslim sudah mengalami kemerosotan dalam pemikiran Islam. Mereka sudah dipecah-belah dengan paham nasionalisme. Kepemimpinan Khilafah Utsmaniyah kala itu pun sudah lemah. Akibatnya, Khilafah tidak sanggup menghadang makar Mustafa Kemal Ataturk. Akhirnya, Majelis Agung Nasional Turki resmi membubarkan Kekhalifahan.
Ketika Khilafah Islamiyah lenyap, hilang pula perisai yang melindungi umat. Karena itu pembubaran Khilafah Islamiyah adalah bencana besar untuk Dunia Islam. Tanpa Khilafah, berbagai krisis melanda tanpa bisa dihentikan. Umat kehilangan pelindung dan pembela mereka. Tanpa Khilafah, kehormatan, harta dan darah umat ditumpahkan dengan murah oleh Barat.
Penjajahan di Dunia Islam merajalela. Keruntuhan Khilafah menyebabkan negara-negara Barat leluasa menjajah negeri-negeri Muslim. Mereka bak kawanan anjing hutan yang mencabik-cabik hewan ternak yang kehilangan penjaganya. Negara-negara Barat seperti Amerika, Israel, Inggris, Prancis, dan Jerman meluaskan wilayah jarahan mereka mulai dari Timur Tengah, Asia hingga Afrika. Mereka merampok harta kekayaan alam negeri jajahannya, Mereka juga bertin-dak kejam terhadap kaum Muslim.
Tanah Palestina dikuasai oleh zionis Yahudi. Ketika Khilafah masih tegak, tidak ada keberanian kaum zionis maupun Inggris untuk merebut tanah Palestina. Wahai kaum Muslim, menerapkan hukum-hukum Allah dan menegakkan Khilafah adalah kewajiban nyata. Para ulama telah menyebut Khilafah sebagai perkara yang telah dipahami urgensinya (ma'lûm min ad-dîn bi adh-dharûrah). Menjalankan syariah dalam institusi Khilafah adalah pembuktian ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT.
Bersegera menegakkan Khilafah sebagai perisai umat adalah kewajiban. Al-Qadhi Al-'Alim Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah mengatakan bahwa berdiam diri dari upaya menegakkan Khilafah adalah salah satu kemaksiatan terbesar. Sebabnya, ketiadaan Khilafah menyebabkan hukum-hukum Islam terabaikan seperti di bidang muamalah, pidana, jihad, politik dan kenegaraan.
Wajib kita mengangkat seorang khalifah yang kita baiat untuk menjalankan syariah Islam dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulLâh, dalam sebuah riwayat yang dituturkan oleh Muhammad bin 'Auf bin Sufyan al-Hamashi, menyatakan;
الْفِتْنَةُ إِذَا لَمْ تَكُنْ يَقُومُ بِأَمْرِ النَّاسِ
"Fitnah (bencana) akan muncul jika tidak ada Imam (Khalifah) yang mengatur urusan manusia." (Abu Ya'la al-Farra'i, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hlm.19)
Khilafah sesungguhnya telah menjadi isu global, khususnya di Dunia Islam.
Opini tentang menegakkan kembali Khilafah semakin meluas di seantero dunia. Namun tantangannya juga banyak. Mengapa Barat menolak tegaknya kembali Khilafah?
Barat tahu persis, satu-satunya kekuatan yang bakal menghentikan hegemoni dan dominasi Barat atas dunia ini adalah Islam. Bukan sembarang Islam, tentu saja, melainkan Islam politik melalui tegaknya kembali Khilafah. Bagaimana mereka bisa tahu? Karena Barat juga mengkaji Islam.
Banyak pusat studi Islam di Barat didirikan di berbagai universitas maupun lembaga riset resmi milik negara. Di dalamnya terdapat banyak ahli Islam, tetapi bukan Muslim. Dari hasil pengkajian, mereka tahu di mana letak kekuatan umat Islam dunia. Sejarah dunia juga membuktikan, Khilafah telah berhasil mewujudkan sebuah peradaban hebat berbilang abad lamanya saat Barat justru hidup dalam keterbelakangan.
Setelah pada tahun 1924 berhasil menghancurkan Khilafah Utsmani, mereka juga tahu bahwa umat saat ini tengah berjuang keras mewujudkan kembali payung Dunia Islam itu. Mereka tahu, jika Khilafah tegak, berakhirlah dominasi dan hegemoni mereka, khususnya atas Dunia Islam. Berakhir pula masa pesta-pora mereka mengeruk keuntungan SDA dan seluruh potensi ekonomi negeri-negeri Muslim. Berakhir keleluasaan mereka membodohi dan menzalimi umat Islam, serta menundukkan Dunia Islam di bawah kekuasaan mereka. Berganti, merekalah yang harus tunduk pada Dunia Islam. Tentu itu semua tak mereka kehendaki.
