TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Kegelisahan tentang Rezeki dan Kerapuhan Keyakinan
Di antara kegelisahan paling mendasar dalam kehidupan manusia adalah persoalan rezeki. Tidak sedikit orang yang telah bekerja keras, berjuang tanpa lelah, tetapi tetap diliputi kecemasan akan masa depan. Seakan-akan hidup ini sepenuhnya berada di bawah kendali manusia, padahal hakikatnya tidak demikian.
Islam hadir untuk meluruskan cara pandang ini. Bahwa rezeki bukanlah semata hasil kecerdikan, jaringan atau kerja keras manusia, melainkan ketetapan Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Oleh karena itu, wahai saudaraku, rezeki tidak pernah salah alamat dan tidak pernah tertukar.
Allah Swt., berfirman:
“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6).
Ayat ini merupakan jaminan Ilahi, bukan sekadar penghiburan psikologis.
Allah adalah Sumber Rezeki yang Hakiki
Kesalahan mendasar manusia adalah ketika ia menggantungkan hatinya kepada makhluk:
• Menganggap jabatan sebagai pemberi rezeki
• Menganggap manusia sebagai penentu nasib
• Menganggap kekuasaan dan relasi sebagai sumber kehidupan
Padahal semua itu hanyalah sarana, bukan sumber yang sesungguhnya.
Allah Swt., menegaskan dengan sangat jelas:
“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58).
Keyakinan ini melahirkan ketenangan. Sebab seorang mukmin tidak akan putus asa ketika satu pintu tertutup, karena ia yakin Allah memiliki pintu-pintu lain yang tidak pernah terbayangkan oleh manusia.
Rezeki Tidak Pernah Tertukar: Prinsip Akidah yang Menenangkan
Apa yang telah Allah tetapkan untuk seorang hamba tidak akan diambil oleh hamba lain, dan apa yang bukan menjadi bagiannya tidak akan menetap meski dikejar dengan cara apa pun.
Rasulullah Saw., bersabda:
“Sesungguhnya Ruhul Qudus membisikkan ke dalam hatiku bahwa seseorang tidak akan mati sebelum rezekinya disempurnakan.”
(HR. Abu Nu‘aim).
Hadis ini menegaskan bahwa:
• Rezeki tidak bisa disalip
• Rezeki tidak bisa dipercepat dengan maksiat
• Rezeki tidak bisa ditunda oleh kebencian manusia
Keyakinan ini bukan untuk melemahkan ikhtiar, tetapi untuk membersihkan hati dari kecemasan berlebihan dan iri hati sosial.
Ikhtiar dan Tawakal: Dua Sayap Kehidupan
Islam tidak pernah mengajarkan fatalisme. Keyakinan terhadap takdir rezeki harus berjalan seiring dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh dan bermartabat.
Allah Swt., berfirman:
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya.”
(QS. Al-Mulk: 15).
Ikhtiar adalah kewajiban, sedangkan hasil adalah wilayah ketuhanan. Tugas manusia adalah menjemput rezeki dengan cara halal, sementara Allah yang akan menentukan kadar, waktu, dan keberkahannya.
Allah yang Meng-Kaya dan Memampukan
Kekayaan dalam Islam tidak selalu identik dengan banyaknya harta, tetapi dengan kecukupan dan ketenangan hati.
Rasulullah Saw., bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Allah bukan hanya memberi rezeki, tetapi juga:
• Memberi kemampuan mengelola rezeki
• Memberi kekuatan menjaganya
• Memberi hikmah untuk menikmatinya
Tanpa pertolongan Allah, harta justru dapat menjadi sumber kegelisahan dan kehancuran.
Takwa sebagai Magnet Rezeki dan Keberkahan
Al-Qur’an mengaitkan rezeki bukan dengan kepandaian semata, tetapi dengan takwa.
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. Ath-Thalaq: 2–3).
Takwa melahirkan:
• Kejujuran dalam usaha
• Kesabaran dalam proses
• Keikhlasan dalam menerima
• Keberkahan dalam hasil
Rezeki yang disertai takwa mungkin tampak sederhana, tetapi menenangkan, membersihkan, dan menyelamatkan.
Penutup: Menenangkan Hati dengan Keyakinan kepada Allah
Wahai saudaraku,
Tenangkanlah hatimu. Apa yang menjadi bagianmu sedang menuju kepadamu dengan cara dan waktu terbaik menurut Allah. Jangan iri pada rezeki orang lain, karena Allah membagi rezeki sekaligus membagi kemampuan, kesabaran, dan beban hidup.
Orang yang paling tenang bukanlah yang paling banyak hartanya, tetapi yang paling kuat keyakinannya kepada Allah.
“Cukuplah Allah sebagai Penolong, dan Dia sebaik-baik Pelindung.”
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang yakin, sabar, dan bertawakal, serta mencukupkan kita dengan rezeki yang halal, baik, dan penuh keberkahan.
Allahumma ikfina bihalalika ‘an haramika, wa aghnina bifadhlika ‘amman siwak.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis 38 Judul Buku, Akademisi, Konsultan Pendidikan dan SDM, Coach Pengusaha Hijrah