"Kami minta kepada pemerintah, tolonglah segera
bangun hunian yang layak itu untuk kami. Kami sudah kehilangan rumah akibat
banjir bandang itu. Kalau kami ada hunian, bisa berkumpul kembali bersama
keluarga yang masih selamat, " ujarnya kepada TintaSiyasi.ID, Ahad
(21/12/2025).
Banjir bandang yang melanda Sumatera, tepatnya di tiga
provinsi terdampak parah mulai Aceh, Sumatera Utara, juga Sumatera Barat telah
menimbulkan kerugian bukan hanya bagi pemerintah, tetapi juga khususnya para
korban dari warga lokasi terdampak.
Warga tersebut mengaku, sangat tidak nyaman berada di pengungsian. “Salah satu
faktornya adalah kondisi pengungsian yang bercampur baur. Mereka juga hanya
diletakkan di tenda-tenda darurat serta untuk makan pun sangat susah,” jelasnya.
"Tidak nyaman sekali. Karena kan di tenda-tenda
itu semuanya berbaur. Gak bagus. Makan pun begitulah. Kadang cuma nasi aja gak
ada lauknya. Banyak sayuran busuk, kentang busuk, telur busuk karena mau di
masak di mana? Pakai kayu bakar, semuanya masih basah," ia melanjutkan.
Menurutnya, jika hunian itu dibangun segera maka warga
terdampak akan bisa memulai hidup yang baru dan bisa mencari nafkah lagi
seperti semula sehingga bisa menjalani hidup dengan layak.
Bukan hanya itu, warga juga tidak mempermasalahkan ke
daerah mana mereka akan direlokasikan. “Karena jika berada tetap di lokasi
bencana, masih menyimpan trauma mendalam dan rasa ketakutan,” bebernya.
"Banjir kan datang pagi. Saat itu memang
tiba-tiba setelah tiga hari berturut-turut hujan turun tak ada hentinya. Pas
banjir datang ternyata bawa kayu-kayu itu. Iya sampai sekarang masih ketakutan
dan merasa tidak aman, " imbuhnya lagi.
Pembalakan
Selanjutnya, warga tersebut menjelaskan terkait dengan
kayu gelondongan yang memenuhi desa Huta Nabolon. “Benar telah terjadi
pembalakan hutan di atas perbukitan,” jelasnya.
"Kalau saya katakan tidak ada penggundulan hutan,
berarti saya bohong. Kan kayu-kayu ini buktinya. Dari mana semua kayu-kayu ini
berdatangan kalau bukan dari
penggundulan hutan di atas sana," tegasnya lagi.
Ia meminta kepada pemerintah dan aparat agar memberi sanksi
kepada mereka yang terlibat dalam pembalakan hutan. “Karena yang menjadi
korbannya adalah warga desa sendiri,” lugasnya.
"Ya, harusnya kan tidak kejar-kejaranlah antara
pemerintah dan aparat dengan warga. Seharusnya disanksi mereka yang menggunduli
hutan. Dan masyarakat juga harusnya diberikan pemahaman hukum yang jelas
tentang penebangan hutan. Kan kita gak semua paham aturan negara ini,"
pungkasnya.[] M.Siregar