Maka dari itu, mereka akan berusaha menghalangi kebangkitan Islam. Raksasa Dunia Islam yang kini sedang lelap tertidur harus dibuat tetap tidur. Kalau bisa, untuk selamanya.
Dalam sejarahnya, Islamlah agama yang sangat bisa menjaga pluralitas itu. Lihatlah apa yang terjadi di sepanjang peradaban Islam. Hidup damai sejahtera orang-orang non-Muslim. Ketika Islam menguasai Spanyol, disebut Espanyol in three religions, karena selama lebih dari 700 tahun di bawah Islam, hidup damai sejahtera orang Yahudi dan Nasrani. Karen Armstrong menulis, ‘The jews enjoyed their golden age Dalam sejarahnya, Islamlah agama yang sangat bisa menjaga pluralitas itu. Lihatlah apa yang terjadi di sepanjang peradaban Islam. Hidup damai sejahtera orang-orang non-Muslim. Ketika Islam menguasai Spanyol, disebut Espanyol in three religions, karena selama lebih dari 700 tahun di bawah Islam, hidup damai sejahtera orang Yahudi dan Nasrani. Karen Armstrong menulis, ‘The jews enjoyed their golden age under Islam in Andalusia.”under Islam in Andalusia.”
Namun, semua kebaikan itu hancur ketika Katolik menguasai Spanyol. Bukan hanya Muslim, orang-orang Yahudi pun terusir dari wilayah yang telah memberikan rasa aman berbilang abad lamanya. Kemudian, lagi-lagi mereka mendapatkan tempat perlindungan dari umat Islam. Muhammmad al-Fatih-lah yang melakukan putusan penting itu. Melindungi mereka di Bukit Galata, Istanbul. Di sana mereka beranak-pinak, hingga sekarang.
Sejarah kegemilangan Khilafah sudah demikian masyhur, bahkan di antara para sejarahwan non-Muslim di antaranya Will Durant. Dalam The Story of Civilization ia menulis, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.
Tanda-tanda persatuan global dan kerinduan tegaknya kembali Khilafah semakin membuncah. Di antara yang paling nyata adalah meningkatnya dukungan umat untuk penerapan syariah secara kaaffah. Hasil polling yang dilakukan oleh Pew Research Center yang berpusat di Washington DC di lebih dari 30 negeri Muslim menunjukkan hal itu. Mayoritas penduduk di negeri Muslim menginginkan penerapan syariah. Di antaranya, 64% Muslim di Indonesia, 86% di Malaysia, lalu lebih dari 99% Muslim Afganistan.
Optimisme bakal tegak kembali Khilafah tentu tak bisa dilepaskan dari nasrulLaah atau pertolongan llah. NasrulLaah itu merupakan qadha atau ketentuan Allah yang tidak mungkin kita ketahui dimana kapan dan kepada siapa akan diberikan.
Penjajahan terhadap umat Islam yang terjadi di berbagai tempat menjadi bukti lemahnya umat jika hidup tanpa pelindung yang nyata. Ketika dijelaskan bahwa pelindung itu tidak lain adalah Khilafah, dan Khilafah pula satu-satunya yang mampu menyatukan umat sehingga kekuatan Islam bisa diwujudkan, menjadi mudah diterima. Apalagi Khilafah memang telah pernah ada di masa kejayaan Islam. Dengan upaya yang sungguh-sungguh dan konsisten, di waktu yang tidak lama insha Allah cita-cita itu akan tercapai.
Maka dari itu, penting sekali memahamkan atau meluruskan pemahaman mereka secara terus-menerus. Diperlukan kerja lebih keras, lebih cerdas dan lebih ikhlas untuk menjelaskan ide ini kepada umat. Dengan begitu makin banyak umat yang memahami ide penting ini. Halangan pasti akan menghadang. Namun, begitulah perjalanan dakwah. Memang tidak pernah mulus. Selalu saja ada ancaman, tantangan, hambatan, gangguan, dan rintangan (ATHGR).
Teruslah melangkah meski duri tajam menusuk kaki. Di hadapan, masa depan Islam gemilang kan menanti. Tak peduli orang kafir, orang musyrik dan munafik terus membenci. Demikianlah janji Allah, pasti akan terjadi. Allahu Akbar.
Wallahu a'lam bishshawab.[]
Oleh: Imanda Amalia, S.K.M., M.P.H.
(Dosen dan Founder @rumahsyariahinstitute)