Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Teror, Arogansi Kekuasaan, dan Hilangnya Ruh Muhasabah

Minggu, 04 Januari 2026 | 11:34 WIB Last Updated 2026-01-04T04:34:46Z
TintaSiyasi.id -- Dalam sejarah manusia, teror tidak pernah lahir dari kekuatan iman dan kebesaran jiwa, melainkan dari ketakutan yang disamarkan dalam wajah kekuasaan. Teror, baik berupa ancaman, intimidasi, pembungkaman kritik, maupun kekerasan simbolik adalah tanda paling nyata dari arogansi yang alergi terhadap kebenaran.

Ia muncul ketika kritik dianggap makar, nasihat dipersepsikan sebagai musuh, dan muhasabah lil hukam dipandang sebagai ancaman stabilitas. Padahal, dalam pandangan Islam, kritik yang jujur adalah oksigen peradaban, dan muhasabah adalah denyut kehidupan kekuasaan yang sehat.

Teror: Ketika Kekuasaan Kehilangan Cermin

Kekuasaan sejatinya adalah amanah. Namun, ketika amanah berubah menjadi berhala, maka yang dijaga bukan lagi kebenaran, melainkan citra. Pada titik inilah teror digunakan sebagai alat.

Mengapa?
Karena orang yang arogan tidak membutuhkan kebenaran, ia hanya membutuhkan pengakuan. Kritik membongkar kepalsuan, sementara muhasabah menelanjangi kebohongan batin. Maka, teror dijadikan tameng agar kekuasaan tampak kokoh, meski sejatinya rapuh dari dalam.

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa kerusakan paling berbahaya bukanlah pada sistem, tetapi pada hati manusia yang memegang sistem itu. Ketika hati dikuasai kesombongan (kibr), maka kekuasaan berubah menjadi alat penindasan, bukan pelayanan.

Muhasabah Lil Hukam: Nafas Profetik yang Dilupakan

Islam tidak mengenal kekuasaan tanpa koreksi. Sejak awal, nabi dan para sahabat menjadikan muhasabah sebagai penjaga iman kolektif. Rasulullah Saw., menegaskan:

“Sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalim.”

Ini bukan ajaran pemberontakan, melainkan ajaran keberanian moral. Muhasabah bukan untuk meruntuhkan, tetapi untuk meluruskan. Kritik bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menyelamatkan.

Ketika muhasabah dibungkam, maka kezaliman tumbuh tanpa pengawasan. Dan ketika teror dijadikan alat kekuasaan, sesungguhnya itu adalah pengakuan bahwa keadilan telah kehilangan tempatnya.

Arogansi: Penyakit yang Menutup Pintu Hidayah

Arogansi membuat seseorang:

Tidak mau mendengar

Tidak mau belajar

Tidak mau dikoreksi

Dan akhirnya tidak mau tunduk pada kebenaran

Inilah sebabnya mengapa teror selalu lahir dari jiwa yang kering dari takwa. Sebab orang yang bertakwa justru takut pada doa orang yang dizalimi, bukan pada kritik yang jujur.

Umar bin Khattab ra. berkata:
“Tidak ada kebaikan pada kalian jika tidak mau menasihatiku, dan tidak ada kebaikan padaku jika tidak mau menerima nasihat kalian.”

Inilah standar kepemimpinan ruhani: rendah hati di hadapan kebenaran, meski tinggi dalam jabatan.

Refleksi untuk Umat

Umat yang sadar bukan umat yang diam dalam ketakutan, tetapi umat yang bijak dalam menyuarakan kebenaran.

Pemimpin yang kuat bukan yang menebar teror, tetapi yang mampu menundukkan egonya sendiri.

Dan negara yang kokoh bukan yang membungkam kritik, melainkan yang menjadikan muhasabah sebagai budaya.

Allah Swt., berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Perubahan selalu dimulai dari kesadaran, dan kesadaran lahir dari keberanian bercermin.

Penutup

Teror adalah tanda kekuasaan yang kehilangan arah.
Sedangkan muhasabah adalah cahaya yang mengembalikan orientasi.

Semoga kita semua, baik sebagai pemimpin maupun rakyat dianugerahi hati yang lembut menerima nasihat, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kebijaksanaan menjaga adab dalam perbedaan.

Karena kekuasaan yang takut pada kritik sejatinya sedang berjalan menuju kehancurannya sendiri, sementara kekuasaan yang tunduk pada kebenaran sedang berjalan menuju ridha Ilahi.

اللهم أرنا الحق حقًا وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلًا وارزقنا اجتنابه

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis, Akademisi. Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)


Opini

×
Berita Terbaru Update